I am on (Mental) Rehab

Standard

(WARNING: Tulisan ini panjang! Don’t complain if you decide to read this. Hehehehe)

So,
what happened when a Sappy Green Elephant meets a Delusional Supermodel?
they may exchange love quotes they find here and there,
they may exchange love stories,
they may reminisce all those good old memories they have (had) with their own man,
then get mellow together.

bwhahahaha.

Yup. I am the Sappy Green Elephant.
Kenapa gajah hijau? Referensinya bisa dilihat di sini.
Kenapa sappy? Karena akhir-akhir ini saya sedang dalam mood yang sangat melodramatis ples sentimentil. Apalagi sama hal-hal yang berbau cinta – yang berada di luar kebiasaan saya.

Lalu bagaimana si Delusional Supermodel?
Supermodel satu ini terkenal dengan pandangannya yang begitu idealis romantis soal cinta. Yang dulu seringnya nggak cocok sama saya, yang cenderung apatis sinis kalo bicara perihal subjek satu ini (kalau nggak percaya, tolong browse back jurnal-jurnal saya terdahulu yaaa hahahaha)

Tapi kemudian gajah hijau jatuh cinta – menyusul sang supermodel delusional yang sudah jatuh cinta duluan beberapa minggu sebelumnya.

Cinta mendadak menjadi satu topik bersama.
Satu bahasa yang selaras.
Siapapun lelakinya, bagaimana pun kondisinya,
kita bisa sama-sama terenyuh melihat kalimat sejenis ini :

“Love is when you shed a tear and still want him, it’s when he ignores you and you still love him, it’s when he loves another girl but you still smile and say I’m happy for you, when all you really do is crying ..”
(quoted dari facebook status seorang sahabat)

atau

“I’ve never felt that kiss would be the last. I’ve never known that hug would be the last. If i do,
I’d hug him tighter. Kiss him longer. And hold his hand until the very last second before I really have to let go.
(I said this. Few days ago. Hehehe)

…..

…….

uh, stop.
this is NOT supposed to be a melodramatic journal!
hahahahahaha.

anyway,
this past one month of my life has been pretty interesting.
plenty of ups and downs (in general)
plenty of happiness and frustrations (in love life)
plenty of assurance of faith, and also temptations (in faith)

kalau di jurnal sebelumnya (yang ternyata sudah sebulan yang lalu! sheesh. time goes really fast, doesn’t it?) saya menulis hal-hal yang begitu positif dan menggembirakan, well, i gotta say, selama sebulan setelahnya nggak berarti semuanya jadi lancar jaya aman sentosa.

argh.
i really wish i could say that, but i couldn’t.

selama sebulan ini juga saya mencoba untuk berlapang dada menerima semua yang terjadi. the good AND the bad. the ups AND the downs.
dan selama itu juga saya belum bisa menulis apa-apa di jurnal ini, karena beneran deh, saya sedang dalam state of mind yang kurang stabil secara mental dan psikologis selama sebulan ini.

it’s like being on a (mental) rehab.
(wow! i finally find a word to really describe what i have been experiencing! hahaha!)

jadi begini.
setelah menempuh masa-masa kegelapan selama hampir dua tahun, lalu mulai berjalan ke arah terang selama setahun terakhir, sepertinya sekarang-sekarang ini saya sedang diospek untuk tetap tinggal di dalam terang itu.
err.
got my point? nggak ya?

oh well.
intinya sih, saya pernah menjadi seseorang yang SANGAT jahat selama hampir dua tahun, dimana saya begitu marah sama Tuhan sehingga saya hampir tak pernah berdoa, saya datang ke gereja hanya untuk bergosip, dan saya pun melakukan begitu banyak hal-hal yang jahat selama periode itu –  i won’t go into details here, and please don’t try to ask. hahaha.

well, i call it the dark ages, because really, that was the darkest period of my life.
you know, it’s that period when you can really feel that empty hollow in your heart,
that emptiness that you cannot compensate with anything,
the constant need to push your own way with your own strength,
and to try finding worldly solution toward anything.

ok, to cut the story short, i was soooo blessed because i was saved from that dark ages around a year ago. God used few people around me to pull me back to the ‘light’.
And since then i have been trying to walk in His way.

So, guess things go pretty easy after that, right?
Harusnya jalan bersama Tuhan itu mulus dan nggak ada halangannya kan?

Jah. Kata siapa?
Things DON’T go easy.
And the road ISN’T smooth.

Jadi, selama setahun terakhir, sampai dengan detik ini sih sebenarnya, saya bergumul untuk mengalahkan segala macam sifat jelek saya.
My ego.
My arrogance.
My lack of patience.
My tendencies to find quick solution toward anything.
Pokoknya banyak banget deh!

Dan selama sebulan terakhir sepertinya semua struggle itu semakin meningkat dan semakin berat buat saya.
Bisa jadi sih, semua struggle itu terasa lebih berat karena saya berharap semuanya akan terasa lebih ringan, now that I have been trying to walk in His way, tapi ternyata tidak.
It’s like unfulfilled expectations.  

Kalau bulan kemarin saya merasa Tuhan sayaaaaaaangg banget sama saya, karena dia mendadak mengirimkan seorang lelaki yang “got everything I’ve ever wanted from a man”.
Yang kemudian mengajarkan saya untuk HAVE FAITH in His plan. That He can do anything in my life, since He’s the Almighty one after all.

