A Perfect Date, that was not a date.

Standard

 

So, how did you imagine a perfect first date?

Saya itu tipe-tipe perempuan yang kebanyakan nonton film/serial. Jadi kebayang tipe kencan pertama yang sempurna adalah seperti begini :

1. dua sejoli (halaaah) jalan di dermaga sambil ketawa-ketawa, makan eskrim dengan kaki bergantungan di tepi dermaga sambil ngobrol santai, atau

2. sejoli yang sama, jalan di taman sambil ngobrol santai, talking about nothing and everything, dan diakhiri dengan keduanya telentang di rumput sambil memandangi awan sore / bintang yang bertebaran di langit, atau

3. sejoli yang sama, jalan-jalan menyusuri bagian kota yang tua, dengan shophouse warna-warni di kiri kanan, mengamati toko, resto dan kafe unik di sana, dan diakhiri dengan makan malam di bagian teras restoran kecil berkarakter, diterangi lampu jalan ala tahun 1920-an, dan jalanan yang berlapis cobblestone, bukan aspal.

Tuh kan, sudah saya bilang, saya itu kebanyakan nonton TV dan serial. Hahahah.

Selama ini di Jakarta saya sudah menerima kenyataan bahwa kencan seperti itu agak sulit dilakukan. Kalaupun iya, harus agak niat dan maksa sedikit, mengingat udara Jakarta yang panas, debu dan asap dimana-mana, kawasan kota tua Jakarta yang tidak terawat, juga banyaknya mamang-mamang di sekitar yang siap manggil “Neng, neng ..” atau bersuit-suit menyebalkan.

Jadi memang kencan paling fool-proof itu ya, di mall. Atau di restoran mahal, mungkin termasuk di dalamnya resto yang terletak di atap gedung pencakar langit — sehingga kencan bisa sedikit lebih berkesan.

Nah, sejak pindah Singapura, saya kesenengan saat menyadari di negara ini banyak sekali settingan lokasi untuk kencan sempurna yang didambakan.

Ini beberapa contohnya :

1. Ann Siang Hill

Image

2. Botanic Gardens

Image

3. East Coast Park

Image

4. Duxton Hill

Image

See? See? I am not exaggerating, am I?

Di keempat lokasi di atas bisa banget nih melakukan kencan pertama sempurna seperti khayalan tadi. Ann Siang Hill dan Duxton Hill di malam hari merupakan daerah yang cantik dengan resto/kafe/bar yang beragam, beberapa di antaranya adalah restoran kecil yang penuh karakter, dimana tamu bisa makan dengan tenang sambil mengobrol.

I personally love these areas. To be honest, I fell in love with walking once again in Singapore. Iyalah, gimana nggak betah jalan, kalau suasananya menyenangkan seperti ini. Bahkan jalan kaki malam-malam dalam rangka mencari Burger King pun tidak terlalu terasa nelangsa.

Alright, the parks are human-made. Like almost everything else in Singapore. Tapi meskipun human-made, pemerintah Singapura membuatnya begitu nyaman, sehingga jalan kaki, naik sepeda, jogging, maupun ajak jalan-jalan anjing pun lebih seru. Sisi hiburan pun dipertimbangkan dengan bijak. Di Botanic Gardens, seperti yang dilihat di foto di atas, ada panggung tempat musisi biasanya manggung hari Minggu malam, dan pengunjung bisa duduk di rerumputan di sekitarnya, piknik sambil menikmati musik. Panggung serupa juga ada di Gardens by the Bay, taman baru-nya Singapura yang lokasinya dekat Marina Bay Sands.

Anyway, we were talking about a perfect date.

Hari Sabtu kemarin, mendadak seorang teman SMS dan melemparkan ajakan untuk ke Botanic Gardens.

“Ada apa di Botanic Gardens?”

“Ada saya.”

Heeee. Oke deh.😀

Akhirnya sore itu dia jemput saya di apartemen, dan kami pun berangkat ke Botanic Gardens. Mobil diparkir di apartemen dia, yang ternyata cuma seberang-seberangan sama taman, dan kami jalan kaki memasuki Botanic Gardens.

What did we do at the park?

Simply talking to each other, sambil jalan kaki menyusuri taman. Lihat banyak orang membawa jalan-jalan anjingnya, we then talked about dogs. He told me about his dogs that he left in his home country. And showed me some pictures and it was so nice to see his tired face lit up when he was talking about his dogs.

Kadang-kadang kami duduk. Sambil mengobrol lagi. On what sent us here to Singapore. On why we decided to do the big move. On this. On that. On nothing. On everything.

Hari pun semakin gelap. We decided not to do the second half of the park, cause it was already dark and the distance is pretty far. Kami pun bergerak meninggalkan taman, mengambil mobil dan mencari makan serta segelas bir dingin.

Kemana?

Ke Duxton Hill.

Saya juga baru sekali itu mengunjungi Duxton Hill bagian sana. Tempat yang jalanannya tidak terbuat dari aspal, tapi dari cobblestone. Lampu jalan pun model kuno, dari tahun 1920an. Di bagian Duxton Hill yang ini, tidak ada kendaraan yang bisa lewat, karena buntu. Ada restoran kecil di kiri kanan, setengah ditutupi pepohonan rindang.

Seriously, this area is GORGEOUS.

Kami memilih restoran Italia kecil di sebelah kiri. Namanya Lateria, The Mozzarella Bar. Restoran itu ramai, tapi masih tenang dan nyaman. Dan juga romantis. Halah.

We had dinner, we had one beer, we had one glass of house wine. We talked again through all that.

Usai dinner kami berjalan-jalan di daerah sekitar itu sebentar untuk menikmati suasana, sebelum akhirnya beranjak pulang.

To be honest?

That was probably one of the nicest first non-date that I have ever had with anyone. It felt nice. It felt easy. And the places are just amazing.

And as much as I wish that it WAS indeed a date, I still think it was not🙂

But anyway,

Wanna have a perfect date with your loved one?

Try Singapore🙂

6 thoughts on “A Perfect Date, that was not a date.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s