Move On

Standard

Image

 

RT @valdyabara: If you had that one person who just vanished in order to move on from you, just so you know that person was into you that much

 

I remember the first time I was taught about this fact. A male best friend, told me this in order to console me when I was ranting to him about an ex boyfriend who instantly removed me from Facebook and unfollowed me on Twitter, merely two days after a break up.

I was pissed. I was hurt. I was disappointed.

I think it was more because of my ego. I just couldn’t accept him acting as if he doesn’t want to have anything to do with me anymore. 

But well, few days later, i moved on. I still followed him on Twitter for quite a while, until I finally unfollowed. No, I didn’t unfollow because it was too hard for me to bear his tweets. No, I merely unfollow just because what he says/tweets don’t really matter for me anymore.

 

But it was weird.

When I saw the quote, the person that popped up automatically into my head is not this ex. It’s a different ex. The one that still refuses to talk to me. 

I know he has moved on. He has a new girlfriend, and they looked quite happy. I am still hotter than the girlfriend (OK, I am a girl. I gotta have some vanity here), but hey, she’s the one getting the guy. She still wins. Or maybe she doesn’t. Maybe she’s the unlucky one. *AHAHAHAH i just can’t help throwing this in*  

I don’t know, a lot of part of me still hopes we can talk again. Not so we can rekindle the lost fire or whatever, but simply so we can finally be friends. But i know he is not that kind of guy. When we were dating, he also cut off ties with his ex girlfriend that he dated before me. He even told me stories about how one or two of his girlfriend became some sort of stalkers (the suddenly-i-found-her-in-my-bedroom-closet kind of stalker, or i-traveled-across-south-east-asia-and-she-sort-of-followed-me-by-visiting-the-same-locations-after-i-arrived-in-one-place kind of stalker).

OK I gotta be honest here.

Maybe I want to talk to him more because I am looking for an answer, rather than a friendship. Maybe these girls were also looking for answers too. And thankfully I haven’t been that desperate, to go that far while trying to find answers (oh people, please slap me if i do hahahah). 

I want to know what actually happened.

I want to know whether that was real.

I want to know whether I should categorize what we had as “something-to-remember” or as “oh-that-stupid-mistake-when-i-haven’t-known-better”.

Whether to remember him as a decent guy that I mistreated because I was occupied with my own insecurities, fears and issues (if this is the case, I shall feel guilty and I owe him a decent apology) or as oh-that-bastard-who-just-tried-to-get-into-my-pants-while-using-relationship-as-a-trap (if this is the case, I shall feel lucky and the next time I talked about him I am just gonna refer him as “yea-that-sneaky-bastard”)

Yes, a little more than a year later, I am still pondering on these questions.

 

His face still shows up sometimes, I have to admit. Memories of him still popped up (stupid? i know, right). But I have been trained very well to just ignore these.

Some part of me (the vain one, I suppose) secretly hopes that he doesn’t want to talk to me because he was into me that much. 

Ah. Even now when I write I know it’s very unlikely to happen. HA.

 

So, dear you, wherever you are (but you know I am in Singapore now hahahah) – hope we can talk again someday.

Yes. I am still waiting for that day. 🙂

 

*just ignore these posts. lately i have so many random thoughts and this is just one of them. 😀

Looking back

Aside

Image

Gara-gara baru add teman baru di Facebook, akhirnya jadi sedikit penasaran kira-kira apa ya yang ada di benak teman baru kalau dia iseng scroll down Facebook timeline saya dan melihat semua hal yang saya posting di sana, juga semua foto yang saya upload, maupun yang di-tag teman.

Thanks to Facebook kepo-ish policies, sekarang ngecek kehidupan teman di Facebook gampang banget. Tinggal scroll down, and everything will just load. Nggak ada lagi susah-susah cari link atau ngeklik berkali-kali untuk melihat kehidupan seseorang dua tahun yang lalu. Sekarang tinggal scroll down, cuy!

So yeah, i scrolled down.

Foto-foto terbaru tentunya foto saya dengan teman-teman di berbagai event Couchsurfing Singapura. Yang nggak jauh dari piknik, house parties, pool parties dan island parties. Agak banyak foto pas megang botol bir. Hahahahah. To be honest, i think I drink a lot more here than I was in Jakarta. Baru mulai minum bir itu pas mulai kerja di agensi iklan. Itu juga nggak sampai seminggu sekali. Di sini? Pertama kalinya kena mild hangover ya Sabtu dua minggu yang lalu, setelah 2 gelas vodka coke, 3 gelas caipirinha dan 1 gelas vodka cranberry malam sebelumnya. Ngerasain namanya bangun-bangun sakit kepala, dan pas keluar rumah (untuk ke gereja .. oh my life is a series of contradiction) rasanya pengen pake kacamata item aja dan males ngobrol sama siapa-siapa.

Image

Here I learned to enjoy wine. Found out I hate cider because it’s too gassy. Learned that I like sweet drinks (oh I am such a girl), and Jagermeister is such a foul-tasting drink. Learned how to make my own drinks (duh dulu nyampur vodka sama coke aja nggak bisa, sekarang udah tahu caranya bikin caipirinha). Tuh kan di sini pembelajarannya nggak jauh-jauh sama alkohol. Apa jadinya kalau ibunda tercinta baca bahwa anaknya sekarang mabu’-mabu’-an. HAHAHAH.

Image

Anyway, I scrolled down some more.

Mulai melihat beberapa snapshots dari hidup di agensi. Foto-foto banyak gaya dengan teman-teman dari dua agensi iklan cukup ngetop di Jakarta. Menikmati jadi Account Manager sebuah brand cukup oke di Indonesia, yang duitnya tak berseri, karena campaign-nya banyak, dan setiap proses melibatkan para ahli di bidangnya (Dimas Djayadiningrat untuk syuting video musik, Maia untuk komposer jingle dan model, Ersamayori untuk model iklan, Eko Supriyanto – penari latarnya Madonna sebagai pengatur koreografi, Ipang Wahid sebagai sutradara iklan).

