Hujan dan Kupu-Kupu

Standard
Sekali lagi matanya melirik ke sudut meja. 
Sebuah blackberry tergeletak tanpa suara. 
Diam. Mati.
Bahkan lampu merah yang biasanya berkedip tanpa henti sepanjang hari pun redup.
Bisu. 
Dia menghela nafas. 
Diam-diam berharap lampu merah itu berkedip, diiringi suara dentingan yang mengikuti sepersekian detik kemudian.
Diikuti sebuah nama yang tercetak tebal, tanda pesan masuk baru diterima.
Ah.
Melihat nama itu saja biasanya kupu-kupu di perutnya sudah berterbangan ke sana kemari.
Kupu-kupu genit, yang biasanya dia marahi, karena sering berkelana tanpa kendali
dari hati menuju otak, sehingga seisi otak hanya penuh dengan sosoknya,
atau menuju jari-jemari, membuatnya tak mampu untuk tak membalas pesan singkat yang baru diterima,
atau menuju bibir, sehingga ia tak mampu berhenti tersenyum.
“Kupu-kupu pengkhianat!” otak sering menghardik.
“Kata siapa dia boleh memikirkannya sepanjang hari? Kata siapa dia boleh terus menerus berbalas pesan singkat, seolah tak ada hal lain yang lebih penting yang harus dikerjakan? 
Tak tahukah kamu kalau semua itu akan menghancurkannya suatu hari nanti?!”
Namun kupu-kupu tak pernah peduli. 
Setiap dihardik otak, mereka langsung berlindung di balik hati yang melirik otak dengan mengancam protektif. 
“Don’t be such a wuss. Nggak akan ada apa-apa kok. Biarkan saja mereka bermain dulu.”
Otak pun berdecak malas. Dia sudah terlalu sering bertengkar dengan hati. 
“Ya sudah. Terserah.”
Otak pun kembali duduk dan mengamati tanpa berkomentar. 
Namun bibir itu tersenyum, dan jemari pun bergerak menekan trackball. 
Sebuah kalimat singkat, namun mampu memicu seruan riuh kupu-kupu laknat.
“Hey, lagi apa?”
Dan begitulah, kalimat singkat itupun biasanya akan diikuti berbaris-baris percakapan, 
tawa lepas yang mengikuti lelucon-lelucon bodoh yang dilontarkan, 
bersama menghabiskan bermenit-menit membicarakan berbagai hal, 
talking about nothing and everything in the same time,
Tapi tidak kali ini.
Blackberry itu masih diam. 
Bisu. Mati.
Dia benci kebisuan seperti ini! 
Dia memandang keluar jendela. 
Hujan deras mengguyur kota. 
Matahari pun belum sempat muncul pagi ini – hujan menyikutnya di pintu, dan menyerobot keluar lalu mengunci pintu di belakangnya sehingga matahari pun harus menyerah kalah.
“Aku ingin dia ada di sini.”
Otak menghela nafas. 
“Kamu tahu dia tak akan datang,” ia akhirnya membuka suara.
Dia sudah terlalu lama memutuskan untuk diam. Mengamati hati yang dulu selalu tersipu dengan pipi memerah, yang kadang menyala marah, untuk kembali tersipu bahagia – namun meredup gelap akhir-akhir ini. 
Hati memalingkan wajah, tak rela otak melihat ekspresinya yang sendu. 
“Aku tak berharap dia datang untuk tinggal kok.”
“Lalu apa? Datang untuk kemudian meninggalkan kamu lagi?”
Hati diam. Menghela nafas.
“Aku ingin tertawa bersama dia lagi. Is it too much to ask?”
“It’s not. Dan aku yakin otak dia juga sependapat sama aku. Tapi aku tak yakin hatinya mengizinkan dia untuk itu.”
Hati menghela nafas. 
“His heart is one of the hardest, the most difficult heart I have ever seen. Ada kalanya aku bisa mengobrol santai dengan dia – then, I could usually feel the warmth. Tapi entah kenapa setiap kali hal itu terjadi, tak lama kemudian duri-duri tajam mulai bermunculan dari tubuhnya. Duri-duri itu lalu menusuki aku, dan memaksa aku pergi.”
Hati diam sejenak.
“Dan saat itu terjadi, dia pasti menatapku seolah aku orang asing. Seolah kami tak pernah mengobrol sebelumnya. And that hurts. I thought we are already friends, but it turns out .. he still sees me as a stranger.” 
Otak diam mendengarkan. 
“Tahu nggak, sekarang aku bahkan tak dapat melihatnya lagi. Terakhir kulihat sebuah tembok baja yang dijaga serdadu telah dibangun di depan pintunya. Serdadu sok, yang cuma bisa melontarkan kalimat-kalimat sombong menyebalkan yang menyakitkan. Aku benci serdadu itu! Dia nggak kenal aku, aku juga nggak kenal dia. Mendingan dia mati saja. Serdadunya, maksudku, bukan dia.”
Hati tersenyum pahit.
“Sebenarnya, aku ingin sekali titipkan pesan untuk dia. Kalau perlu lewat serdadu itu. To tell him that I miss laughing with him. Tapi aku tahu serdadu jahat itu pasti akan menghempaskan pesan aku ke dalam api hingga musnah. He hates me that much,”
Otak menghela nafas. 
Dia pun tak tahu harus bagaimana.
Pijar hati pun semakin redup. 
Ini adalah hari dimana rasa rindu itu terasa lebih kuat dari biasa. 
Otak tahu, hati biasanya mampu mengalahkannya, 
tapi tidak hari ini.
Kupu-kupu pengkhianat pun terdiam dengan sayap menguncup. 
Pijar sayapnya juga redup, mungkin sebentar lagi mati. 
Mereka tak mampu hidup di hati yang sedih. 
“Besok, Hati. Besok hujan pasti tak turun lagi.”
Blackberry itu masih diam.
Bisu. Mati.
Dia menatap Blackberrynya dengan gamang. 
Tangannya terulur, hendak meraihnya namun berhenti di tengah jalan.
Tidak.
Mungkin lain hari. 
Mungkin .. 
Hujan masih terus turun, tanpa henti.
images taken from here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s