Leaving Home : 2

Standard

2a.
The strongest love is the love that shows its fragility.
– Anonymous

Saat itu aku sedang bosan-bosannya di kantor saat tiba-tiba satu window baru muncul dari messenger-ku.

Tinkerbell: “Hey, lagi sibuk nggak?”
Aku: “Nggak. Kenapa?”
Tinkerbell: “Aku tadi kirim message via BBM ke si Om.”

Tinkerbell adalah ID messenger sahabatku dari semasa kuliah.
Ia selalu merefer pacarnya dangan sebutan Om.
Si Om ini sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain tiga tahun sebelum bertemu sahabatku.
Dan mereka pun jatuh cinta.

Aku: “Isi BBM-nya apa?”
Tinkerbell: “Aku bilang semua yang aku rasa selama ini tentang dia. My frustration. My anger. My love..”
Aku: “Seriously?”
Tinkerbell: “Aku copy paste ya?”

Dia pun mengirimkan isi BBM-nya tadi via email.

Do you know each time I call or text you and you didn’t reply,
I always think that you were with someone else?
And I went crazy even to think about that.

I know, I might be wrong.
So I have to eliminate those negative feelings by keeping myself busy.
I have to have activities.
I have to make my body and mind move forward.

So I go to KL this weekend.
NOT because I want to go far from you.
But I NEED to be faraway from you.

To keep my sanity.
Because I need my sanity to love you perfectly.

Kamu tahu pasti bersama kamu adalah hal yg selalu aku inginkan lebih dari apapun di dunia ini.

To be with you for just one more day.
To feel your love a little bit more, each day.
So please, love me, understand me.
Not only understand the way I love you,
but also to understand the way I’m trying hard to be with you
each day, each night,
for the rest of my life.

Loving me is not that confusing, dear.
So love me.

Aku tertegun.

Aku: “You’re so f**king brave.”
Tinkerbell: “I know I am exposing my fragility by sending him this.”
Aku: “Yes.”

Apa yang dia lakukan sama saja seperti membuang perisai dan melepas baju zirah, saat berperang melawan seorang ksatria musuh.
She’s now defenseless in front of him.

Dan kini ksatria itu punya dua pilihan.
Menghunus pedang dan membunuhnya, by taking advantage of her fragility.
Atau memeluknya dan menyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Bahwa selama ini baju zirah dan perisai itulah yang menghalangi sang ksatria untuk memeluknya lebih erat.

Aku: “Lalu dia jawab apa?”
Tinkerbell: “Tadinya dia tak membalas. Tapi kemudian satu jam kemudian dia menyuruhku menemuinya di tangga darurat lantai kantorku.”

Aku mengerutkan kening.
Deg-degan.

Aku: “Lalu?”

***


2b.
Sang ksatria memutuskan untuk memeluk sang Tinkerbell.

Aku terpana.

Beranikah aku seberani dia?

Mengutarakan semua rasa yang aku punya untuk dia.
Semua rasa yang tak sempat kukatakan karena aku baru menyadari seberapa aku sayang padanya, setelah dia melangkah pergi.

Beranikah aku bertaruh,
dan menanggung resiko
bahwa bukannya memeluk, dia akan menghunus pedang?
Menusukku,
dan meninggalkanku mati di medan pertempuran?

Beranikah aku, meminta dia untuk memberiku seratus delapan puluh hari yang masih dia miliki sebelum burung raksasa itu membawanya pergi?

Seratus delapan puluh hari memang tak seberapa bila dibandingkan selamanya,
tapi masih masih sangat berarti,
bila dibandingkan dengan tidak sama sekali.

Beranikah aku?

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s