Salah satu perilaku ‘have faith’ ini adalah mengeliminasi “cadangan” dan “skeleton in the closet” saya. The back up plans. The safety net. The unresolved cases.  

So, I let go someone, whom once I thought was the one that got away.
Yang sulit saya lepaskan, karena saya (dan dia) sama-sama tak pernah punya kesempatan untuk bersama-sama. Tak peduli kami punya bayangan masa depan yang sangat mirip, dimana kami menikah, mengelola resort diving di salah satu pulau di Indonesia, have kids, and so on and so forth. Dia menjalin hubungan dengan seorang perempuan setahun terakhir ini (itu juga yang selama ini menjadi pengganjal) – and few weeks ago, we finally agreed to let go our dreams (of being together).
And there goes my safety net. Hehehe.

I also let go my past time obsession toward a particular ex boyfriend that has become my Mr. Big. Proses ini sudah dimulai sejak bulan Juni, dan sekarang saya pun takjub kami sudah bisa bersahabat kembali tanpa sedikit pun saya punya keinginan untuk balik pacaran lagi sama dia – tidak seperti 6-7 tahun terakhir hehehe.

I let go all the pain and hurt caused by some people in the past (no details here hehehe)
Yeah, I am letting go all that.

Tapi kemudian saya harus menerima saat Tuhan mengambil kembali lelaki itu dari saya.

Oh, no, he’s not dyiinnnggg .. He’s still pretty much alive and kicking (I guess hehehe) but he’s not there to be with me anymore. We go on our own separate ways. At least for now (who am I to determine the future, right?).

Well, naturally, dalam kasus seperti ini, saya pasti akan bereaksi dramatis.
Saya akan menyimpan rasa benci karena harus berpisah dari dia, karena hal-hal tidak berjalan sesuai keinginan saya.
Saya akan menolak kehadiran dia sepenuhnya dalam hidup saya, karena saya pun tak lagi ada di hidup dia.

Tapi tidak.
I can’t hate him.
I can’t say that he’s a jerk, that he’s a bad person – because I remember even God himself told me that he’s a good guy. Who am I to judge him differently?

Well, I’ve stopped contacting him since few days ago, but still I can’t hate him.
I can still smile when a memory or two flashed back into my mind.
I can still appreciate all the good things he has done for me.
I can still feel that safe, comfortable feeling that I feel when he held me in his arms.
I can still remember how he feels like home.

We have never talked about feelings for the whole time we dated, but now that he’s not there, I just realized that I’ve cared about him so much.

But well, God gives, God takes.
I’ve come to a realization that whatever happens in my life, has been Father-filtered – God won’t let something happen into my life, if He thinks it won’t bring any good for me.

So I guess this is also part of the plan.
This is what God has for me right now.
And I try to accept it – while keeping my faith all the time, that God has good plans for whoever believes in Him.
And I do.

Hahahaa.
I really sound like I’ve got everything under control huh?
Coba tanya sang supermodel delusional. Dia tahu persis selama sebulan ini, saya bisa saja begitu accepting hari ini, lalu mendadak berubah jadi emosional, penuh penolakan di hari berikutnya.
I have been in and out of faith.
Selama sebulan ini, saya beberapa kali protes sama Tuhan. Saya marah. Saya menangis. Persis seperti anak kecil yang nangis kejer di lantai karena dia nggak memperoleh apa yang dia mau.

But no, God doesn’t waver.
Dia bergeming. Dia nggak lantas memberikan apa yang saya mau karena saya merengek tanpa henti.

Seperti orang tua kepada anak kecil itu, Tuhan tahu apa yang baik buat saya, apa yang tidak. Kapan harus memberi, kapan harus membuat saya menunggu.
Dia memang tidak memberikan apa yang saya tuntut, tapi Dia selalu memeluk saya dan memberikan saya kekuatan dan ketenangan yang saya tahu persis tak mungkin datang dari dalam diri saya sendiri.
Dia selalu mengirimkan assurance dari berbagai penjuru. Kadang dari isi kebaktian Minggu, kadang dari supermodel delusional yang mengingatkan saya kata-kata yang pernah saya ucapkan ke dia di saat saya sedang tenang dan faith saya sedang kuat-kuatnya.
Intinya selalu sama.

Jadi ya, sekarang saya nyaris tak pernah kontak dengan dia yang konon hadiah dari Tuhan.
Tak peduli saya merasa sangat aman dan nyaman bersamanya.
Tak peduli saya merasa bahwa ‘he’s the one that feels like home’.
Tak peduli (entah kenapa) dia lah lelaki pertama yang berhasil membuat saya ingin menjalani masa depan bersamanya.

Well yes, It could feel depressing sometimes, apalagi kalau lagi kangen-kangennya, but I’ve learned one thing :

You can change the way you ACT,
 by changing the way you FEEL.


You can change the way you FEEL,
by changing the way you THINK.


And I am changing the way I THINK.

I choose to keep my faith.
And I believe that God is working for my own good.

Why keep struggling to fight your own way with your own strength,
While you can trust your life to His guidance, do only things that He told you to do, and save yourself from all the hassle?😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s