The Ex Files

Standard

So, an ex suddenly buzzed me in YM about two weeks ago.
Well, yes, kami memang sudah berteman lagi sejak putus beberapa bulan yang lalu, jadi sebenarnya buzz dia hari itu bukanlah yang pertama kali. Dia bertanya basa basi soal cuaca ini itu, sebelum akhirnya saya menembak dia dengan pertanyaan “Jadi kenapa mendadak buzz gua?”

Then he said he’s thinking to propose his current girlfriend.

Yes, the same girl who “stole” him away from me.
Well, saya agak segan menggunakan kata “stole” sih, karena ini mengesankan bahwa saya berniat menjadikan dia milik saya seterusnya, kalau saja perempuan itu tidak mencurinya.

Naaaah .. tidak begitu juga sih kondisinya.
 
This is the guy who has the different religion, yang jadian sama saya lebih karena rasa klop yang muncul dari percakapan tengah malam selama berjam-jam, yang ada di saat saya lagi butuh temen ngobrol ini itu, dan akhirnya memicu rasa excitement, yang kemudian dengan cepat luntur saat kami jadian dan mulai harus menyesuaikan diri satu sama lain – while we’re not that in love with each other to have the willingness to do that.

So no, i have never intended to keep him forever. Or even keeping him for a long term.

Tapi waktu itu dia pacar saya – jadi saat dia jalan berduaan bareng perempuan itu dan ke-gap sama saya, tetap aja ada rasa tersinggung karena ceritanya saat itu kan dia masih milik saya.
Dan pada saat kita akhirnya putus dan dia jadian sama perempuan itu, tetap aja rasanya perempuan itu “mencuri” dia dari saya.
(padahal mungkin kalau minta baik-baik akan saya berikan secara sukarela kok hahahaha)

Anyway, ceritanya mantan pacar saya ini masih jadian sama perempuan ini sampai sekarang. Terus ya itu, dia buzz saya dan bilang kalau dia berpikiran pengen melamar pacarnya ini.

Satu hal yang teringat sama saya mengenai mantan saya ini adalah ketidak mampuan dia untuk konsisten sama apa yang dia katakan. Okay, he might have good intentions, but he often says things without considering his abilities and strengths, so often other people have to accept bitterly when he said “Sorry. It turns out that I can’t do it.”

So when he said he’s thinking to propose, i just said flatly,
“Make sure you don’t change your mind later on. It’s too big of a question to be revoked. It’ll hurt too much.”

Lalu dia mengakui bahwa dia pun sedang berharap bahwa dia tak akan melakukan itu nantinya. Lalu dia bilang kalau itu bener-bener kejadian (pernikahannya maksudnya, bukan dia berubah pikirannya) apakah saya mau bantu dia.
Jadi apa?
Some kind of HIS wedding organizer.

WHAT?

Dia bilang saya itu kan agak-agak galak dan obsesif sama details, cocok jadi WO ambisius yang nggak terlalu peduli gimana perasaan pengantinnya, yang penting show berjalan dengan lancar. He thinks i might make a perfect wedding organizer, I’ll create a perfect wedding. Dan dia yakin pacarnya sekarang nggak akan keberatan atau memprotes kehadiran saya, karena sampai sekarang dia masih merasa bahwa dia yang “merebut” mantan saya itu dari saya.

Then I said that i might be able to make a perfect wedding, but i am not sure i want to make a perfect wedding for HER. Mungkin saya kedengaran jahat, tapi sungguh, saya tak peduli sama perempuan itu, saya tak tertarik untuk kenal maupun menjalin hubungan sama dia, apalagi berlelah-lelah menciptakan pesta pernikahan sempurna (yang seharusnya, yang diharapkan menjadi yang) sekali seumur hidup buat dia.
They cheated on me, so I don’t think they deserve my best effort.

Mantan saya itu pun menerima penolakan saya. He said at least he tried (asking me).
Salah satu sahabat saya yang kenal sama dia cuma bilang mantan saya itu hanya coba untung-untungan saja bertanya apakah saya mau bantu atau tidak – kalau ternyata saya mengiyakan, berarti dia beruntung. Tapi kalau saya menolak, ya sudah.

