Rindu

Standard

Dia melirik blackberrynya yang tergeletak di meja. Meraihnya dengan secercah harapan yang tak kunjung mati walaupun ratusan kali gerakan sama sebelumnya tak juga memberinya sesuatu yang dia tunggu.

Ah.
PIN itu masih berada di list pending friend request.
Entah friend request itu masuk ke Blackberry itu atau tidak. Dia tidak tahu. Dia terlalu takut untuk menghapus lalu mencoba lagi.
SMS yang dia kirim di hari yang sama pun tak kunjung dijawab.

Dulu dia bilang dia tak mau lagi berurusan dengannya. Bahwa kalimat tuduhan yang dia lontarkan waktu itu telah melampaui batas, dan dia benar-benar tersinggung.

Dia tak peduli bahwa dia melontarkan kata-kata itu semata didorong oleh kekecewaan yang menghujam. Amarah yang tak berani dia sampaikan. Harapan yang terkoyak.
Dia tak peduli, dan tak mau tahu.
Karena apa yang dia rasakan bukanlah tanggung jawabnya.

Ya, memang bukan.
Dia pun tak pernah memintanya bertanggung jawab untuk itu.
Dia hanya ingin dia mengerti.
Bahwa dia tak berdaya melawan semua rasa rindu itu.
Semua rasa peduli itu, yang tak mampu dia bunuh.

Blackberry itu masih diam.
Tak peduli kata maaf telah terucap, hingga terasa basi.

Dia rindu padanya.
Sungguh.
Meski dia tahu, dia tak seharusnya begitu.
Meski dia tahu, dia sebaiknya tak begitu.

Dia rindu padanya.
Itu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s