The Office Flirts

Standard
Jadi ya, saya itu nggak pernah mau kencan atau pacaran sama lelaki satu kantor. 
Sebenarnya lebih karena pengalaman yang nggak menyenangkan sih, dulu saya pernah pacaran satu kantor (duluuuu .. bulan-bulan pertama baru kerja, masih belum pinteran hehehe) terus putus-nya agak-agak messy.
Messy, karena kemudian saya harus melihat dia deket-deket sama cewek-cewek lain, dari manager finance and accounting sampai ke operator kantor yang semlohai.
Messy, karena waktu itu kan ceritanya saya kerja di perusahaan sepupu saya, jadi sepupu saya pun tahu kalau saya pacaran sama dia – dan ikut nggak suka pas mantan saya ini jadi kecentilan deket sama perempuan lain. Dia jadi agak-agak sentimen sama mantan saya ini, dan saya pun dituduh menjelek-jelekkan nama dia di depan sepupu saya, yang a.k.a bos dia (padahal seriusan deh, saya nggak pernah ngomongin soal dia sama sepupu saya. sepertinya sih sepupu saya yang sebel sendiri melihat kelakukan mantan saya waktu itu.
Nah, singkat cerita, sang mantan kemudian resign – konon salah satu sebabnya adalah karena dia merasa tak ada gunanya tetap bekerja di situ, kalau bos besarnya sudah nggak suka sama dia.
And since then, i vowed to never relate personally to any man I know from the office.
To never date, let alone have relationship with any man from the office.
Well, for the past four years, it was an easy thing to do. Saya masih bekerja di perusahaan sepupu saya itu, dan semua orang tahu siapa saya. Kalaupun ada anak muda yang cukup oke yang baru masuk kantor, dia pasti kemudian dikasih tahu sama teman-temannya mengenai saya yang sepupu big boss (FYI, di kantor saya yang lama bener-bener dikit anak mudanya, jadi pasti kentara siapa aja)
Well without having to do much, saya tak pernah mengalami kesulitan menghindari hubungan personal sama lelaki manapun di kantor. 
Kalau pun saya harus berinteraksi one to one sama lelaki dari kantor, biasanya saya cuma berani sama bapak-bapak yang saya tahu pasti sudah menikah dan cukup “lurus” sehingga nggak akan tertarik sama saya. 
Atau nggak, sama seseorang yang saya tahu sudah menganggap saya temen banget, jadi kalaupun saya harus menghabiskan setengah hari sama dia karena ke client bareng pun bawaannya bercanda dan curhat. 
Anyway, that was until one year and three months ago.
Saya resign dari kantor itu, masuk ke kantor ini, dimana saya tak punya hubungan keluarga sama SIAPAPUN. But still, habit saya kebawa sampai ke kantor ini. 
Saya tetap menjaga jarak sama lelaki dari kantor – yang muda, apalagi yang tua tapi ganjen. 
Setengah anti sosial, karena meskipun penampilan saya tampak seperti seseorang yang outgoing dan seneng hahahihi, tapi saya nyaris nggak pernah berbasa-basi yang nggak perlu.. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa saya nggak punya temen laki-laki — lelaki yang sering saya ajak ngobrol dan bercanda cuma bos-bos di divisi saya – padahal saya sudah bekerja di sini lebih dari setahun.
Nah, dulu ceritanya saya pernah ketemu seseorang anak accounting yang bekerja untuk anak perusahaan yang lain, tapi ruangannya deket sama saya. We rode at the same bus, akhirnya ngobrol dikit sebelum dia turun 10 menit kemudian. 
Dan lately kalau lagi jail saya suka sok-sok bercanda sama dia.
Kita berdua suka sok-sok mau janjian (taun baruan bareng lah, nonton hari Minggu lah) tapi nggak pernah ada kelanjutan apa-apa (bok, we don’t even swap phone numbers / aiphone numbers. percakapan cuma sebatas kalau lagi nggak sengaja papasan aja – how can we do anything outside the office?)
Hari Jumat dua minggu yang lalu, seusai jam kantor, saya melihat dia sudah ganti baju pakai baju santai, dan langsung saya bercandain :
Saya : “Jieeee mau kencan yaaaaa?”
Dia : “Iya dong.”
Saya : “Terus, kencan sama guenya kapan? Gimana sih ..”
Dia : “Ya udah, nanti hari Minggu ya.”
Saya : “Nggak bisa. Masa hari ini kencan sama perempuan lain, hari Minggu sama gue. Gue nggak bisa diduain gitu.”
Dia : “Ya udah deh, yang malem ini gue batalin.”
Saya ketawa ngakak sambil masuk lagi ke ruang saya. 
Dan seperti biasa, percakapan / janjian hari itu nggak pernah dibahas lagi.
Nah, beberapa hari yang lalu, kita berpapasan lagi di tangga. Sok-sok janjian lagi hari Minggu besok. Terus mendadak dia nanya nomer ponsel. Tapi waktu itu saya sudah di ujung bawah tangga dan dia di ujung atas tangga, saya bilang nggak mungkin juga saya teriakin nomor saya.
Terus nggak ada obrolan lagi (kita memang nggak pernah secara sengaja dan niat ketemuan / telp-telpan via aiphone – beneran ngobrol kalau lagi papasan aja) sampai hari ini.
Hari ini kita sama-sama lagi megang ponsel, terus dia bilang, “Mumpung lagi sama-sama megang HP nih ..” (maksudnya bisa tukeran nomor ponsel)
Saya cuma ketawa sambil terus berjalan.
Tapi .. saya kok jadi jiper sendiri ya? 
It looks like we’re going to swap phone numbers eventually, and what will happen next?
are we going to really meet up outside the office?
Joking about dating outside the office is one thing,
but really doing it is a TOTALLY another thing!
Hahahaa. 
Baru diginiin aja saya udah panik.
i am such a LOUSY office flirt!  
*yup untuk alasan kejiperan yang sama jurnal ini saya set untuk contacts karena saya pernah lihat IT saya buka satu halaman MP di monitor komputernya*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s