Distance

Standard


Email itu datang pagi tadi.
Pendek, hanya beberapa baris saja isinya.

Dari kamu.

Kamu memberitahu dimana kamu sekarang.
Tiga puluh enam jam sebelum kamu menginjakkan kaki di kota ini lagi.

Mendadak dadaku sesak.
Aku sulit bernafas. Udara seolah ditarik keluar dari dalam paru-paru dengan paksa.

Ah, kamu selalu begitu!
Aku selalu sulit bernafas setiap kali di dekatmu.
You took all the oxygen that I am supposed to breathe, leaving me unconscious and suffocated.

Lalu perutku juga mulas.
Mungkin kupu-kupu bangun mendengar hati mengeja namamu.
Heran, setelah sekian lama, mereka masih ingat saja nama kamu. Selalu berterbangan riang kemari dengan gembira setiap kali namamu disebut.
Tak peduli sebenarnya hati menyeringai pahit menyaksikan parade kupu-kupu,
dan otak menyergah marah karena mereka bereaksi tanpa kendali.
 
Ah, sialan!
Masih tiga puluh enam jam jauhnya, tapi semesta telah terasa kembali sesak karena kehadiranmu.

Semestaku, yang telah kembali lapang dan tenang sejak kamu pergi.
Yang sekejap porak poranda,
hanya karena kamu berada tiga puluh enam jam jauhnya dari tempat ini.

It’s amazing,
how distance can change the way I feel about you.

images taken from here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s