Di 2009

Standard

Inspired of a friend’s tweets today, i think i am going to make my “Di 2009 ..” list :

1. Helping Hands Project was born.
For you who don’t know, Helping Hands Project (HHP) is a charity based social community, yang terdiri dari saya dan teman-teman saya (dan teman-teman mereka) yang sekarang tim dan pendukungnya sudah semakin melebar.
Sebenernya sih intronya sudah mulai dari bulan Oktober 2008, tapi project pertama kita dilakukan bulan Februari 2009, dan bisa dibilang itulah hari kelahiran HHP.
HHP menjadi salah satu kebanggaan saya juga, bahwa bersama sahabat-sahabat saya, kami semua bisa melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain, dengan menunjukkan kekuatan cari sumbangan dengan metode MLM melalui email, blog, dan Facebook.
HHP menjadi sesuatu yang BAHKAN bisa saya taruh di CV (buat ngasih liat bahwa kerjaan saya nggak cuma kerja pipis pulang tidur aja sih hahahaha) – meskipun keampuhan menuliskan ini di CV belum terbukti sih, secara saya belum pindah kantor juga sampai sekarang .. hehehehe.

2. Saya memperoleh sahabat-sahabat yang luar biasa
Yup, like I once shared in my post before (click here), tahun ini saya merasakan sekali kehadiran mereka begitu berharga buat saya. They’re my friends in need are my friends indeed. Saya ketawa dan menangis bersama mereka. Saya juga punya foto-foto liburan yang keren karena bersama mereka, hahahaha.
Ah guys, i love you even more!

3. Saya akhirnya merasakan gimana rasanya pacaran beda agama
bhwuahhahahaa. jadi dari dulu saya suka pamer kalo saya nggak pernah pacaran sama cowok beda agama. mendadak tahun ini saya merasakan rasanya pacaran beda agama.
The guy wasn’t even existed in my life on 2008, he’s someone I met early 2009. We only dated for about six weeks though, tapi dari sini saya belajar kalo untuk saya pacaran beda agama itu seperti melakukan sesuatu yang tahu pasti tak akan ada ujungnya. It’s like doing something with no goals, dan itulah yang membuat kami berdua sama sekali enggan melakukan effort yang berlebihan untuk mempertahankan hubungan ini.
It’s bound to end someday anyway, so why all the hassle?
tapi well, setidaknya sekarang saya kan bisa dengan bangga bilang sama anak remaja saya nanti, “Ih, enak aja. Mama juga tahu rasanya pacaran beda agama .. ” dan lanjut menguliahi dia semua hikmah yang saya dapatkan dari pacaran beda agama saya ini, meskipun durasinya sangat singkat. Hahahaha.

4. I cut two (out of three) of my Credit Cards
Kartu Kredit itu kartu setaaaaaannnnnnnnnnnn!!!
oh. it makes you to believe that you can afford something, although in fact, you can’t.
Dan ini juga yang menjebak saya, dan saya yakin banyak teman-teman saya yang diam-diam punya kendala yang sama. However, tahun ini akhirnya semua itu selesai, dan saya menggunting dua dari tiga kartu kredit saya dengan bangga, dengan nggak goyah saat mbak-mbak customer service menawarkan free iuran tahunan, tapi sialnya kartu yang tersisa malahan kartu yang limitnya paling gede – ini gara-gara harus ke store untuk beli sampel kompetitor (dan reinbursementnya suka lama, jadi mesti pake kartu biar nggak ganggu cashflow) terus salah bawa kartu kredit padahal udah di kasir. Nasib. Akhirnya karena masih ada tagihan, yang ini nggak bisa diblokir. So I had to cut the other two.
Sampai sekarang teteeeppp aja kartu setan ini ngasih godaan. Tapi ya sekarang, pokoknya saya harus lebih pintar dari keledai!