Well, saya belum bicara lagi sama dia sejak hari itu. Jadi saya tak tahu bagaimana kelanjutan rencana dia. Tapi kemarin mendadak update status dia muncul di newsfeed Facebook saya, dan nadanya seperti nada lamaran. Lalu saya buka profil dia. Dan ya, dari update status dia hari ke hari, sepertinya dia memang jadi melamar. Probably with a diamond ring (dunno what the size is, though).

Hm.
Sumpah saya tergoda sekali untuk mengirim message ke perempuan itu. Cuma untuk bilang sebaris kalimat mematikan, “If he cheated with you, he’ll cheat on you.”
(sebenernya saya udah tergoda kirim message ini dari sejak putus sih, tapi saya tahan-tahan sampai sekarang hahahah!)
Tapi tidak.
Saya memilih untuk keep my mouth shut and say nothing.

Apakah saya iri sama pernikahan mereka?
Well, no.
i have to admit, if the same guy proposed to me – I’ll most probably say no.
Kenapa? Pertama, dia beda agama.

Oke, coba kalau dia nggak beda agama, will I say yes?
Nggak juga sih.
Kenapa?
Well, there are plenty of reasons, yang kalau saya jelaskan disini sama aja artinya saya membeberkan kekurangan-kekurangan dia ke seluruh dunia. Hahahhaa.

But yeah, saya merasa agak lega bahwa kabar pernikahan mantan tak membuat saya jadi menyesal ataupun kepingin. Meskipun ini mantan pacar yang terakhir, yang belum setahun yang lalu putusnya.

Saya lega karena ternyata saya nggak sebuta itu dalam menghadapi ide pernikahan. Nggak sepengen itu sampai membutakan diri terhadap kenyataan.

I think wanting to get married is one thing – i think most women have this desire, generally earlier than men. But it doesn’t mean women who have this desire will marry EVERY single thing that proposes, kan?
 
Well, at least not the women who still in their right mind (and I am glad to say that I am still in this category hahahaha).

Saya pernah dekat dengan seorang lelaki yang kemudian mundur dengan alasan dia bisa melihat saya pengen menikah, dan dia belum siap untuk itu. Unfortunately, he doesn’t give me enough time to tell him that I might want to get married, but it doesn’t necessarily mean I am dying to marry him! There’s still a lot of process, i have my own evaluation form that i need to fill based on my observation about him.
It’s too bad he immediately resigned from the observation program (but hey, bisa aja sih, ini alasan dia aja untuk mulai dating perempuan lain hahahaha we never know)

Eniwei, I am glad to say that the EX’s wedding plan doesn’t shake my world at all. Apparently, the file has already been closed, and it is no longer relevant to my current life.

Saya pun merasa lega bahwa beberapa hari yang lalu saya ketemu lagi sama mantan saya yang paling susah saya lupakan – it took me nearly 5-6 years to really get over this guy – dan saya ketemu dia berempat dengan pacarnya (yang sudah jadi teman saya juga) dan salah satu teman saya yang lain untuk berdiskusi project charity yang lagi berjalan – and all of us get along just fine.

All of us, maksudnya tentu saya, lelaki itu dan pacarnya (teman saya yang satu lagi itu bahkan nggak tahu latar belakang kami bertiga hahahahaa).

Malam itu saya bisa mengobrol dan bercanda lagi sama mantan saya itu seperti layaknya kita dulu sahabatan, dan saya bisa pulang ke rumah malam itu dengan perasaan biasa aja (ngga ada yang namanya kangen masa lalu atau apa) dan setelah itu saya masih suka ngobrol sama perempuan yang jadi pacarnya sekarang – like we have been doing for the last few months.

Beneran nih, sepertinya sejak tahun lalu baggage saya diselesaikan satu per satu.
Termasuk Ex files saya yang sekarang tak lagi memadati lemari “Pending Matters” saya.

Saya bisa dengan ringan menyimpan Ex Files ini di filing cabinet berlabel “RESOLVED” sehingga lemari “Pending Matters” saya pun terasa jauh lebih longgar dan ringan, dan tak lagi memberati langkah saya.

Now I can really move on without dragging my huge baggage behind me. Mungkin masih ada lah sedikit-sedikit isinya .. tapi yang pasti sudah nggak seberat dulu lagi🙂
(reference on baggage – please click here)

Anyhoo, how’s your PENDING MATTERS file cabinet?
Is is still overloading, or it’s almost empty?

🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s