Leaving Home : 1

Standard

1.
Moments. That’s all you get with the people you love.
-Denny Duquette

Mataku memanas. Ya, aku kian dapat merasakannya sekarang. Cerpen sialan. Cerpen berjudul Muak, bikinan seorang gadis tak kukenal bernama Trinzi Mulamawitri. Cerpen sialan itu tak sengaja kutemukan di kolom paling kanan facebook. Beberapa teman SMA-ku memberikan komentar di sana. Dan jadilah icon note berisi cerpen sialan itu muncul di highlight-nya.

Cerpen sialan itu membuat mataku kembali memanas dan dadaku pun terasa sesak lagi. Ini terjadi untuk kesekian kalinya dalam beberapa minggu terakhir.


Aku tahu aku sudah menggali kuburanku sendiri saat mengajaknya melakukan tantangan itu.
“Let’s get sick of each other!” ujarku dengan muka ceria berlebihan.
 Kampungan banget. Belagu! Seperti biasa, adrenaline selalu memabukkanku. Ini hanya berarti dua hal. Satu, kita benar-benar saling muak. Dua, I will fall in love deeper with him, while he’s.. sick of me. Dammit. Why did I do that? Why why why? Aku berkaca di depan cermin hotel sambil mengantuk-antukan kepalaku.

“Kapan sih, aku pintar dalam soal percintaan!” aku kembali memaki diriku sendiri.
Okay, take a deep breath. This should be easy. Use your logic. Kalahkan hatimu. Hatimu sudah terlalu cerewet! I’m leaving next week for London.

Setiap kali klepek-klepek sama dia, ingat London. Ingat Big Ben, Oxford Circus, H&M, London Eye, tube, kue cokelat Marks & Spencer. This is London we’re talking about you bloody lady!

(Muak (her version) – Trinzi Mulamawitri)

Rasanya seperti bercermin.

Apartemen dia, bukannya kamar hotel.
Peru and the rest of the world, instead of just London.
Forever, instead of just two years.

Aku ingin berteriak frustrasi. Rasanya aku ingin kembali ke malam itu.
Malam ketika dia berucap selamat tinggal.

Ah. Seandainya waktu itu aku tak setenang itu.
Mungkin harusnya aku sedikit emosional, bukannya bicara dengan tenang dan meracau mengenai beragam hal tak penting sekedar untuk menunjukkan bahwa aku tak sedih akan kepergiannya.

Mungkin harusnya aku biarkan dia tahu bahwa aku menangis saat dia menggenggam tanganku seraya mengantarku pulang.
Hell, mungkin harusnya malam itu aku cukup cerdas untuk menanyakan kepadanya beberapa pertanyaan!

Pertanyaan-pertanyaan yang sama yang kini terus berputar-putar di benak. Terus bertambah. Terus mengusik sampai rasanya ingin kugampar biar menjauh.
Pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban, karena aku tak mampu menjawab.
Hanya dia yang bisa.

Tapi tidak.

Malam itu aku tak bertanya apa-apa.
Aku bahkan menggigit bibirku agar air mataku tak jatuh ke pipi dan memandang keluar jendela, agar dia tak melihatku menangis.
Dia pun diam, sibuk dengan pikiran-pikirannya yang tak pernah bisa kutebak. Aku tahu dia sedang bergumul, matanya meneriakkan itu.

Tapi dia tetap diam.

Dan aku diam.

Menghabiskan detik-detik terakhir kebersamaan kami,
yang harusnya dihabiskan dengan pembicaraan yang menyenangkan,
bukannya tenggelam dalam diam.

Aku akui, aku salah malam itu.
Aku terlalu yakin bahwa dia akan mengubah pikirannya.
Aku bahkan menciumnya asal saja saat kami tiba di rumahku, karena yakin malam itu kami akan bertemu lagi saat dia selesai menemui kedua temannya itu.

Tapi tidak.
Tak ada lagi telepon ataupun pesan singkat dari dia malam itu.
Malam itu berakhir tanpa bisa kucegah, dan aku pun tahu kalau aku tak akan melihatnya lagi.

Tangan itu tak akan dapat menggenggam tanganku lagi.
Kedua lengan itu tak akan lagi dapat menenggelamkan aku di dalam pelukannya yang begitu menenangkan dan terasa seperti rumah.
Bibir itu tak akan lagi dapat menciumku.

Aku merasakan sesuatu menghujam perutku hingga ke dasar.
Saat itulah tangisku meledak.

“I’ve never felt that kiss would be the last.
I’ve never known that hug would be the last.
If I do, I’d hug him tighter.
Kiss him longer.
And hold his hand until the very last second
before I really have to let go.”

cerpen MUAK karya Trinzi Mulamawitri dapat dilihat di sini dan sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s