Choose to Love?

Standard


WARNING : Tulisan ini panjang. Heran. Kok sekarang susah bener ya bikin tulisan pendek. Hahahaha!

People spend their whole life looking for answers.

Jawaban atas beragam pertanyaan, dari yang remeh temeh (tapi pada kasus tertentu bisa memicu pertengkaran dua sejoli yang sedang berkencan sih kalo udah muter-muter masih nggak jelas maunya apa) seperti “Kita makan malam apa malam ini?” (yang selalu dinobatkan sebagai pertanyaan terbesar abad ini setiap kali saya mau cari makan sama teman-teman se kost jaman kuliah dulu) sampai ke yang lebih substansial macam, “Dia pernah nggak sih sayang sama aku?” atau yang lebih berat lagi, “What is my purpose in life?” (tsah!)

IMHO, the search for answers is actually one of the things that keeps us moving and growing in this life. Pencarian jawaban akan memotivasi kita untuk membaca lebih banyak, mengobrol lebih lama, mencoba lebih banyak hal, dan beragam hal lain, dengan satu harapan – bahwa dalam proses yang dijalani kita akan memperoleh jawaban yang kita cari.

One of the hardest question that we often seek answer to adalah pertanyaan yang jawabannya hanya bisa diperoleh dari (selain Tuhan, tentunya) seorang manusia yang lain.

These questions like :
“Do you ever love me?’
“Do I mean something for your life, ever?”
“What was actually happening back there? Why do you suddenly say goodbye? I thought we had something.”
“Are you still thinking about me now?”

Ah. Seandainya seideal itu. Pertanyaan-pertanyaan yang menggunakan kata ‘you’ yang menandakan pertanyaan tersebut diutarakan secara langsung ke si empunya jawaban.
Tapi tidak. Seringnya pertanyaan yang timbul malah :

 “Does he/she ever love me?”
“Do I mean something for his/her life, ever?”
“What was actually happening back there? Why does he/she suddenly say goodbye? I thought we had something.”
“Is he/she still thinking about me now?”

Kenapa?
Well, I’ve had these questions at some period of my life. And I know why.
Because most of the time I was too coward to ask them in person!

Kemungkinan pertama, saya pengecut karena saya takut kelihatan bahwa saya punya rasa lebih sama dia. Bahwa kedekatan kami berarti sesuatu buat saya.

Entah kenapa ya, rasanya sekarang kalau saya (perempuan) punya perasaan lebih besar ke seseorang (laki-laki) daripada seseorang itu ke saya, terasa seperti DOSA BESAR. Apalagi didukung sama teori-teori perkencanan yang selalu bilang kalau perempuan harus jual mahal, harus nggak boleh kelihatan suka-suka banget, atau nggak laki-lakinya nanti lari.

Padahal apa salahnya sih? Saya kan juga manusia, punya perasaan (apalagi perempuan secara alami memang lebih perasa dari laki-laki) kenapa saya harus merasa bersalah (dan panik, dan takut, dan segenap perasaan negatif lainnya) setiap kali saya merasa sayang sama seseorang, (yang mungkin) melebihi rasa sayang dia ke saya?

Mungkin karena rasa sayang membuat kita jadi rentan. Rentan sakit hati.  Like that old saying “Love is giving someone the chance to hurt you and trusting them not to.

Dan paradigma yang ditanamkan mengenai lelaki yang pengejar, pemburu, dan suka hal-hal yang misterius – membuatnya jadi lebih parah, karena mengisyaratkan bahwa setiap kali perempuan menunjukkan tanda-tanda bahwa dia sayang / jatuh cinta sama sang lelaki, saat itu jugalah lelaki kehilangan tantangan dan siap untuk melangkah pergi.

Ditakut-takutin begitu, gimana saya bisa berani mengekspos kerentanan saya dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas? Rasanya lebih baik mati penasaran daripada kehilangan gengsi. Hahaha.

Kemungkinan kedua, bisa jadi kita pengecut karena takut mendengar jawabannya. Sepertinya semua manusia yang mau repot-repot bertanya-tanya seperti di atas dalam hati, akan berharap memperoleh jawaban yang POSITIF dari pertanyaan di atas.

Nggak ada yang bertanya-tanya, “Does he ever love me?” dan akhirnya menanyakan pertanyaan secara langsung dan berharap jawaban “Nggak pernah.”
If he/she is brave enough to ask the question in person, it’s usually because he/she is more than 50% sure that the answer is YES.

And the rest of us – yang kadar keyakinannya dibawah 50% – lebih memilih menelan semua pertanyaan sendiri dan memutuskan untuk cukup puas dengan kesimpulan deduksi yang diperoleh dengan memilah-milah fakta yang terjadi selama kedekatan, yang masih tersimpan dalam memori.

Kemarin saya melayat ke pemakaman ayahanda dari bos saya. Bos saya pun cerita mengenai spiritual revelation yang dia peroleh menjelang kepergian ayahnya, dimana di situlah dia melihat manifestasi roh ayahnya, juga roh jahat, malaikat, dan Tuhan Yesus. Di sana dia dapat melihat perebutan Tuhan Yesus dengan setan atas roh ayahnya, sebelum akhirnya ayahnya diangkat ke surga, setelah sebelumnya ayahnya memberikan pesan-pesan terakhir kepada istri semua anak-anaknya.

