Opposites Attract

Standard

Duh. Terms “opposite attracts” itu kayaknya udah lama banget ya.
This is something that made some people wonder – dan ujung-ujungnya bilang “Gilaaa gue sama dia itu beda banget lho, tapi kenapa gue suka sama dia ya?”

Dulu pernah ada yang tweet mengenai hal ini. Sebenarnya sih penyebabnya simpel aja.
Karena kalau misalnya saya dan “target” menyukai hal yang sama, akhirnya bahasan jadi basi.

Contoh percakapan :

A: “Eh gue suka banget nonton Criminal Minds, lho.”
B: “Oh ya, gue juga!”
A: “Iya, kasusnya keren-keren gitu.”
B: “Iyaaaa penjahatnya rata-rata psikopat gitu. Sick. But cool.”
A: *mengangguk-angguk setuju*


(mendadak nggak tahu lagi mau bahas apa)

Nah, kalo misalnya kita suka Criminal Minds, dia suka CSI kan jadinya gini :

A: “Eh gue suka banget sama CSI.”
B : (menyeringai) “Ih kok bisa sih? CSI is just a bunch of sissies kan. Masa beraksi di TKP pake heels 12 senti. Itu sih banyak gayanya aja.”
A: “Tapi kan keren gitu cara menelusuri bukti-buktinya, sampe bisa nangkep penjahatnya!”
B: “Aaahh itu kan tipu. Kenyataannya sih ga semua bukti di TKP itu bisa 100% dipakai untuk mencari siapa penjahatnya. Mendingan nonton Criminal Minds. Itu analisisnya behavioral. Lebih masuk akal.”
A: “Ah apaan si Criminal Minds? (selipkan celaan terhadap Criminal Minds di sini, karena sungguh, saya itu salah satu penggemar CM, jadinya nggak tahu mau nyela apa ahahaha)

terus jadi berdebat seru, terus jadi ngotot-ngototan manja terus berujung pada janji sama-sama nonton kedua serial bersama-sama untuk memperoleh penilaian yang nggak bias.

Tuh kan?
Memang seruan kalau beda!

Belum lagi kalau kejadiannya gini :

A: “Suka film nggak? Film favoritnya apa?”
B: “Gue suka Lord of the Rings, Shrek, sama film dokumenter kayak Oceans dan The Cove.”
A: “Serius lo? Gue juga sukaaaa .. ih padahal kan ga semua orang bisa ngerti jokenya Shrek.”
B: “Iya,”
A: “Kalo serial TV sukanya apa?”
B: “Friends, Criminal Minds, The Big Bang Theory. Lo apa?”
A: “Err .. sama juga.” (mulai takut dibilang ikut-ikut)
B: “Oooh. BTW kira-kira deket sini ada tukang mie ayam ga sih? Gue laper, terus lagi pengen banget makan mie ayam .. salah satu makanan favorit gue soalnya ..”
A: (nyaris bilang “Haaaa masa sih, gue juga!” tapi jiper takut disangka nyama-nyamain aja, akhirnya cuma bilang) “Kayaknya ada deh di perempatan Benhil situ.” (sok nggak yakin, padahal tempat makan favorit)

Yaaa intinya sih kalau berbeda, lebih banyak aja bahan obrolannya. Bahan obrolan yang bisa memicu percakapan selama berjam-jam – yang akhirnya bikin saya takjub karena orangnya asyik banget diajak ngobrol. On most issues, we have different perspective. Itulah yang bikin durasi mengobrol jadi lama. Karena masing-masing butuh waktu banyak untuk menjelaskan kenapa dia berpendapat begini, bukannya begitu.

Saya pernah banget ketemu sama orang seperti ini.
We dated for a while. Awal-awalnya sih seru banget. Ya itu, cause we are two different people. We have lots of differences. We are different even on the most core issues. Dan yang bikin tambah menggila, kita sama-sama passionate di 1-2 hal spesifik, dan jarang sekali ketemu orang yang seperti itu.
So yes, we were attracted to each other.

Tapi lama-lama, rasanya agak aneh juga.
Karena saat saya capek, ketemu dia dan rasanya pengen manja-manjaan aja dan bahas hal-hal ringan (baca: nggak usah berdebat soal ini itu deh) akhirnya kita nggak bisa banyak ngobrol. Cause most things will provoke arguments, as we stand on the opposite sides of most things, and we were too tired to argue. Akhirnya yaaaa ngobrol-ngobrol cetek aja.
Tapiii .. di saat sedang fit pun, diskusi/argumen pun bisa memanas dan ujung-ujungnya malah bisa jadi berantem beneran.
Jadi memang lebih baik tidak bahas hal-hal itu sama sekali. We just agree to disagree, meski ada saat dimana saya dan dia sama-sama “gatal” karena saya tidak mengerti, kenapa dia bisa berpendapat A, dan dia tidak bisa mengerti kenapa saya berpendapat B.

They say opposites attract. Yes, they do. I won’t deny that.

However, I still think maybe it’s better to settle down with the one that has more similarities than differences.

Kenapa? Yaaaa simpel sih.
I can always argue my brains out, with anyone out there.
You don’t need to know someone closely, personally, or to be able to confide in the person – in order to involve in the argument with him/her.
You can argue with anyone.

But when you’re tired and drained,
the last thing you need is someone who argues everything you say.

You just need someone you trust, someone you know, someone you feel familiar with, someone whom you know will accept you just they way you are,
someone whom you know will not look for opportunities to stab you from the back,
someone who can simply say,

“Come home. I’ll give you a hug. Abis itu kita browsing cari paket liburan diving yang oke, terus kita kabur diving bareng deh. By the way, aku tadi beli DVD The Big Bang Theory yang baru, nanti nonton bareng yuk!”

See?
Similarities are awesome.

Hahahahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s