Image

Image

Sepertinya masa-masa di agensi adalah masa-masa saya juga mulai  ‘menikmati hidup’ — mulai bergaul di Jakarta, mulai mampu nongkrong cantik dan hadir ke acara-acara yang didatangin para ekspat karena kebetulan punya teman ekspat (di gereja. See. Another contradiction). Mungkin salah satu momen paling berkesan adalah diajak seorang marinir AS baik hati untuk makan siang di Negev, dan didatengin sama si ganteng Mike Lewis dan Tamara Blezynsky ke meja karena ternyata teman makan siang saya adalah teman mereka. Juga momen lain dimana saya ‘membeli’ seorang cowok Kanada ganteng di sebuah lelang lelaki amal di hari Halloween (yang saking gantengnya, pas ketemu dia makan siang bareng pun dia seperti berkilauan mempesona diterpa sinar matahari. HAHAHAH). Mulai bisa liburan ke tempat-tempat jauh seperti Flores dan Kalimantan yang sebelumnya tak terpikirkan bisa ke sana.

Image

I scrolled even further down.

Random glimpses of life starts to appear.

Liburan fun dengan sahabat-sahabat, ditambah dokumentasi foto yang banyak gaya.

Image

Image

Image

Konser amal dimana saya bernyanyi dan menari dengan teman-teman C-Choir.

Image

Image

Konser amal, fun day dan kunjungan ke panti asuhan / panti asuhan anak cacat bersama teman-teman Helping Hands Project.

Image

Image

Jadi penerima tamu / tamu di pesta pernikahan teman baik.

Image

Image

I just realized that I have had an AMAZING life, with AMAZING people.

I have had a great, highly-blessed life – dan saya tak malu Facebook timeline saya dicek sama siapa saja.

There are days when my hair was hitting puberty (long hair … WHAT WAS I THINKING?!) and I prolly didn’t look good in every photos — but I feel blessed I was there, in the picture, doing whatever things I did in the picture.

None of those pictures ashamed me. In the contrary, I feel so lucky to be able to lead such a diverse life. Perhaps people start to see through my Facebook timeline and they think that they can just put me in one of their boxes of stereotypes — but probably they scroll down, and scroll again, and scroll again, and realize that they really can’t.

I don’t belong to any stereotypes, and I am thankful for that.

My life is rich of experiences, and I definitely have a lot of things I can share later to my kids or grandkids. I prolly can be one of the cool moms, or cool nanas, cause I have a lot of stories I can share.

Not to mention, my daughter will not be able to fool me with her love life — cause it’s not like I am a good, obedient kid who does not know how to handle her men. HAHAHAHA.

Anyway, try to look back. Scroll down your Facebook timeline.

Enjoy that realization that :

You have tried this. Or that.

You have met these people, or those people.

You have been here. Or there.

and think,

Have you lived enough?

A Perfect Date, that was not a date.

Standard

 

So, how did you imagine a perfect first date?

Saya itu tipe-tipe perempuan yang kebanyakan nonton film/serial. Jadi kebayang tipe kencan pertama yang sempurna adalah seperti begini :

1. dua sejoli (halaaah) jalan di dermaga sambil ketawa-ketawa, makan eskrim dengan kaki bergantungan di tepi dermaga sambil ngobrol santai, atau

2. sejoli yang sama, jalan di taman sambil ngobrol santai, talking about nothing and everything, dan diakhiri dengan keduanya telentang di rumput sambil memandangi awan sore / bintang yang bertebaran di langit, atau

3. sejoli yang sama, jalan-jalan menyusuri bagian kota yang tua, dengan shophouse warna-warni di kiri kanan, mengamati toko, resto dan kafe unik di sana, dan diakhiri dengan makan malam di bagian teras restoran kecil berkarakter, diterangi lampu jalan ala tahun 1920-an, dan jalanan yang berlapis cobblestone, bukan aspal.

Tuh kan, sudah saya bilang, saya itu kebanyakan nonton TV dan serial. Hahahah.

Selama ini di Jakarta saya sudah menerima kenyataan bahwa kencan seperti itu agak sulit dilakukan. Kalaupun iya, harus agak niat dan maksa sedikit, mengingat udara Jakarta yang panas, debu dan asap dimana-mana, kawasan kota tua Jakarta yang tidak terawat, juga banyaknya mamang-mamang di sekitar yang siap manggil “Neng, neng ..” atau bersuit-suit menyebalkan.

Jadi memang kencan paling fool-proof itu ya, di mall. Atau di restoran mahal, mungkin termasuk di dalamnya resto yang terletak di atap gedung pencakar langit — sehingga kencan bisa sedikit lebih berkesan.

Nah, sejak pindah Singapura, saya kesenengan saat menyadari di negara ini banyak sekali settingan lokasi untuk kencan sempurna yang didambakan.

Ini beberapa contohnya :

1. Ann Siang Hill

Image

2. Botanic Gardens

Image

3. East Coast Park

Image

4. Duxton Hill

Image

See? See? I am not exaggerating, am I?

Di keempat lokasi di atas bisa banget nih melakukan kencan pertama sempurna seperti khayalan tadi. Ann Siang Hill dan Duxton Hill di malam hari merupakan daerah yang cantik dengan resto/kafe/bar yang beragam, beberapa di antaranya adalah restoran kecil yang penuh karakter, dimana tamu bisa makan dengan tenang sambil mengobrol.

I personally love these areas. To be honest, I fell in love with walking once again in Singapore. Iyalah, gimana nggak betah jalan, kalau suasananya menyenangkan seperti ini. Bahkan jalan kaki malam-malam dalam rangka mencari Burger King pun tidak terlalu terasa nelangsa.

Alright, the parks are human-made. Like almost everything else in Singapore. Tapi meskipun human-made, pemerintah Singapura membuatnya begitu nyaman, sehingga jalan kaki, naik sepeda, jogging, maupun ajak jalan-jalan anjing pun lebih seru. Sisi hiburan pun dipertimbangkan dengan bijak. Di Botanic Gardens, seperti yang dilihat di foto di atas, ada panggung tempat musisi biasanya manggung hari Minggu malam, dan pengunjung bisa duduk di rerumputan di sekitarnya, piknik sambil menikmati musik. Panggung serupa juga ada di Gardens by the Bay, taman baru-nya Singapura yang lokasinya dekat Marina Bay Sands.

