A Sidenote on What Happened Last Night

Standard
It was almost 2 AM, but I still couldn’t sleep.
Sesuatu yang aneh, karena harusnya setelah apa yang terjadi sepanjang hari kemarin, saya harusnya tertidur pulas karena hari kemarin begitu melelahkan. 
Kemarin adalah harinya. Hari dimana jerih lelah dua bulan terakhir berpuncak di sebuah acara yang berdurasi kurang lebih dua jam. 
Yup, kemarin adalah hari pelaksanaan Konser Amal untuk Anak-Anak Penderita Kanker, GIVE HOPE A HAND – Kejar Mimpi Sampai ke Bintang, yang diselenggarakan oleh Helping Hands Project.
Semalam terasa begitu surreal. Terasa begitu luar biasa. 
Hampir seluruh kursi berjumlah 301 itu terisi.
Seluruh penonton dihibur oleh enam belas artis Indonesia yang rela mendukung acara ini tanpa dibayar sepeser pun, bahkan mereka pun diminta untuk membawa aksesoris sendiri dan melakukan make up dari rumah.
Dan pada akhirnya kami berhasil mengumpulkan dana sebesar kurang lebih Rp. 44,000,000,- ditambah Rp. 20,000,000,- yang diberikan oleh perusahaan sponsor utama kami.
Setelah berkutat dengan persiapan-persiapan sebelum hari H, saya akhirnya bisa duduk di kursi penonton, dan menyaksikan semuanya berlalu di depan mata saya.
 
Saya merasa betapa konser itu begitu personal. 
Kami bebas bernyanyi bersama artis-artis saat mereka menampilkan medley lagu anak-anak yang begitu akrab di telinga. 
Kami bebas berseru kagum dengan penampilan para artis yang memiliki suara luar biasa.
Kami bebas tertawa melihat anak-anak penderita kanker itu menari diiringi lagu Justin Bieber penuh gaya. 
Kami bebas menangis saat melihat mereka bernyanyi lagu Jangan Menyerah dari D’Masiv yang mereka hafal di luar kepala. 

Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini, dan tak pernah putus asa …
Saya menangis.
Berinteraksi dengan mereka selama persiapan event membuat saya tahu bahwa mereka adalah anak-anak yang sangat ceria dan menggemaskan, meski masing-masing harus menghadapi pertempuran yang berat melawan kanker yang mereka derita.
Saya baru menyadari seberapa manjanya saya. 
Saya ingat hari-hari dimana saya bangun dengan perasaan berat di perut karena teringat bahwa saya harus menerima bahwa orang yang saya sayangi ternyata “nggak segitunya” sama saya.
Saya ingat hari-hari dimana saya jadi bad mood dan mudah marah karena hati gundah gulana, sekali lagi karena argumentasi dengan seseorang yang begitu dekat di hati. 
Padahal,
saya punya pekerjaan.
saya punya keluarga yang masih utuh
saya punya sahabat-sahabat luar biasa yang sayang ke saya seperti saudara sendiri.
dan most of all, saya sehat.
Ok, saya memang tidak punya pacar. Kehidupan percintaan masih gonjang-ganjing. But apart from that, i think my life is pretty okay.
Berarti saya punya empat faktor besar yang harus disyukuri, dan satu faktor yang *belum* bisa disyukuri. Hell, FOUR are supposed to beat ONE! Tapi yang sering terjadi malah sebaliknya. 
Melihat anak-anak itu bernyanyi lagu itu semalam terasa seperti mengembalikan masalah saya kepada perspektif yang seharusnya. 
Saya punya lebih banyak faktor untuk disyukuri daripada ditangisi. 
It’s time to stop overrate love/relationship issues. To give it more emphasize than it deserves.
Sudah saatnya saya lebih bersyukur dengan ada yang ada.
Karena ya, hidup adalah anugerah.
Saya harus berhenti untuk menganggap seluruh alam semesta berputar di sekeliling saya dan masalah saya. Saya harus berhenti untuk berpikir, “Gila, hidup gue aja belum beres, masa gue mau mikirin masalah orang lain?”
Karena masalah kita nggak akan pernah beres, guys!
Kalau kita menunggu semuanya beres baru mau mengulurkan tangan membantu mereka yang membutuhkan, bisa-bisa kita mati duluan sebelum sempat melakukan sesuatu!
Semalam terasa extra luar biasa, karena saya tahu darimana Helping Hands Project berawal.
Tahun 2008, lima perempuan yang berulang tahun antara bulan September sampai Januari berkumpul di Pondok Indah Mall untuk mendiskusikan acara amal yang akan diadakan sebagai ganti acara makan-makan bareng untuk merayakan ulang tahun. One thing leads to another, project yang diniatkan sebagai acara internal skala kecil menjadi besar karena banyak orang yang tergerak ikut membantu saat acara ini disebar luaskan di internet.
Project ini pun tadinya tidak ada namanya. 
Nama Helping Hands Project bermulai dari salah satu postingan blog yang berjudul “Helping Hands Needed” – semata untuk diartikan secara harfiah dimana kami membutuhkan tangan-tangan yang mau membantu target kegiatan amal kami waktu itu.
Namun semua mulai menyebutnya dengan Project Helping Hands .. sehingga perlahan disebut sebagai Helping Hands Project (for the sake of grammatical correctness hahahaha)
Dan untuk project pertama, tanpa disangka, kami berhasil mengumpulkan sumbangan senilai sekitar Rp. 27.000.000,- (total)
Yes, Helping Hands Project dimulai dari niat kecil antar teman, yang kemudian “snowballing” seiring waktu, sampai pada titik dimana semalam kami berhasil menyelenggarakan sebuah konser amal untuk anak-anak penderita kanker dan mengumpulkan dana sebesar Rp. 64,000,000,- in total, dimana acara kami diliput oleh beberapa stasiun TV, diiisi oleh beragam artis dan penyanyi jempolan, dan dihadiri oleh figur publik.
Rasanya luar biasa dan nyaris tak dapat dipercaya.
Sebagai seseorang yang dulu hadir pada pertemuan pertama di Pondok Indah Mall hampir dua tahun yang lalu, dan semalam duduk di kursi penonton sebagai Ketua, saya menyadari seberapa Helping Hands Project begitu diberkati oleh Yang Di Atas.
I can witness with my own eyes, how He opens doors, how He opens hearts.
Tahun ini,
Dia yang bukakan jalan supaya proposal HHP bisa diapprove dan kami bisa memperoleh gedung gratis di Goethe Institut dan kostum gratis dari Kavi Indonesia dan Lonkka.
Dia yang bukakan hati sehingga artis-artis pengisi acara bersedia mendukung acara tanpa hitung-hitungan.
Dia yang bukakan hati setiap orang yang melihat publikasi konser kami sehingga mereka mau membeli tiket (dan kemudian datang menonton) ataupun sekedar menyumbangkan dana meskipun mereka tidak kenal siapa kami secara pribadi.
Saya benar-benar percaya bahwa semua itu pekerjaanNya, kami hanyalah perpanjangan tanganNya saja. 
Dan semalam saya benar-benar merasa Tuhan menepuk punggung saya dan berkata, “Good job, Kid,” sambil tersenyum bangga. 
Dan saya tahu maksud Dia bukan hanya saya saja, tapi juga teman-teman satu team saya di Helping Hands Project, sehingga itu menjadi satu pesan yang saya teruskan ke mereka pada email ucapan terima kasih saya yang saya kirim ke seluruh panitia semalam.
Seorang ateis yang mengobrol dengan saya semalam bersikeras bahwa itu sama sekali tidak ada faktor Tuhannya. Semua itu adalah karena saya, karena tim saya, Tuhan sama sekali tidak ikut campur (karena menurut dia Tuhan itu kan tidak ada).
Ah. 
Saya tidak terlalu berniat mendebat panjang.
Because I know what I have been through, and I know He has been there right by my side all along.
No matter what other people may say. 
Jadi, 
terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu kelancaran Helping Hands Project.02 : GIVE HOPE A HAND : Kejar Mimpi Sampai ke Bintang
semua donatur dan sponsor,
semua pengisi acara,
semua anggota tim panitia,
we couldn’t have made it without all of you. 
untuk Timothy, Vivian, dan anak-anak YKAKI yang hadir semalam
our cancer-fighting little warriors,
thank you for reminding us, that life is, indeed, a blessing – and we have to be grateful for it.
Dan terutama, dan terpenting, untuk Yang Di Atas.
We know You open hearts, You open ways.
Everything will be nothing, without You. 
And everything I do, 
will be nothing, 
without You.
I love you, God.
*Yes, i am a GBU chick after all, peeps. And I am proud to be one.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s