Going Solo

Standard

Duh, hari ini di Twitter timeline lagi bahas mengenai jumlah orang yang ideal untuk diajak traveling bareng. Jadi gatel pengen nulis blog soal ini😀

To be honest, thanks to one of my best traveling companion, now I believe experiences are best shared.

That means,  I prefer NOT to travel alone. NOT because I cannot do it, but more because I enjoy things more when I have someone to share it with. Entah untuk sama-sama ketawa-ketawa bodoh saat kami masuk ke bar untuk menonton ping pong sex show untuk pertama kalinya di Bangla Road, Phuket — atau untuk sekedar merasa takjub saat pertama kalinya menyentuh komodo, atau saat melihat pemandangan dermaga yang luar biasa di Pulau Kanawa, Flores.

Traveling sendirian memang seru. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu suka, dan nggak akan ada yang nge-judge kamu untuk itu. Bisa aja kamu memutuskan untuk malas-malasan seharian di pantai, instead of climbing up that hill to see the breathtaking view from top, and no one will judge.

Saya pernah traveling sendirian. Lagi patah hati, sekaligus lagi mau pindah kantor, jadi saya memutuskan untuk berangkat lima hari ke Jogjakarta dan Bali. Di Jogjakarta saya ketemu sahabat saya yang kebetulan lagi di sana, dan kita menjelajah beberapa pantai dari Jogja sampai Wonosari – and I had a great time.

Dari Jogja, saya terbang ke Bali (tepat di hari dimana Gunung Merapi mulai meletus – saya naik pesawat pagi sehingga tidak terkena delay tanpa ujung yang kemudian dialami penerbangan-penerbangan lain hari itu karena asap letusan yang tebal dan mengganggu navigasi pesawat). Di Bali saya ketemuan sama senior saya di kampus (yang sebenarnya nggak terlalu akrab), yang kemudian nganter saya menjelajah Pantai Geger, Dreamland, Padang-Padang beach, pura di Uluwatu dan akhirnya nonton tarian kecak saat sunset. Saya pun kenalan sama seorang turis Spanyol (yang ganteng — heaa penting dong disebut. Hahahahahh) dan 2 orang turis Inggris yang kemudian share sewa mobil dan penginapan ke Amed dan Tulamben di Bali timur. I dived, I snorkeled, I ate, I laughed .. but still, I didn’t consider it one of my best vacations.

Pernah juga dua kali ke Singapura sendirian. Keduanya short trip, cuma 2 hari 1 malam.

Trip pertama cukup oke, saya dikenalkan sama seorang Couchsurfer yang rela menemani saya jalan ke sana kemari dua hari penuh, membawa saya ke beragam tempat, melihat berbagai hal menarik, mencoba banyak makanan yang enak .. the trip was awesome.

Trip kedua, not so much. Saya tiba di sana terlambat karena delay terselubungnya Tiger Airways, kalang kabut ke sana kemari, mengejar pertunjukan musikal Lion King yang saya tonton sendirian. Musikal itu KEREN banget. Sayang, saya cuma bisa sebatas bergumam sendiri dengan mata terbelalak, nggak ada bahu teman yang bisa saya tepuk-tepuk saking takjubnya (tidak seperti saat saya nonton Wicked The Musical bersama salah satu sahabat saya, dimana kami bisa sama-sama merinding terharu saat menyaksikan Elphaba menyanyikan lagu “Defying Gravity” yang tersohor itu).

Besoknya pun saya kelintingan di Orchard – rencananya mau belanja memanfaatkan momen Great Singapore Sale (GSS) – tapi sialnya saya mulai sakit, sehingga perjalanan menyusuri Orchard pun terasa begitu menyebalkan karena saya meriang, dan tidak punya minat sedikit pun untuk ikut berjejalan dengan banyak orang yang memadati toko-toko di mall sepanjang Orchard dan Somerset Road. And guess what? Saya kan sendirian. Jadi ya, nggak ada pilihan lain selain cari makan sendiri, istirahat di hostel lalu berangkat ke bandara untuk naik pesawat pulang. This is also NOT one of my best vacations.

Kenapa?

Simply because I traveled all by myself. Meski dalam perjalanan saya ketemu teman-teman baru, tetap aja rasanya beda. I didn’t know them that well, I wasn’t sure they will get my jokes. I didn’t know them that well, I wasn’t sure they will be amazed with things that amazed me.

I miss the inside jokes i might be able to share if I travel with someone I know well. And most of all, saya kehilangan perasaan senasib sependeritaan yang bisa saya dapatkan kalau lagi traveling sama teman.

Iya, mungkin saya kedengaran cengeng. Traveler macam apa yang nggak bisa traveling sendirian.

Ih, kan saya sudah bilang. Bukannya saya nggak bisa, saya nggak mau aja. Hahahaha.

Tiga trip terakhir saya jalani bersama tiga sahabat yang berbeda.

