Mantan Pencandu

Standard

Dua malam yang lalu, saya bertemu lagi dengan lelaki bajingan terjahat yang pernah saya temui.
Hahahaha.

Haduh, saya tuh tipe orang yang percaya bahwa pada dasarnya semua orang itu baik, jadi rasanya susah banget nulis klaim “bajingan terjahat” seperti di atas.
Apalagi kalau insiden sama dia sudah lewat nyaris dua tahun yang lalu, dimana sekarang saya sudah 100% pulih dari “luka perang” yang timbul saat dekat sama dia, jadi saat ketemu dia pun nggak ada dendam / grudges sama sekali.

Anyway, akhir-akhir ini, terima kasih pada sebuah lagunya James Blunt yang jadi ringtone ponsel saya untuk dia dua tahun yang lalu, saya jadi keinget lagi sama dia.

He’s this goodlooking guy with sappy eyes and smokin’ hot body that you just can define him with the word “hot”. One real bastard, that I had huge crush on for about nine months. Seseorang yang saat di depan saya selalu memperlakukan saya dengan begitu istimewa, meskipun kami sama-sama keras kepala jadi kadang-kadang berantem juga. Seseorang yang bisa banget melelehkan kemarahan saya dengan mendadak memeluk saya dan mengucap kata maaf.

Tuh kan.
Jurnal ini harusnya kan tentang cerita pertemuan saya dengan sang bajingan basi, tapi kok malah jadi jurnal perempuan yang lagi jatuh cinta sih?!

Anywaaayyy .. karena lagu James Blunt itu juga, saya jadi keinget sama dia. Bertanya-tanya apa kabarnya, meskipun nggak sampai berusaha menelepon dia dan ngajak ketemuan.

Nggak lah, saya nggak segila itu.

Saya tahu dampaknya pasti nggak bagus. Dampaknya antara jadi penyakitan (saya pernah menelepon dia persis habis makan siang, dan mendadak sakit maag gara-gara nahan marah sejadi-jadinya ke dia) atau jadi kegilaan sementara (dimana saya jadi mencandu dia lagi, and there goes me into the same shithole hahaha).

Kemarin ceritanya saya ke satu mal bilangan Sudirman untuk mengambil buku pesanan saya di salah satu toko buku. Mal itu lokasinya deket sama kantor dia, jadi sekali lagi, saya kepikiran jangan-jangan dia ada di mal yang sama.

ternyata BENER!

saat saya lagi naik eskalator dengan setengah autis, ponsel di tangan lagi SMSan dan kuping disumpel earphones, mendadak mata saya sedikit tertarik ke seorang lelaki ganteng yang turun di eskalator seberang bersama seorang perempuan dan anak usia 11 tahun.
cuma sekilas, secara saya nggak terlalu tertarik.
tapi lelaki ganteng itu ngeliatin saya, dan melakukan ekspresi-ekspresi aneh, akhirnya saya jadi menoleh lagi.

Oh Tuhanku.
Itu si bajingan ganteng!

Dia melambai, mengajak ngobrol singkat dari seberang eskalator sana, yang tentunya tak berlangsung lama karena kami sama-sama tiba di lantai masing-masing. Oh well, saya ternyata salah lantai sih, saya harus turun 2 lantai lagi, karena itu saya pun menempuh eskalator yang sama dengan yang dia tempuh tadi.

Tapi saya punya perasaan dia tahu saya melakukan itu, karena saat perempuan dan anak kecil tadi berhenti di depan sebuah counter di ujung eskalator, dia malah terus berjalan menuju deretan counter di seberang. Alhasil saya jadi berjalan agak di belakang dia (bok dia jalannya cepet bener dah hahaha) tapi saya sama sekali nggak berniat berteriak memanggil, jadi saya biarkan saja dia begitu, dan langsung turun saat menemui eskalator berikutnya.

It was only a 30-second-meeting, tapi jantung saya langsung deg-degan!
Pas di toko buku, saya berulang kali melihat ke belakang, berharap dia turun eskalator dan saya bisa melihatnya lagi.
Pas kelar dari toko buku dan siap capcus, saya melihat dia masih berdiri di lantai tempat saya terakhir ketemu dia, yaitu 1 lantai di atas saya. Tapi entah bagaimana, dia menoleh ke bawah dan melihat saya, sehingga kami sempat bertukar senyum dan melambai sebelum berpisah.

Lalu malam itu entah kenapa, saya jadi berharap dia mendadak menelepon saya setelah pertemuan malam itu.
Yang, tentu saja, tidak terjadi.

bwhauahahaha.

tuh kan!
entah kenapa bajingan itu biasanya begitu mempesona.
tetep aja saya deg-degan.
tetep aja saya jadi ngarep dia nelepon terus ngajak ketemuan.
tetep aja bikin saya jadi ingat kisah asem-manis timbul-tenggelam yang terjadi selama sembilan bulan itu (yang diingat tentunya hanya yang “manis” dan yang “timbul” aja hahaha)

tak peduli kondisi dia yang saya lihat malam itu semakin menguatkan informasi yang saya pernah dengar waktu itu, yang membuat saya menyimpulkan bahwa dia beneran bajingan yang jahat.

ah.
bajingan itu memang candu! 
kemarin rasanya kayak mantan pencandu narkoba yang melihat sekantong heroin dalam sebuah kotak berkaca ..

*oh my God, saya aja jijay sama perumpamaan sendiri*

hahahahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s