Anyway, we were talking about a perfect date.

Hari Sabtu kemarin, mendadak seorang teman SMS dan melemparkan ajakan untuk ke Botanic Gardens.

“Ada apa di Botanic Gardens?”

“Ada saya.”

Heeee. Oke deh. 😀

Akhirnya sore itu dia jemput saya di apartemen, dan kami pun berangkat ke Botanic Gardens. Mobil diparkir di apartemen dia, yang ternyata cuma seberang-seberangan sama taman, dan kami jalan kaki memasuki Botanic Gardens.

What did we do at the park?

Simply talking to each other, sambil jalan kaki menyusuri taman. Lihat banyak orang membawa jalan-jalan anjingnya, we then talked about dogs. He told me about his dogs that he left in his home country. And showed me some pictures and it was so nice to see his tired face lit up when he was talking about his dogs.

Kadang-kadang kami duduk. Sambil mengobrol lagi. On what sent us here to Singapore. On why we decided to do the big move. On this. On that. On nothing. On everything.

Hari pun semakin gelap. We decided not to do the second half of the park, cause it was already dark and the distance is pretty far. Kami pun bergerak meninggalkan taman, mengambil mobil dan mencari makan serta segelas bir dingin.

Kemana?

Ke Duxton Hill.

Saya juga baru sekali itu mengunjungi Duxton Hill bagian sana. Tempat yang jalanannya tidak terbuat dari aspal, tapi dari cobblestone. Lampu jalan pun model kuno, dari tahun 1920an. Di bagian Duxton Hill yang ini, tidak ada kendaraan yang bisa lewat, karena buntu. Ada restoran kecil di kiri kanan, setengah ditutupi pepohonan rindang.

Seriously, this area is GORGEOUS.

Kami memilih restoran Italia kecil di sebelah kiri. Namanya Lateria, The Mozzarella Bar. Restoran itu ramai, tapi masih tenang dan nyaman. Dan juga romantis. Halah.

We had dinner, we had one beer, we had one glass of house wine. We talked again through all that.

Usai dinner kami berjalan-jalan di daerah sekitar itu sebentar untuk menikmati suasana, sebelum akhirnya beranjak pulang.

To be honest?

That was probably one of the nicest first non-date that I have ever had with anyone. It felt nice. It felt easy. And the places are just amazing.

And as much as I wish that it WAS indeed a date, I still think it was not 🙂

But anyway,

Wanna have a perfect date with your loved one?

Try Singapore 🙂

Going Solo

Standard

Duh, hari ini di Twitter timeline lagi bahas mengenai jumlah orang yang ideal untuk diajak traveling bareng. Jadi gatel pengen nulis blog soal ini 😀

To be honest, thanks to one of my best traveling companion, now I believe experiences are best shared.

That means,  I prefer NOT to travel alone. NOT because I cannot do it, but more because I enjoy things more when I have someone to share it with. Entah untuk sama-sama ketawa-ketawa bodoh saat kami masuk ke bar untuk menonton ping pong sex show untuk pertama kalinya di Bangla Road, Phuket — atau untuk sekedar merasa takjub saat pertama kalinya menyentuh komodo, atau saat melihat pemandangan dermaga yang luar biasa di Pulau Kanawa, Flores.

Traveling sendirian memang seru. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu suka, dan nggak akan ada yang nge-judge kamu untuk itu. Bisa aja kamu memutuskan untuk malas-malasan seharian di pantai, instead of climbing up that hill to see the breathtaking view from top, and no one will judge.

Saya pernah traveling sendirian. Lagi patah hati, sekaligus lagi mau pindah kantor, jadi saya memutuskan untuk berangkat lima hari ke Jogjakarta dan Bali. Di Jogjakarta saya ketemu sahabat saya yang kebetulan lagi di sana, dan kita menjelajah beberapa pantai dari Jogja sampai Wonosari – and I had a great time.

Dari Jogja, saya terbang ke Bali (tepat di hari dimana Gunung Merapi mulai meletus – saya naik pesawat pagi sehingga tidak terkena delay tanpa ujung yang kemudian dialami penerbangan-penerbangan lain hari itu karena asap letusan yang tebal dan mengganggu navigasi pesawat). Di Bali saya ketemuan sama senior saya di kampus (yang sebenarnya nggak terlalu akrab), yang kemudian nganter saya menjelajah Pantai Geger, Dreamland, Padang-Padang beach, pura di Uluwatu dan akhirnya nonton tarian kecak saat sunset. Saya pun kenalan sama seorang turis Spanyol (yang ganteng — heaa penting dong disebut. Hahahahahh) dan 2 orang turis Inggris yang kemudian share sewa mobil dan penginapan ke Amed dan Tulamben di Bali timur. I dived, I snorkeled, I ate, I laughed .. but still, I didn’t consider it one of my best vacations.

Pernah juga dua kali ke Singapura sendirian. Keduanya short trip, cuma 2 hari 1 malam.

Trip pertama cukup oke, saya dikenalkan sama seorang Couchsurfer yang rela menemani saya jalan ke sana kemari dua hari penuh, membawa saya ke beragam tempat, melihat berbagai hal menarik, mencoba banyak makanan yang enak .. the trip was awesome.

Trip kedua, not so much. Saya tiba di sana terlambat karena delay terselubungnya Tiger Airways, kalang kabut ke sana kemari, mengejar pertunjukan musikal Lion King yang saya tonton sendirian. Musikal itu KEREN banget. Sayang, saya cuma bisa sebatas bergumam sendiri dengan mata terbelalak, nggak ada bahu teman yang bisa saya tepuk-tepuk saking takjubnya (tidak seperti saat saya nonton Wicked The Musical bersama salah satu sahabat saya, dimana kami bisa sama-sama merinding terharu saat menyaksikan Elphaba menyanyikan lagu “Defying Gravity” yang tersohor itu).

