Blogger Returns

Standard

Jadi, hari ini saya berniat tulus sepenuh hati mau posting. Draft mulai ditulis sejak dua jam yang lalu. Mendadak mandek, karena saya lupa cerita kedua (bertema sama) yang berasal dari apa yang saya alami semalam.

Akhirnya draft itu masih menganggur di tab sebelah.
Unfinished, but I haven’t given up yet.
Berharap ingatan akan kembali saat hari agak siangan.

Tapi akhirnya malah browsing jurnal-jurnal terdahulu.
Ah.
Ada beberapa jurnal yang jelas-jelas mengisyaratkan bahwa saat jurnal itu ditulis ditujukan kepada seseorang, tapi sekarang saya nggak ingat lagi siapa orangnya.
Ada beberapa jurnal yang tajam, dan cukup cerdas, sampai saya takjub sendiri dulu kenapa saya bisa berpikir dan berargumentasi sejauh itu.
Ada beberapa jurnal yang jelas-jelas menandakan kondisi emosional saya, yang waktu itu jauh lebih drama-queen-ish daripada kondisi emosional saya sekarang.

salah satu sahabat penulis saya menulis jurnal hari ini, bercerita tentang saran seniornya di kantor lama yang bilang kalau mau jadi penulis harus BANDEL.

to be honest,
saya memang lebih produktif menulis / posting jurnal di blog saat saya masih bandel, masih mengalami sindrom drama queen akut – sehingga masalah hidup saya pun lebih beragam, berwarna, dan penuh emosi yang memicu inspirasi.

sekarang?
well, glad to say, i am less drama-queen-ish, less naughty, and less emotional.

Maybe I have turned into a religious, optimistic, slightly boring girl – but really, I don’t regret any of it. I like the new me! Sindrom emotional-drama-queen kadang masih muncul every now and then, but not enough to motivate me to make a journal out of it.
Or make a fiction writing out of it.

Short to say, I am pretty uninspired now – since my life’s not that dramatic anymore.
Well, maybe my life IS STILL dramatic, but i choose not to react dramatically.

Would i swap that, to something naughtier and more dramatic, just to be inspired again?
Well, I don’t think so. I’d rather be uninspired, than to have that kind of life again.

Kalau ada yang bertanya, apakah saya pengen kembali berumur 24 tahun lagi (i am turning 27, by the way) – I’d say NO. Umur 24-25-26 saya penuh dengan life-changing experiences – most of them are painful and difficult — why would i want to go back there anymore?

So yes, at the age of 27, i write less now.
But somehow, I am grateful of it.

Jadi sekarang, kalau saya masih mau tetap jadi penulis, saya harus cari sumber inspirasi lain.
But maybe I’ll be writing less interesting things – since yes, i am not that naughty, not that dramatic anymore – but hell, i am proud of being the new me.

😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s