Friendster Returns

Standard

Tergoda oleh beberapa orang yang saya follow di Twitter yang baru-baru ini login ke Friendster untuk nostalgia, malam ini saya melakukan hal yang sama.

OMG. Ternyata benar. Saya tidak bisa tidak bernostalgia.

Apalagi di bagian testimonials. Ada total 176 post di bagian testimonials saya, tentunya tak semuanya testimonials, ada juga beberapa yang merupakan ucapan selamat (ulang tahun/natal) atau pesan berbalasan laksana wall di Facebook.

Rata-rata yang menulis di sana adalah teman-teman kuliah saya semasa S1. Teman-teman kuliah saya rata-rata bilang saya orangnya ketawa melulu, berisik, petakilan, banyak temennya, nggak bisa diam, dan pinter (ehm).

Sementara teman-teman SMA/SMP/SD bilang saya dulu penggemar komik Jepang, boyband dan suka ngasih contekan ulangan/PR. Mereka juga bilang saya orangnya rame dan agak berisik. Well, sepertinya kebiasaan ini yang terbawa sampai saat saya kuliah ya ahahaha😀

Saya menemukan juga satu postingan testimonial dari mantan pacar semasa kuliah. Olala. Nostalgia semakin menjadi.

Jadi, dialah mantan pacar saya yang paling signifikan, as in, saya menghabiskan beberapa tahun berusaha untuk benar-benar lepas dari dia. Dialah salah satu sahabat terdekat saya, yang kemudian jadi pacar. Sangat sebentar, kemudian putus lagi saat berantem pertama kali. Bertahun-tahun kemudian, beberapa mantan pacar kemudian, kami pacaran lagi. Lagi-lagi berantem terus. Akhirnya kami putus lewat pertengkaran sengit. Nyaris setahun kemudian kami baru bisa mengobrol lagi dan berekonsiliasi.

Friendster hadir di masa-masa kuliah, dan beberapa tahun setelah saya lulus. Friendster juga ada di saat saya pacaran lagi dengan dia untuk kedua kalinya, yang ditandai oleh tiga testimonials yang saya tinggalkan di profil Friendster dia (yang ternyata masih tersimpan rapi di profil dia! Hahahaha). Salah satu tulisan itu adalah berupa puisi. Alamak. Puitis sekali saya waktu itu. Lalu ada juga dua kata “love you” yang saya tinggalkan di situ. Aaah, jadi malu. Hahaha. Sepertinya semua orang yang baca tulisan saya di profil dia pasti bisa membaca seberapa saya jatuh cinta sama dia.

But oh well, sudahlah. Saya tahu saya jujur saat saya menulis itu.

Tapi jadi kepikiran,

What will people say in my profile if they’re asked to write me a testimonial? Masihkah mereka bilang saya berisik, petakilan, nggak bisa diam, dan ketawa melulu?

Will I be brave enough to write sappy words on the profile of people I had fallen in love with?

Will I be courageous enough to say ‘I love you’ that publicly?

Sepertinya jawabannya tidak untuk ketiganya.

Hubungan pacaran saya terakhir, saya sudah masuk jaman Facebook.

Sama-sama social network, tapi entah kenapa terasa jauh lebih rumit sekarang.

Ganti status dari “Single” menjadi “In a Relationship” aja butuh waktu, setelah berhari-hari terjadi pergumulan antara hati, otak dan nama pacar saya yang saban kali muncul di ponsel.

Karena dia orang visual, menggombal pun secara visual – melalui foto dan caption. Itu dari dia. Dari saya? Paling banter cuma berani kasih komentar di foto-foto dia dengan joke gombal terselubung. Boro-boro nulis puisi! Hahaha.

Dengan segala kerumitan yang ada sekarang, rasanya menyenangkan mengunjungi Friendster.

It’s like a memory box, from the days when things were still simpler.

When I was still a lot more expressive.

When I was described as “bawel, ketawa melulu, petakilan, nggak bisa diam.”

Disuruh balik ke sana lagi?

Jelas tidak bisa. I’ve come a really long way since those days, I cannot return anymore.

However, it’s kinda nice to be reminded,

I was once that kind of person.

🙂

16 Mei 2011

02.07

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s