Besoknya pun saya kelintingan di Orchard – rencananya mau belanja memanfaatkan momen Great Singapore Sale (GSS) – tapi sialnya saya mulai sakit, sehingga perjalanan menyusuri Orchard pun terasa begitu menyebalkan karena saya meriang, dan tidak punya minat sedikit pun untuk ikut berjejalan dengan banyak orang yang memadati toko-toko di mall sepanjang Orchard dan Somerset Road. And guess what? Saya kan sendirian. Jadi ya, nggak ada pilihan lain selain cari makan sendiri, istirahat di hostel lalu berangkat ke bandara untuk naik pesawat pulang. This is also NOT one of my best vacations.

Kenapa?

Simply because I traveled all by myself. Meski dalam perjalanan saya ketemu teman-teman baru, tetap aja rasanya beda. I didn’t know them that well, I wasn’t sure they will get my jokes. I didn’t know them that well, I wasn’t sure they will be amazed with things that amazed me.

I miss the inside jokes i might be able to share if I travel with someone I know well. And most of all, saya kehilangan perasaan senasib sependeritaan yang bisa saya dapatkan kalau lagi traveling sama teman.

Iya, mungkin saya kedengaran cengeng. Traveler macam apa yang nggak bisa traveling sendirian.

Ih, kan saya sudah bilang. Bukannya saya nggak bisa, saya nggak mau aja. Hahahaha.

Tiga trip terakhir saya jalani bersama tiga sahabat yang berbeda.

1. Flores trip

Durasinya seminggu penuh, bersama sahabat saya Tim, yang mengajarkan “Experiences are better when shared” (yes, dia yang memperkenalkan konsep itu ke saya). We islandhopped, snorkeled, trekked, swam together. Kami sama-sama cekikikan takjub saat ranger di Pulau Komodo mengizinkan kami untuk menyentuh ekor komodo yang patah kaki sehingga tak bisa bergerak kemanapun.

Sama-sama terpesona melihat pemandangan dari puncak bukit Pulau Kanawa, setelah sebelumnya saya misuh-misuh karena dia memaksa saya untuk mendaki bukit di tengah hari bolong (but hey, kalau dia nggak maksa, mungkin saya tak akan pernah naik ke atas bukit tersebut). Sama-sama bersenang-senang dengan anak-anak di Ruteng, sebuah kota kecil yang didekorasi meriah dengan beragam lampu natal. Sama-sama jiper saat berenang di perairan Pulau Komodo dan mendadak melihat 5 ekor Manta Ray hanya beberapa meter di depan kami, dan antusias saat naik ke kapal dan menyadari ada lebih banyak Manta Ray di sekitar kapal kami, seolah mengajak berenang bareng.

2. Singapore trip

Ya, Singapura lagi! Kali ini bersama sahabat saya sejak kuliah, Juned dalam rangka memanfaatkan trip gratis dari ESPN yang saya menangkan di sebuah acara nonton bareng Liga Inggris yang diadakan ESPN dan Intel. Ceritanya trip itu adalah hadiah door prize, dimana penonton diminta menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan di secarik kertas sebelum meletakkannya di fish bowl. Juned lah yang memberikan contekan untuk semua jawaban saya, dan karena itulah saya yang mengajak dia ke Singapura (tentunya dengan izin dari pacarnya yang baik hati hahaha)

Di Singapura kami tanpa malu bertingkah seperti turis. Sama-sama jejeritan saat naik wahana Tranformers 3D yang baru, berpose aneh sama life-size Po dari Kungfu Panda, menguntit Shrek dan Fiona (dan gagal), ikut berpartisipasi aktif dalam pertunjukan Donkey (ikut-ikutan jawab gitu), sekedar ngaso di salah satu kedai sambil makan eskrim Ben&Jerry, belanja ala turis di Bugis, bawa belanjaan ke kantor ESPN dan foto bareng Andrew Leci, host-nya Monday Night Verdict, sampai bar-hopping dari Zouk ke Butter Factory setelah sebelumnya minum sake rame-rame.

3. Phuket Trip

A weekend trip sama sahabat saya, Syanthy — setelah saya pindah ke Singapura, dan kami pun bertemu di hostel kami di Patong Beach, Phuket hari Jumat malam. Setelah ngerumpi dan mengintai ladyboys dari bar sebelah tempat makan, keesokan harinya pun kami naik kapal ke Phang Nga Bay. Kami sama-sama berkeliaran di desa nelayan terapung di Koh Panyee, lalu nyasar dan kabur semerta-merta karena melihat abang-abang Thailand nongkrong di salah satu sudut desa, untuk kemudian berhenti di deretan kios dan belanja ini itu.

Kami juga share kayak yang sama untuk menjelajah Hong Island, dan sama-sama cekikikan saat kayak yang kami tumpangi nyaris terbalik karena ke-sok tahu-an kami dalam menggunakan dayung sementara abang-abang kayak kami sibuk mengambil foto kami dari batu di kejauhan sambil cengengesan.

Dan di James Bond Island pun kami tak ada malunya foto ala turis seperti ini :

Kami sama-sama cekikikan saat malamnya berkeliaran di Bangla Road dan akhirnya masuk ke salah satu bar untuk akhirnya menyaksikan dengan mata sendiri apa itu Ping Pong Show (dan belasan/puluhan sex show / striptease dance lainnya) dengan berbekal sebotol bir/jus yang sebelumnya kami tawar sehingga kami berhasil membelinya dengan separuh harga.

Kami sama-sama ketawa dan melontarkan godaan ke empat orang alpha male dengan kostum superhero minim, yang merupakan anggota tim rugby yang sedang melakukan kejuaraan di Phuket di weekend yang sama, yang menjadi target seorang sex show performer yang bisa meniupkan dart dari private part-nya untuk memecahkan balon yang dikepit di selangkangan mereka.

Dan keesokan harinya kami sama-sama memutuskan untuk jadi turis shallow, dengan memilih untuk berkeliaran dan belanja, instead of mencoba mengunjungi pantai lainnya seperti Kata Beach dan Karon Beach — and felt comfortable with what we chose.\

I gotta say guys, I considered those three trips among the best ones I have ever done my entire life.

Not just because of the destinations. But more because I had a great time going there with my bestfriends.

See?

This is why I prefer not to travel all by myself.

Because really, experiences are better when they are shared.

🙂

 

P.S

please note that everything written in this post is purely subjective assessment. I do not claim that what I said is the truth, please feel free to think differently 🙂

Welcome to Singapore-lah!

