Is it really the end?

Standard
Masih tentang message yang mendadak saya terima dari ex dating partner saya dua hari yang lalu. Pagi tadi saya mengobrol dengan salah satu teman saya penganut aliran idealis romantis dan dia pun bertanya beberapa cerita rinci mengenai lelaki ini – kenal dimana, sedekat apa saya dengan dia, dllst.
Dan saya pun mulai cerita beberapa hal sama dia, yang ternyata masih sangat saya ingat. I told her some of the good things that he has done for me (just the highlights, of course – momen-momen yang membekas karena ketakjuban saya waktu itu bahwa dia bisa melakukan hal-hal tersebut untuk saya), also my impression about his personality.
Wow. 
All these years have passed, and yet i am still talking about him like we’re just dating few weeks ago. Even the guy has now moved to another country and i haven’t seen him for almost the whole two years, he’s still one of the topic that i discussed with my friend.
Entah ya, meskipun kami masih sesekali kontak via facebook selama ini, tapi sama sekali kami nggak pernah mendiskusikan apa yang pernah terjadi antara saya dan dia. And by him bringing up the subject and stated his mind about it recently, it kinda opens up again one folder with his name hugely written on it that has been kept inside my brain (saya yakin folder yang sama bernama saya juga sedang terbuka di otak dia).
And it’s hard to ignore that damn folder. 
After plenty of consideration I finally said that i thought the time i spent with him was indeed nice (cuma itu? iyaaaa itu aja duluuuu .. itu juga karena dia mau bring up the subject duluan, kalau nggak sih sepertinya semua itu bakal jadi rahasia yang dibawa mati hahahah) – meskipun saya nggak tahu apa maksud dia mengutarakan semua itu sama saya.
But one thing for sure,
i thought everything has ended two years ago.
Taruhlah, although some of what he said may sound corny or cheesy at some level, semua yang dia katakan itu benar.
Bahwa setelah dua tahun, saya masih ada di otak dia.
Bahwa setelah dua tahun, dia masih suka kangen sama saya.
Bahwa setelah dua tahun, dia masih kadang menyesal bahwa dia telah melewatkan kesempatan yang ada bersama saya waktu itu.
Nggak sih, nggak lantas dengan adanya message ini, lalu mendadak saya jadi berharap bisa balikan sama dia lagi. Nggak gitu juga. It’s still too early to think whether there will be a new episode for this dating series.
But let’s think this way.
Kalau (kalau aja nih, permisalan. nggak ngarep hehehe) ternyata kemudian nanti ada sesuatu antara saya dan dia, berarti cerita kami belum selesai waktu itu. 
The end that i thought was an end, was actually NOT an end after all!
What is actually the end?
is it the time when a particular person left you?
is it the time when a particular person moved to another country?
is it the time when a particular person said that you two shouldn’t be together anymore?
is it the time when a particular person said that he/she doesn’t love you anymore?
Let me tell you something, 
those probably are not the end. 
Your story doesn’t necessarily end when those so-called-endings happened.
A lot of things can still happen – there’s an INFINITE possibilities of things that can happen. 
Nggak sih, tulisan ini nggak mendorong supaya kita jadi delusional, memberikan alasan untuk tetap bertahan terhadap sebuah hubungan yang destruktif dan tanpa prospek, dengan pikiran bahwa kondisi bisa berubah suatu hari nanti.
No, that’s not the point.
For me, a goodbye is sometimes necessary.
Menurut saya, setiap orang yang Tuhan kirim untuk masuk ke dalam hidup kita itu seperti KELAS. (for more explanation please click here)
With a goodbye, kita membebaskan diri kita untuk berinteraksi dengan orang lain yang ditugaskan untuk “menemani” kita dalam menjalani proses pendewasaan yang berikutnya, dan juga membebaskan dia untuk menjalani proses yang sama.

Berdasarkan sistem KELAS itu juga, kita yang sudah “lulus” dari kelas 6 tentunya memiliki tingkat kedewasaan dan kematangan karakter yang berbeda daripada kalau kita tetap bersikukuh untuk bertahan di kelas 4 bersama orang yang sama.
so yes, a goodbye is sometimes necessary.
sometimes, it’s something that you need to do.
jangan kuatir, seperti kata pepatah yang paling klise :
kalau jodoh nggak kemana.
kalau memang dialah orang yang menurut Tuhan paling tepat untuk kita, mau kemana juga akan ketemu kok.
bisa aja cerita kembali bersambung suatu hari nanti, seperti mantan teman kencan saya yang mendadak mengungkap semua itu dua tahun kemudian.
bisa aja seperti cerita teman kantor saya dimana dia dan (bakal) suaminya sempat pindah ke dua negara yang berbeda, dan sempat agak hilang kontak juga, sampai suatu hari dia mengabari (bakal) suaminya bahwa dia dilamar orang lain – yang mendorong (bakal) suaminya itu untuk menelepon dia dan keluarganya (yang saat itu tinggal di Jakarta) untuk melamar, dan mereka pun menikah.
bisa aja seperti cerita teman kuliah saya yang putus-sambung terus sama pacarnya sejak kuliah, dan pacarnya pun sempat kuliah beberapa tahun di Eropa, namun saat dia kembali mereka akhirnya pacaran serius dan menikah tahun kemarin.
 
Percaya deh, Tuhan itu punya perspektif waktu dan tempat yang berbeda sama kita. Meskipun bagi kita udah jauh banget, bagi Dia jarak Indonesia-Eropa atau jarak bertahun-tahun kemudian itu nggak ada apa-apanya, palingan cuma sejentik jari.
He can easily unite you with someone that He thinks is the best for you, nggak peduli kalian berdua ada dimana, nggak peduli sudah berapa tahun yang lewat sejak terakhir kali ketemu orang itu. 
so, what’s the point of this post?
well, the bottom line is, stop worrying about it too much :) 
Sometimes we focus too much on this soulmate stuff, until we forget that there are plenty of other things that we should be focus on. 
Instead of keep talking, mulling, agonizing or even depressing about love that won’t stay, or a love that doesn’t work, just shift our focus to something else. Occupy your mind with other things. Simply, be productive.
If it’s meant to be, it will be. 
If it’s not, it won’t. 
As simple as that. 
There’s a possibility that the end might not be an end after all, we never know.
Kalau memang dia yang terbaik buat kita, pasti akan ketemu lagi.
Kalau nggak ketemu, berarti bukan dia yang terbaik untuk kita. 
And yes, sometimes what we need is not something that we want. 
Anak kecil itu kan’ selalu pengen makan coklat atau permen tanpa sadar bahwa kebanyakan makan itu bisa bikin gigi jadi keropos. Karena itu orangtuanya selalu membatasi jumlah coklat / permen yang dia boleh makan. 
Kita memang nggak selalu tahu apa yang baik untuk kita, apa yang nggak baik. Only one who knows – the Big Boss up there. And we know how Almighty He is, how loving He is. 
So, why worry?
🙂
(to be honest, sampai beberapa saat yang lalu saya pun masih suka agonizing on one particular guy, but then the facebook message comes. and i realize how useless it is to agonize over that matter hehehe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s