Maternal Calls

Standard

OMG.
Last night it was sooo strong until i scared myself.

Jadi ya, saya percaya setiap perempuan / lelaki yang belum punya anak itu PASTI punya yang namanya maternal / paternal instinct. Bedanya cuma di “awakening point”-nya aja. Setiap perempuan / lelaki punya titik tersendiri kapan insting tersebut akhirnya muncul. Ada yang muncul saat perempuan / lelaki tersebut masih berusia awal 20an, ada yang baru muncul di awal 30an.
 
Untuk saya, maternal instinct saya akhirnya “terbangunkan” sekitar 1-2 tahun yang lalu, saat suatu malam keponakan kesayangan saya memilih untuk tidur di sofa di sebelah saya yang masih bekerja jam 10 malam karena dia nggak pengen tidur tanpa saya.
I was surprised seeing him sleeping besides me. Merasa egois sekali membiarkan mahluk sekecil ini tidur di sofa sementara saya membenahi presentasi power point saya. Merasa presentasi manapun kalah penting dengan dia yang rela menunggui saya kerja padahal sudah sangat mengantuk. I instantly turned off my laptop, woke him up and we moved to the bedroom so he could sleep properly.

Salah satu sahabat saya yang sampai sekarang masih “prefer puppies than babies” selalu bingung saat saya cerita hal seperti ini ke dia. She couldn’t understand the feeling. Well, nggak salah juga sih, karena perasaan seperti itu begitu sulit dijelaskan. And it often came out of nowhere, and you can’t do anything to make it appear / disappear.

And for me, it gets stronger since this Sunday.

Hari Minggu yang lalu, saya jadi sukarelawan di sebuah acara Christmas Carnival yang diselenggarakan oleh Orphanage Ministry gereja saya. Empat panti asuhan diundang untuk kebaktian lalu menikmati games berhadiah dan makanan yang berlimpah ruah, dan beberapa anggota jemaat pun membawa anak mereka untuk ikut main bersama-sama. Termasuk seorang ibu dengan dua anak blasteran indo-nya : Tyler (6) dan Zane (3) – yang baru saya temui di hari itu.

Dua anak cowok keturunan bule ini memang cakep-cakep dan lucu-lucu banget, dengan kulit tan dan rambut bergaya mohawk. They both visited my stand before the carnival starts, dan kita sempet bercanda-canda bareng (my other friends also thought they are VERY adorable) Lalu karnaval dimulai, dan saya sempat ketemu mereka lagi saat mereka mendatangi stand games saya bersama kelompok mereka masing-masing.

Di tengah-tengah acara, saat stand saya pun sedang ramai karena ada kelompok yang sedang bermain, mendadak Zane (3) mendekati saya, with his sad face.
He didn’t say anything, he just pulled up one of his cargo pants. Saya berlutut, bertanya apa yang dia mau, dan baru menyadari bahwa dia sedang memperlihatkan pergelangan kakinya yang berdarah.

“Oh, you’re bleeding! Is it hurt?”
Dia mengangguk. Still with the sad face.
“Do you want me to take care of it?”
Dia mengangguk lagi.

Saya mengambil tas saya, mengeluarkan tisu dan membasahinya dengan air untuk membersihkan darah di luka tersebut. Dia pun duduk di salah satu kaki saya yang terlipat, sementara sebelah tangan saya mengeluarkan band-aid dari dalam tas.
He recognized the band aid. Dia segera mengambilnya dari tangan saya dan membuka bungkusnya sendiri.

“Do you want to put it on by yourself?”
Dia mengangguk.
Saya membantu posisi badannya agar dia dapat memasang band-aidnya sendiri, tapi sepertinya dia kesulitan.
“Can I help you with that?”
Dia mengangguk.
Saya ambil band aid dari tangannya, dan saya tempelkan di pergelangan kakinya yang terluka.
“There. Does it still hurt?”

Dia menggeleng. Lalu tersenyum.
Dia bangkit berdiri, babysitternya pun tersenyum berterima kasih. Saya memberikan sebuah bola kecil dari stand saya ke Zane, yang sempat membuat dia bingung karena dia sudah memegang bola mini bowling di stand sebelah. He dropped the bowling ball to receive my ball, tapi kemudian saya taruh bola kecil itu di saku celana cargonya, sehingga dia bisa main mini bowling lagi.
(FYI, no, he’s not mute. pas kita ketemu paginya dia masih bawel kok hehehe)

Entah ya, buat saya rasanya begitu luar biasa. A 3 y.o. stranger just came to me and trusted me to take care of his bleeding ankle. He barely knows me! I feel sooooo .. honored. hehehe.
It’s the same exact sensation which I had that night with 6 y.o my nephew.

Finally, that day I also signed up to become a Sunday school teacher for kids age 3 to 5 y.o.

Semalam, saya menonton DVD Brothers and Sisters. Again, another kid named Cooper looks very adorable when he’s learning to hold a caterpillar with his Mom.
Dan saat melihat adegan itu, cuma satu hal yang muncul di pikiran saya.
I. WANT. ONE. OF. THOSE.

Dan yang menakutkan adalah,
semalam mulai muncul satu figur lelaki yang saya inginkan jadi AYAHNYA – it’ll like one of those Natasha Bedingfield song – I Wanna Have Your Babies.
Sakit jiwa! Tabungan aja abis buat liburan mulu, pacar serius aja belum ada, sekarang udah kepikiran pengen punya anak. Pake kepikiran kandidat bapaknya lagi.
Seriously, last night i even scared of myself.
Bwhahahahaha.

So, kalian gimana?
when did the maternal / paternal instinct finally kick in?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s