Standard

OK. So I have been wanting to write for a while. About what? Well, mostly about all the things I have FORCEFULLY learned since I moved to Singapore. Hahaha.

Jadi ya, saya itu kan termasuk tukang jalan. Seneng banget traveling kesana-kemari. Dan selalu punya keinginan terpendam untuk tinggal di negara lain. Actually live there, nggak cuma me-nuris selama beberapa hari / beberapa minggu. Lalu, kesempatan itupun datanglah.

Seorang teman, yang sudah pindah bekerja di Singapura sejak tahun lalu, mendadak BBM dan nanya apakah saya masih tertarik kerja di negara ini. BBM itu datang hampir setahun sejak saya bilang sama dia dalam salah satu kunjungan main saya ke Singapura, “Eh bok, bilang-bilang dooong kalo ada lowongan di Singapura ya! Pengen deh kerja di sini,” — hampir setahun kemudian dia ingat omongan saya, dan menawarkan saya untuk kirim CV ke kantornya, sebuah agensi iklan global yang sedang membutuhkan account manager orang Indonesia untuk menangani beberapa brand, tapi untuk pasar Indonesia.

Jadilah, tak sampai dua bulan kemudian saya tiba di Singapura menggunakan tiket sekali jalan dengan satu koper besar. Tadinya dua sih, sama satu koper yang lebih besar lagi, tapi kesangkut di kelebihan bagasi — yang biayanya cukup untuk membeli 1 tiket baru (jadi diputuskan nanti ibu saya akan datang ke Singapura membawa koper tersebut, because she planned to come over in 1-2 weeks anyway)

Reaksi saya: JIPER GILA.

Ternyata ke Singapura dengan mindset “jadi turis” dan “pindahan” itu beda banget. Dan salah satu keperluan yang mendesak adalah mencari apartemen, kalau bisa sebelum mulai bekerja 3 hari kemudian.

Saya punya TIGA HARI SAJA untuk mencari tempat tinggal  -____-

Ya anyway, berkat bantuan website http://www.easyroommate.com.sg (very recommended untuk yang nyari tempat tinggal di Singapura) – saya survey beberapa apartemen dengan range sewa yang berbeda-beda. Setelah sukses melampaui kekagetan saya melihat harga sewa property di Singapura yang mahal banget.

Bayangin aja, dengan harga SGD 700-1000 (sometimes, 1100) kamu cuma bisa dapatin common room (ini sebutan untuk kamar tanpa kamar mandi dalam) — sementara kalau dikurs-in, di Jakarta kamu bisa sewa seluruh apartemen di Kuningan dengan harga yang sama.

But okay, standar gaji kan juga beda ya. So, I sucked it up, dan mulai menerima keadaan. Mulai janjian sama empunya apartemen atau fellow flatmate untuk melihat kamar yang ditawarkan.

Jadi ini patokan-patokan memilih apartemen :

1. Pegang peta MRT

Selalu tanya stasiun MRT paling dekat itu apa. Karena percaya atau tidak, MRT itu memang solusi transportasi paling nyaman di Singapura. Bis umumnya juga nyaman sih, tapi seringnya kita harus menghabiskan lebih banyak waktu menanti bis datang (bisa sampai 7-15 menit), dibanding durasi perjalanannya.

Dan hati-hati kalau kamu harus transit MRT untuk pindah jalur. Biasanya stasiun interchange itu gede banget, dan di beberapa stasiun, kita harus jalan lumayan jauh juga. Jadi kalau bisa pilih apartemen yang sejalur MRT sama kantor.

2. Jangan percaya durasi jalan orang Singapura

Saya pun belajar untuk tidak mempercayai patokan orang Singapura saat mereka kasih info “only xxx minutes walk from MRT/bus stop” — duh, orang di Singapura jalan-nya cepet-cepet banget, dan biasanya mereka kasih patokan durasi tercepat untuk mencapai MRT/halte bus dari apartemen mereka (untuk menjadikan apartemen mereka terlihat lebih atraktif secara lokasi).  Jadi kalau mereka bilang “10 minutes walk from MRT” — percaya deh, itu udah jauh. Realitanya bisa sekitar 15 menit kalau jalan normal.

3. Tanyakan pertanyaan-pertanyaan wajib

Seperti :

a. Boleh pakai dapur?

Percaya deh, banyak apartemen yang melarang tenant-nya untuk menggunakan dapur, bahkan untuk masak minimal sekalipun

b. Boleh terima tamu menginap?

Banyak apartemen yang melarang tenant-nya untuk terima tamu berkunjung, apalagi menginap.

Kalau berhasil menemukan apartemen yang lokasinya oke, boleh pakai dapur (dan seluruh perlengkapan di dalamnya) sesukanya, boleh terima tamu menginap, dan bebas menggunakan common area (seperti meja makan, ruang TV, dllst) — selamat, you’ve hit the jackpot! 🙂

Selama dua hari itu, saya lihat-lihat apartemen di Dover, Orchard, Farrer Park/Little India dan Tiong Bahru. Ada yang katanya deket sama MRT tapi kenyataannya jauh banget. Ada yang katanya deket Orchard, tapi ternyata harus ke bagian belakang mall, jalan sedikit, nyeberang jembatan, lalu jalan lagi ke kompleks apartemen, lalu jalan lagi ke gedung apartemen, lalu naik ke lantai 4 ..  -___-

Anyway, di hari terakhir saya menemukan kamar yang saya tempati sekarang, bentuknya HDB 3 kamar dan 2 kamar mandi, yang saya share dengan dua orang Filipino kakak beradik. Ada hawker centre di kompleks apartemen yang sama, dan pintu masuk ke stasiun MRT pas di ujung hawker centre itu.

Dan sampai sekarang saya juga masih kabur dengan apa bedanya HDB dengan apartemen. Yang pasti HDB ini harga pasarannya lebih murah daripada condo, biasanya high-rise (ada lift-nya) tapi tidak ada fasilitas kelengkapan lain seperti kolam renang atau gym. Dan apartemen saya lokasinya cukup di tengah, dan tepat berseberangan dengan plaza (yang ada bioskopnya!) Lumayan banget. Hahaha.