Di kesempatan yang serupa juga, di pemakaman sepupu saya 3 tahun yang lalu, yang pernah saya ceritakan di sini dan sini. Sepupu ipar saya (istri almarhum) memperoleh surat yang ditulis melalui sepupu ipar saya yang lain yang tak mampu mengendalikan tangannya yang seolah ingin menulis, yang berisi pesan-pesan dari sepupu saya untuk istrinya itu. Sepupu ipar saya kemudian cerita bahwa sebelum surat itu datang dia seolah menunggu sesuatu akan terjadi, a sign from her late husband. Dan saat surat itu datang, dia percaya bahwa itu datang dari suaminya, karena surat itu diawali dengan panggilan yang hanya digunakan oleh suaminya kepada dia.

Dari dua contoh kasus di atas, saya bisa melihat betapa kedua orang yang ditinggalkan oleh orang yang mereka sayangi, dapat lebih mudah melepaskan kepergian saat mereka memperoleh jawaban atas pertanyaan di dalam benak mereka.

Bos saya menjadi lebih kuat karena dia yakin ayahnya masuk ke surga, dan dia pun sempat memperoleh pesan terakhir dari ayahnya.
Sepupu ipar saya pun menjadi lebih kuat karena dia memperoleh pesan terakhir dari almarhum suaminya.

Everytime someone walks away from our life, we’re never really prepared for it.
Pasti akan banyak hal-hal yang masih mengganjal.
Banyak kata yang masih belum terkatakan.
Banyak hal yang belum sempat dilakukan.
Banyak pertanyaan yang belum sempat ditanyakan, dan belum terjawab.

Tapi semua sudah terlambat.

Kesempatan untuk melakukannya telah lenyap saat kita melihat punggungnya menjauh pergi.

Yang menandakan bahwa ini adalah awal periode dimana kita nggak bisa lagi meneleponnya kapan saja dan menanyakan dengan manja, “Do you love me today?” dan dijawab dengan ringan, “More than yesterday, babe.”
 
Yang menandakan bahwa ini adalah awal periode dimana kita nggak bisa lagi mendadak berjinjit dan mencium bibirnya, dan tertawa melihat ekspresi kaget namun bahagia di wajahnya

“I’ve never felt that kiss would be the last.
I’ve never known that hug would be the last.
If i do, I’d hug him tighter. Kiss him longer. And hold his hand until the very last second before I really have to let go.”

Dan ya, semua inilah yang akhirnya memicu semua pertanyaan-pertanyaan yang saya kutip di atas.
Pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi punya kesempatan untuk dijawab, tanpa harus sebelumnya memicu rasa takut untuk bertanya, maupun rasa takut mendengar jawabannya.

So I guess,
Ask questions while you still can.
Kiss him/her while you still can.
Hug him/her tighter while you still can.
Hold his/her hand while you still can.

Because you’ve never know someday it’ll be taken away from you – and you lose all those chances – chances that you think you still have the day after. 

If you’ve done all that and you lose him one day, at least you don’t have that much of unanswered questions🙂

I personally think there’s nothing wrong in loving someone, and expressing it. 
Even when the person doesn’t love us as much.

Sebuah encounter dengan seorang lelaki hebat mengajarkan saya hal ini. Di saat saya harus bergerilya menyembunyikan rasa sayang dan kepedulian saya saat sedang dekat sama lelaki lain sebelum dia, dia mengajarkan saya untuk berani mengekspresikan semua itu dengan menghargai setiap ekspresi sayang yang saya berikan.
I feel like I am a better person when I was with him, karena saya tak perlu berpura-pura jadi cewek bitchy yang agak cuek (karena kalau terlalu perhatian pasti sang lelaki jadi belagu hehehe).

We’ve parted ways eventually, but instead of just suddenly disappearing and avoiding my calls, dia menghadapi saya face to face dan membicarakannya dengan saya – dan memberikan saya kesempatan untuk menanyakan semua pertanyaan yang ada di kepala saat itu (yang sayangnya tak banyak) – karena menurut dia saya pantas mendapatkan semua itu.

There are still some unanswered questions, of course, tapi setidaknya dia tak meninggalkan jejak buruk di hidup saya yang membuat saya membencinya. Really, I have tried to hate him, but I can’t. We’re still in contact from time to time, dan setiap kali kontak, saya kembali menjadi saya yang dulu saat bersama dia. Yang lama kelamaan mulai menular dan menyebar sehingga sepertinya saya perlahan berubah menjadi seorang Citra yang bersama dia waktu itu.

So, yes, I personally think there’s nothing wrong in loving someone, and expressing it. 
Even when the person doesn’t love us as much.
Wrong thing only happens when you have expectations.
You expect him/her to express his/her love back to you, and get disappointed when you aren’t getting what you look for.

Loving and asking to be loved back are two different things.

We can still choose to love, although we are not going back together with them.
We can still choose to love, although we know they will unlikely love us back.

If we still love someone, if we want to, we can still choose to love.
But this time without any expectations.

There are two possibilities that can happen when you choose to love :
1.    Balik jadian lagi (oh ini sih situasi ideal seideal-idealnya, jadi jangan terlalu diarep ya, daripada kecewa hahaha)
2.    They will always remember you as a great person, who has a really big heart and can stretch beyond his/her ego in loving someone – that have once become part of their lives. A part they’ll always cherish, karena jarang sekali dalam hidup kita bisa bertemu seseorang yang bisa seperti itu.

Well, menurut saya sih, dua-duanya sama-sama menguntungkan🙂

So, dare to choose to love?

Don’t worry, even if you say yes, nobody expects you to be able to do it perfectly in one night (hahahaha i am personally still struggling with this!).
The learning process will take a while.

But at least by saying yes today,
you’ve already on your way ..

🙂

images taken from here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s