1. Flores trip

Durasinya seminggu penuh, bersama sahabat saya Tim, yang mengajarkan “Experiences are better when shared” (yes, dia yang memperkenalkan konsep itu ke saya). We islandhopped, snorkeled, trekked, swam together. Kami sama-sama cekikikan takjub saat ranger di Pulau Komodo mengizinkan kami untuk menyentuh ekor komodo yang patah kaki sehingga tak bisa bergerak kemanapun.

Sama-sama terpesona melihat pemandangan dari puncak bukit Pulau Kanawa, setelah sebelumnya saya misuh-misuh karena dia memaksa saya untuk mendaki bukit di tengah hari bolong (but hey, kalau dia nggak maksa, mungkin saya tak akan pernah naik ke atas bukit tersebut). Sama-sama bersenang-senang dengan anak-anak di Ruteng, sebuah kota kecil yang didekorasi meriah dengan beragam lampu natal. Sama-sama jiper saat berenang di perairan Pulau Komodo dan mendadak melihat 5 ekor Manta Ray hanya beberapa meter di depan kami, dan antusias saat naik ke kapal dan menyadari ada lebih banyak Manta Ray di sekitar kapal kami, seolah mengajak berenang bareng.

2. Singapore trip

Ya, Singapura lagi! Kali ini bersama sahabat saya sejak kuliah, Juned dalam rangka memanfaatkan trip gratis dari ESPN yang saya menangkan di sebuah acara nonton bareng Liga Inggris yang diadakan ESPN dan Intel. Ceritanya trip itu adalah hadiah door prize, dimana penonton diminta menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan di secarik kertas sebelum meletakkannya di fish bowl. Juned lah yang memberikan contekan untuk semua jawaban saya, dan karena itulah saya yang mengajak dia ke Singapura (tentunya dengan izin dari pacarnya yang baik hati hahaha)

Di Singapura kami tanpa malu bertingkah seperti turis. Sama-sama jejeritan saat naik wahana Tranformers 3D yang baru, berpose aneh sama life-size Po dari Kungfu Panda, menguntit Shrek dan Fiona (dan gagal), ikut berpartisipasi aktif dalam pertunjukan Donkey (ikut-ikutan jawab gitu), sekedar ngaso di salah satu kedai sambil makan eskrim Ben&Jerry, belanja ala turis di Bugis, bawa belanjaan ke kantor ESPN dan foto bareng Andrew Leci, host-nya Monday Night Verdict, sampai bar-hopping dari Zouk ke Butter Factory setelah sebelumnya minum sake rame-rame.

3. Phuket Trip

A weekend trip sama sahabat saya, Syanthy — setelah saya pindah ke Singapura, dan kami pun bertemu di hostel kami di Patong Beach, Phuket hari Jumat malam. Setelah ngerumpi dan mengintai ladyboys dari bar sebelah tempat makan, keesokan harinya pun kami naik kapal ke Phang Nga Bay. Kami sama-sama berkeliaran di desa nelayan terapung di Koh Panyee, lalu nyasar dan kabur semerta-merta karena melihat abang-abang Thailand nongkrong di salah satu sudut desa, untuk kemudian berhenti di deretan kios dan belanja ini itu.

Kami juga share kayak yang sama untuk menjelajah Hong Island, dan sama-sama cekikikan saat kayak yang kami tumpangi nyaris terbalik karena ke-sok tahu-an kami dalam menggunakan dayung sementara abang-abang kayak kami sibuk mengambil foto kami dari batu di kejauhan sambil cengengesan.

Dan di James Bond Island pun kami tak ada malunya foto ala turis seperti ini :

Kami sama-sama cekikikan saat malamnya berkeliaran di Bangla Road dan akhirnya masuk ke salah satu bar untuk akhirnya menyaksikan dengan mata sendiri apa itu Ping Pong Show (dan belasan/puluhan sex show / striptease dance lainnya) dengan berbekal sebotol bir/jus yang sebelumnya kami tawar sehingga kami berhasil membelinya dengan separuh harga.

Kami sama-sama ketawa dan melontarkan godaan ke empat orang alpha male dengan kostum superhero minim, yang merupakan anggota tim rugby yang sedang melakukan kejuaraan di Phuket di weekend yang sama, yang menjadi target seorang sex show performer yang bisa meniupkan dart dari private part-nya untuk memecahkan balon yang dikepit di selangkangan mereka.

Dan keesokan harinya kami sama-sama memutuskan untuk jadi turis shallow, dengan memilih untuk berkeliaran dan belanja, instead of mencoba mengunjungi pantai lainnya seperti Kata Beach dan Karon Beach — and felt comfortable with what we chose.\

I gotta say guys, I considered those three trips among the best ones I have ever done my entire life.

Not just because of the destinations. But more because I had a great time going there with my bestfriends.

See?

This is why I prefer not to travel all by myself.

Because really, experiences are better when they are shared.

🙂

 

P.S

please note that everything written in this post is purely subjective assessment. I do not claim that what I said is the truth, please feel free to think differently🙂

2 thoughts on “Going Solo

    • citsav

      ah betul!
      ih aku baru scroll down Facebook timeline di. Foto2 liburan kita ciamik semua ya.
      Foto liburanku tak seciamik liburan kitaaaa hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s