Long story short, saya pindah ke apartemen itu di hari yang sama, dan langsung unpacking. Lemari baru akan datang akhir minggu itu, tapi biarin aja, rasanya udah lega banget, at least satu masalah terselesaikan. I might be friends-less, but at least I have somewhere to sleep and put my stuff!

 

Now here’s the fun part of the relocation :

Now I have a VALID reason to finally go on shopping spree at IKEA.

Which I did. I went there and I shopped. I am officially an IKEAholic now. Hahahaha.

 

Anyway, i start to ramble here.

I think this is pretty OK for a first post. After years not blogging/writing at all 🙂

Hope you enjoy this posts — there will be more to come, I promise!

Image

 

Intinya sih,

 

WELCOME TO SINGAPORE, LAH!

 

 

Gagap Komitmen

Standard

Jadi yaaaa …
ehm. saya punya pacar baru.

Agak trauma sih nulis sok2 filosofis soal pacaran. Tar tau-tau (toktoktok amit-amit jangan sampeeeee) ada apa-apa gimana. Mati kata mati gaya juga. Belum lagi hilang semangat *mulai drama* tapi seriusan, saya baru sadar seberapa gagap komitmennya saya.

Jadi, terakhir saya pacaran beneran yang ada kemungkinan masa depannya adalah sekitar .. ehm, lupa. Kayak udah lama banget. Kayaknya tahun itu Multiply baru ngetrend (tuh kan, saya bilang juga udah lama!) .. sebentar saya cek dulu archive blog saya.

Yak. Itu tahun 2006.
Setelah itu saya pacaran sama seorang lelaki beda agama tanpa ada intensi untuk serius, dan itu tahun 2009.
Dan sekarang sudah tahun 2011!

Idih buset.
Saya baru menyadari saya sepemilih itu.
Hm, masa sih saya pemilih?
Lalu apa yang saya lakukan di antara masa pacaran satu dengan masa pacaran yang lain? I usually go on dates. I date people. Non-exclusively.
Sometimes I fell in love ..
.. and got my heart broken (cause well, we were non-exclusive. what do you expect? ahahah)

OK, let’s put another factor here.
Durasi terlama saya pacaran adalah 6 bulan 1 minggu. Ya, saya sudah pernah kok diketawain sama ketiga sahabat saya (“Ya ampun Ciiiit .. jadi lo nggak pernah dong ngerayain anniversary?!” Bah.) tapi jujur, yang 6 bulan 1 minggu itupun bisa bertahan selama itu karena pacar saya itu susah diputusin.

Jadi kalau dirunut dari faktor pendukung, sepertinya agak wajar kalau saya gagap komitmen. Gagap komitmen as in .. i don’t have a clue on how to be in a functioning relationship that actually has a future.
Hahaha. I guess I have been on dysfunctional relationship way too many times, I don’t know how it is NOT to be in one.

Anyway,

Soul-peeking

Standard


Saya baru menyadari bahwa saya punya weak spot untuk lelaki-lelaki yang bergerak di bidang visual. (Yak, setelah memacari satu orang fotografer, satu orang videografer dan mengencani seorang documentary videographer slash photographer akhirnya keluar juga kesimpulan ini hahahah agak lamban yaaa mikirnya ahaha)

Tapi nggak sembarangan juga sih. Weak spotnya cuma berlaku untuk fotografer / videografer yang dapat menghasilkan images seperti ini :

East Cuba
through the lens of Juan Herrero



Ways of Seeing
through the lens of Steve McCurry


The War in Iraq
through the lens of James Nachtwey


Yaaaa nggak usah semilitan James Nachtwey juga sih.
Itu sih photojournalist yang udah kapiran banget. Kerjaannya berpindah dari satu darah konflik ke daerah konflik lain. Konon dia pun hidup sendirian, karena seperti photojournalist lainnya, keberadaan istri dan anak justru memperberat langkah dia untuk berburu foto – karena dia pasti akan lebih takut mati (kalaupun dia nggak takut, istri dan anaknya pasti takut dia mati hahaha)
* BTW, kalau mau tahu kisah dia, nonton film dokumenter War Photographer aja. Film itu pada dasarnya menguntit Nachtwey berburu foto, termasuk saat kerusuhan rasial di daerah Matraman

Saya pernah bertemu Juan Herrero (yang buat foto East Cuba di atas) di Bali. Orangnya masih muda (bahkan lebih muda dari saya) dan ganteng. Ahahaha.

Selama tiga bulan di tinggal di Bali dan bekerja di salah satu NGO lokal, dia membuat beberapa photostory (yaitu kumpulan beberapa foto yang mengangkat satu tema dan ada ceritanya) dan di antaranya adalah tentang para pelacur transgender di Bali yang kemudian dimuat di salah satu majalah (saya lupa linknya .. maaf yaa)

Dia juga sempat membuat beberapa foto dokumentasi biasa di saat NGO tempat dia bekerja membawa anak-anak di salah satu desa di Bali timur mengunjungi Bali Safari-Marine Park (bisa dilihat di sini)

Terlepas dari kenyataan bahwa dia ganteng (kyaaaaa!), I gotta say that his photos make him even more interesting.

Kenapa?
Because you can see how someone sees things, through photos/video he takes.

Jadi melihat hasil foto seseorang itu kayak melihat sesuatu dari sudut pandang dia.
These photos shows what kind of things that interest him.
What kind of small things he notices when he sees something in front of him.

(OK, are these clear enough? Saya juga jadi bingung ngejelasinnya gimana hahahaha)

Saya pernah mendadak jadi jatuh cinta setelah melihat album hasil foto karya seseorang di Facebooknya, padahal saya baru kenal sama dia.
I just like how he sees things!
Dia bisa melihat hal-hal yang mungkin nggak disadari / nggak kelihatan, kalau orang lain (bukan dia) yang berdiri di posisi pengambilan foto-foto itu.

Apalagi setelah saya tahu cerita-cerita di belakang foto itu. Makin jatuh cinta deh saya. Hahahaha.