5. I danced.
Yes, i am not a dancing person. I hate clubs, mostly because i don’t know what to do in there since i don’t dance and i don’t drink.
Tapi tahun ini saya berpartisipasi di sebuah konser amal yang mengharuskan saya untuk menari dan menyanyi (termasuk satu lagu dimana saya dapet giliran nyanyi solo) — so i did both, and i UNEXPECTEDLY enjoyed it (the dance, not the singing solo part)! Hahahaha.
Even one of my friends (who knows I don’t dance) was beaming proudly when he heard that i finally danced. Karena ini juga saya pergi ke satu klub bulan November yang lalu, I danced, and i enjoyed every single minute of it.

6. I let go my first love.
Setelah sekian tahun (enam atau lima ya? hahahaha) kesulitan melepaskan si Mr Big yang menjadi cinta pertama saya, tahun ini akhirnya saya bisa melepaskan keinginan saya untuk bersama dia. Proses ini berlangsung sedemikian jauh, sampai akhirnya saya bisa benar-benar berteman (dan ngobrol banyak) sama pacarnya yang sekarang (his long time obsession hahaha) bahkan melibatkan pacarnya dalam project HHP yang kedua. Saya bahkan lebih sering ngobrol sama pacarnya ini daripada sama Mr Big. Hahahaha.

7. I met my second love.
Bersama dia, saya benar-benar mengerti arti kutipan “You know you’re in love when you can’t fall asleep because reality is finally better than your dreams” because when I was with him,  I prefer to open my eyes and wake up, than to sleep and dream, because only by waking up I can be with him.
Bersama dia, saya benar-benar mengerti bagaimana rasanya menemukan seseorang yang “feels like home” – because it’s all safe and comfortable.
Dan sama dia juga saya mengerti, bahwa semua itu tak ada hubungannya dengan durasi dan frekuensi, because when you feel like you’ve met the right person, you just can’t help not to fall in love.
Tak peduli dia baru kamu kenal seminggu. Atau sebulan.
Hahahahaha.
(dan bukan, ini bukan si mantan pacar beda agama :D)

8. I am reconciled with God
Duh, hubungan saya sama Tuhan itu kayak love-hate relationship gitu sih. Saya seperti anak hilang yang baru balik lagi ke rumah Ayahnya, dan selama setahun ini saya banyak bertengkar / berdebat sama Tuhan mengenai banyak hal. Ada saatnya saya jadi anak pendiam dan penurut, tapi ada saatnya juga saya cengeng, merengek-rengek, dan protes melulu.
Sepertinya sudah satu tahun lebih saya jadi anak hilang, dan baru akhir 2008 kemarin saya kembali ke “rumah”. So this year feels like the early part of a relationship, when we fight all the time about our differences – our different vision and mission, our different method in doing things, our different method in reacting toward things, our different perception of timing.
However, setelah setahun, seperti layaknya hubungan pacaran – hubungan saya sama Tuhan mulai selaras. Bukan Tuhan yang menyesuaikan diri ke saya tentunya, tapi saya yang menyesuaikan diri sama jalannya Tuhan.
He changed me gradually with His own hands. I can really feel He’s working within me.
And now I feel more secured, less dramaqueen-ish, and more calm.

And I can only say thanks to Him.
Thanks for listening to my cries, my protests, my stubborn arguments and letting me see that everything You do is simply done because it’s good for me.
Thanks for not letting go my hand, EVEN when I tried hard to snatch my hand away from Your grasp and go to find my own way (which, of course, bound to fail)
Thanks for not giving up on me.

Oh yeah, this year I also find my reason why I love Him so much.

I love Him because through Jesus, He knows how it feels to be me.
He knows how it feels to be lonely.
To be sad.
To be broke.
To be humiliated.
To be betrayed by people you love.
To be killed.

He knows it all, but He conquered it all.
And I love Him for that.

Aaaahhh i always get emotional when talking about this particular Guy. Hahahaha. Sorry!

So this is my “Di 2009” list.
What are yours?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s