Entah ya, mungkin efek ini beda ke orang lain ya. Yang pasti sih weak spot saya di situ.
Mungkin bukan keindahan fotonya yang bikin saya tertarik. Bukan juga ketinggian teknik maupun kecanggihan efek yang digunakan. Apalagi harga kamera yang ditenteng.

Saya percaya setiap orang memiliki angle masing-masing dalam melihat sesuatu. Angle that is defined by things that move him or interest him.

And photographs are the easiest way to see what kind of things that he’s interested in.
Things that are able to move his heart.

And through it,
you can peek into his soul and see what kind of person he is
*tsaaahh*

Jadi intinya sih, pertanyaan akhirnya adalah :
How to peek into the soul of someone that cannot take decent photographs?!

Entah ya, saya juga belum tahu.
Hahahaha.
*kabur*

Rindu

Standard

Dia melirik blackberrynya yang tergeletak di meja. Meraihnya dengan secercah harapan yang tak kunjung mati walaupun ratusan kali gerakan sama sebelumnya tak juga memberinya sesuatu yang dia tunggu.

Ah.
PIN itu masih berada di list pending friend request.
Entah friend request itu masuk ke Blackberry itu atau tidak. Dia tidak tahu. Dia terlalu takut untuk menghapus lalu mencoba lagi.
SMS yang dia kirim di hari yang sama pun tak kunjung dijawab.

Dulu dia bilang dia tak mau lagi berurusan dengannya. Bahwa kalimat tuduhan yang dia lontarkan waktu itu telah melampaui batas, dan dia benar-benar tersinggung.

Dia tak peduli bahwa dia melontarkan kata-kata itu semata didorong oleh kekecewaan yang menghujam. Amarah yang tak berani dia sampaikan. Harapan yang terkoyak.
Dia tak peduli, dan tak mau tahu.
Karena apa yang dia rasakan bukanlah tanggung jawabnya.

Ya, memang bukan.
Dia pun tak pernah memintanya bertanggung jawab untuk itu.
Dia hanya ingin dia mengerti.
Bahwa dia tak berdaya melawan semua rasa rindu itu.
Semua rasa peduli itu, yang tak mampu dia bunuh.

Blackberry itu masih diam.
Tak peduli kata maaf telah terucap, hingga terasa basi.

Dia rindu padanya.
Sungguh.
Meski dia tahu, dia tak seharusnya begitu.
Meski dia tahu, dia sebaiknya tak begitu.

Dia rindu padanya.
Itu saja.

Opposites Attract

Standard

Duh. Terms “opposite attracts” itu kayaknya udah lama banget ya.
This is something that made some people wonder – dan ujung-ujungnya bilang “Gilaaa gue sama dia itu beda banget lho, tapi kenapa gue suka sama dia ya?”

Dulu pernah ada yang tweet mengenai hal ini. Sebenarnya sih penyebabnya simpel aja.
Karena kalau misalnya saya dan “target” menyukai hal yang sama, akhirnya bahasan jadi basi.

Contoh percakapan :

A: “Eh gue suka banget nonton Criminal Minds, lho.”
B: “Oh ya, gue juga!”
A: “Iya, kasusnya keren-keren gitu.”
B: “Iyaaaa penjahatnya rata-rata psikopat gitu. Sick. But cool.”
A: *mengangguk-angguk setuju*


(mendadak nggak tahu lagi mau bahas apa)

Nah, kalo misalnya kita suka Criminal Minds, dia suka CSI kan jadinya gini :

A: “Eh gue suka banget sama CSI.”
B : (menyeringai) “Ih kok bisa sih? CSI is just a bunch of sissies kan. Masa beraksi di TKP pake heels 12 senti. Itu sih banyak gayanya aja.”
A: “Tapi kan keren gitu cara menelusuri bukti-buktinya, sampe bisa nangkep penjahatnya!”
B: “Aaahh itu kan tipu. Kenyataannya sih ga semua bukti di TKP itu bisa 100% dipakai untuk mencari siapa penjahatnya. Mendingan nonton Criminal Minds. Itu analisisnya behavioral. Lebih masuk akal.”
A: “Ah apaan si Criminal Minds? (selipkan celaan terhadap Criminal Minds di sini, karena sungguh, saya itu salah satu penggemar CM, jadinya nggak tahu mau nyela apa ahahaha)

terus jadi berdebat seru, terus jadi ngotot-ngototan manja terus berujung pada janji sama-sama nonton kedua serial bersama-sama untuk memperoleh penilaian yang nggak bias.

Tuh kan?
Memang seruan kalau beda!

Belum lagi kalau kejadiannya gini :

A: “Suka film nggak? Film favoritnya apa?”
B: “Gue suka Lord of the Rings, Shrek, sama film dokumenter kayak Oceans dan The Cove.”
A: “Serius lo? Gue juga sukaaaa .. ih padahal kan ga semua orang bisa ngerti jokenya Shrek.”
B: “Iya,”
A: “Kalo serial TV sukanya apa?”
B: “Friends, Criminal Minds, The Big Bang Theory. Lo apa?”
A: “Err .. sama juga.” (mulai takut dibilang ikut-ikut)
B: “Oooh. BTW kira-kira deket sini ada tukang mie ayam ga sih? Gue laper, terus lagi pengen banget makan mie ayam .. salah satu makanan favorit gue soalnya ..”
A: (nyaris bilang “Haaaa masa sih, gue juga!” tapi jiper takut disangka nyama-nyamain aja, akhirnya cuma bilang) “Kayaknya ada deh di perempatan Benhil situ.” (sok nggak yakin, padahal tempat makan favorit)

Yaaa intinya sih kalau berbeda, lebih banyak aja bahan obrolannya. Bahan obrolan yang bisa memicu percakapan selama berjam-jam – yang akhirnya bikin saya takjub karena orangnya asyik banget diajak ngobrol. On most issues, we have different perspective. Itulah yang bikin durasi mengobrol jadi lama. Karena masing-masing butuh waktu banyak untuk menjelaskan kenapa dia berpendapat begini, bukannya begitu.

Saya pernah banget ketemu sama orang seperti ini.
We dated for a while. Awal-awalnya sih seru banget. Ya itu, cause we are two different people. We have lots of differences. We are different even on the most core issues. Dan yang bikin tambah menggila, kita sama-sama passionate di 1-2 hal spesifik, dan jarang sekali ketemu orang yang seperti itu.
So yes, we were attracted to each other.

Tapi lama-lama, rasanya agak aneh juga.
Karena saat saya capek, ketemu dia dan rasanya pengen manja-manjaan aja dan bahas hal-hal ringan (baca: nggak usah berdebat soal ini itu deh) akhirnya kita nggak bisa banyak ngobrol. Cause most things will provoke arguments, as we stand on the opposite sides of most things, and we were too tired to argue. Akhirnya yaaaa ngobrol-ngobrol cetek aja.
Tapiii .. di saat sedang fit pun, diskusi/argumen pun bisa memanas dan ujung-ujungnya malah bisa jadi berantem beneran.
Jadi memang lebih baik tidak bahas hal-hal itu sama sekali. We just agree to disagree, meski ada saat dimana saya dan dia sama-sama “gatal” karena saya tidak mengerti, kenapa dia bisa berpendapat A, dan dia tidak bisa mengerti kenapa saya berpendapat B.

They say opposites attract. Yes, they do. I won’t deny that.

However, I still think maybe it’s better to settle down with the one that has more similarities than differences.

Kenapa? Yaaaa simpel sih.
I can always argue my brains out, with anyone out there.
You don’t need to know someone closely, personally, or to be able to confide in the person – in order to involve in the argument with him/her.
You can argue with anyone.

But when you’re tired and drained,
the last thing you need is someone who argues everything you say.

You just need someone you trust, someone you know, someone you feel familiar with, someone whom you know will accept you just they way you are,
someone whom you know will not look for opportunities to stab you from the back,
someone who can simply say,

“Come home. I’ll give you a hug. Abis itu kita browsing cari paket liburan diving yang oke, terus kita kabur diving bareng deh. By the way, aku tadi beli DVD The Big Bang Theory yang baru, nanti nonton bareng yuk!”

See?
Similarities are awesome.

Hahahahaha.

Friendster Returns

Standard

Tergoda oleh beberapa orang yang saya follow di Twitter yang baru-baru ini login ke Friendster untuk nostalgia, malam ini saya melakukan hal yang sama.

OMG. Ternyata benar. Saya tidak bisa tidak bernostalgia.

Apalagi di bagian testimonials. Ada total 176 post di bagian testimonials saya, tentunya tak semuanya testimonials, ada juga beberapa yang merupakan ucapan selamat (ulang tahun/natal) atau pesan berbalasan laksana wall di Facebook.

Rata-rata yang menulis di sana adalah teman-teman kuliah saya semasa S1. Teman-teman kuliah saya rata-rata bilang saya orangnya ketawa melulu, berisik, petakilan, banyak temennya, nggak bisa diam, dan pinter (ehm).

Sementara teman-teman SMA/SMP/SD bilang saya dulu penggemar komik Jepang, boyband dan suka ngasih contekan ulangan/PR. Mereka juga bilang saya orangnya rame dan agak berisik. Well, sepertinya kebiasaan ini yang terbawa sampai saat saya kuliah ya ahahaha 😀

Saya menemukan juga satu postingan testimonial dari mantan pacar semasa kuliah. Olala. Nostalgia semakin menjadi.

Jadi, dialah mantan pacar saya yang paling signifikan, as in, saya menghabiskan beberapa tahun berusaha untuk benar-benar lepas dari dia. Dialah salah satu sahabat terdekat saya, yang kemudian jadi pacar. Sangat sebentar, kemudian putus lagi saat berantem pertama kali. Bertahun-tahun kemudian, beberapa mantan pacar kemudian, kami pacaran lagi. Lagi-lagi berantem terus. Akhirnya kami putus lewat pertengkaran sengit. Nyaris setahun kemudian kami baru bisa mengobrol lagi dan berekonsiliasi.

Friendster hadir di masa-masa kuliah, dan beberapa tahun setelah saya lulus. Friendster juga ada di saat saya pacaran lagi dengan dia untuk kedua kalinya, yang ditandai oleh tiga testimonials yang saya tinggalkan di profil Friendster dia (yang ternyata masih tersimpan rapi di profil dia! Hahahaha). Salah satu tulisan itu adalah berupa puisi. Alamak. Puitis sekali saya waktu itu. Lalu ada juga dua kata “love you” yang saya tinggalkan di situ. Aaah, jadi malu. Hahaha. Sepertinya semua orang yang baca tulisan saya di profil dia pasti bisa membaca seberapa saya jatuh cinta sama dia.

But oh well, sudahlah. Saya tahu saya jujur saat saya menulis itu.

Tapi jadi kepikiran,

What will people say in my profile if they’re asked to write me a testimonial? Masihkah mereka bilang saya berisik, petakilan, nggak bisa diam, dan ketawa melulu?

Will I be brave enough to write sappy words on the profile of people I had fallen in love with?

Will I be courageous enough to say ‘I love you’ that publicly?

Sepertinya jawabannya tidak untuk ketiganya.

Hubungan pacaran saya terakhir, saya sudah masuk jaman Facebook.

Sama-sama social network, tapi entah kenapa terasa jauh lebih rumit sekarang.

Ganti status dari “Single” menjadi “In a Relationship” aja butuh waktu, setelah berhari-hari terjadi pergumulan antara hati, otak dan nama pacar saya yang saban kali muncul di ponsel.

Karena dia orang visual, menggombal pun secara visual – melalui foto dan caption. Itu dari dia. Dari saya? Paling banter cuma berani kasih komentar di foto-foto dia dengan joke gombal terselubung. Boro-boro nulis puisi! Hahaha.

Dengan segala kerumitan yang ada sekarang, rasanya menyenangkan mengunjungi Friendster.

It’s like a memory box, from the days when things were still simpler.

When I was still a lot more expressive.

When I was described as “bawel, ketawa melulu, petakilan, nggak bisa diam.”

Disuruh balik ke sana lagi?

Jelas tidak bisa. I’ve come a really long way since those days, I cannot return anymore.

However, it’s kinda nice to be reminded,

I was once that kind of person.

🙂

16 Mei 2011

02.07