Too Good to be True

Standard

Okay.
I’ve been wanting to write about something there for quite a while.
Well, okay, a lot of things. I am not exactly the quiestest person in the crowd, aren’t i? Tapi beberapa minggu ini sepertinya otak saya isinya cuma hal-hal baik dan positif yang membuat saya kuatir terkena gejala delusional yang sangat parah, dan saya mencoba mencari keseimbangan dari semua itu.
But I couldn’t.
Kenapa?
Because things have been really good for me, sampai pada level yang hampir tak mungkin,
but it happens anyway.

Saya baru menyadari bahwa saya bisa sedikit lebih mudah menerima saat hal-hal buruk terjadi sama saya (ok, mungkin saya belum pernah mengalami sesuatu yang BENAR-BENAR buruk ya, tapi sejauh ini hidup saya juga nggak bisa dibilang selalu mulus bertaburan kelopak bunga juga sih),
Lebih mudah menerima daripada saat ada hal baik yang terjadi sama saya.
 
Okay. This has become too general. Sebenernya sih teori di atas hanya relevan dengan satu sisi hidup saya yang sudah dibahas berjuta juta kali di sini, AKA sisi percintaan.
Hahahahaks.

Sampai sekarang, saya sudah lebih terbiasa atau lebih mudah menerima saat saya patah hati karena ulah serentetan lelaki ‘salah’ yang mampir di hidup saya, yang spesiesnya sangat beragam. Ada seorang duda menyebalkan, seorang pengejar mimpi yang lebih memilih pekerjaannya daripada saya, seorang pembimbang yang memilih perempuan lain, seorang lelaki jutek yang menganggap saya terlalu dramatis, atau seorang korban broken home yang memiliki suicidal tendencies, dan banyak ragam spesies lainnya.

Lalu kemudian datang dia.
He’s everything I’ve ever wanted from a man.
And he asked me out!

I just couldn’t believe it. Hahaha.
Okay, it’s possible that I have been used to certain level of pain, certain level of badness, certain level of jerk-iness, until I can hardly believe it when something good finally comes along.
Yes, I can recognize it, but I couldn’t believe it.

Akhirnya saya jadi curiga. Pasti ada yang salah dengan semua ini!

Nggak, saya pada dasarnya nggak segitu curigaannya kok. Saya punya alasan kuat untuk curiga. Sebulan yang lalu putus sama pacar karena dia memilih perempuan lain daripada saya, sebuah hubungan yang akhirnya dijalin setelah dua setengah tahun saya memilih untuk nggak pacaran, tapi sekedar dekat saja dengan beragam lelaki yang emotionally unavailable.

My record of relationships juga nggak terlalu gemilang, seorang sahabat pernah menggodai saya karena saya nggak pernah merasakan yang namanya 1 year anniversary sama pacar manapun. Entahlah, let’s not get too detailed here (hey, I have a reputation to protect, you know?! Hahaha!). Some things are always happening, and that didn’t make me happy, so we just broke up, even months before the 1 year anniversary.
See?
Bad things are always happening in my love life.
I have STRONG reasons to be suspicious!

Buat saya, dia itu sesuatu yang TOO GOOD TO BE TRUE.
And I kept saying this, even after our first date went very smoothly.
Even after GOD approves him.

Wait. WHAT?!
Hehehe. Iya, setelah saya memperoleh ultimate closure saya dari Tuhan saat melalui post-break-up-drama yang melelahkan bulan lalu, I have stopped trying to fight with my own strength to go my own way.
I am tired with all the drama and the pain, jadi saat ketemu lelaki ini, saya langsung tanya sama Tuhan, apakah dia memang untuk saya.
If he’s not, well, I won’t waste my time pampering these butterflies.
These butterflies that has been fluttering in my tummy, yang membuat saya mulas-mulas setiap kali saya ingat dia (seriously, I think I got digestion problem that week because of them!).

And the ultimate confirmation comes two days after the first date.

Weekend itu, saya menginap di rumah sepupu ipar saya (the same cousin yang ada di Yogya saat saya post-break-up-drama bulan lalu) dan pendoa yang sama juga datang ke rumahnya hari Minggu sore itu.
I told them about this guy. That I met him in my church’s bible study, that we had a really great first date two days ago. Tapi saya tak bilang kalau saya diam-diam berpikir bahwa dia itu too good to be true. Lalu saya tinggalkan mereka ke toilet sebentar.

Saat saya kembali, tiba-tiba pendoa itu bilang,
“Citra, Tuhan bilang kamu jangan batasi Tuhan dengan pikiran kamu yang terbatas.”

Eh?

“God can do ANYTHING. Bahkan hal-hal yang menurut kamu nggak mungkin.”

Oops.
*grin*

Pendoa itu pun bilang lagi, “Tuhan bilang dia lelaki baik, datang dari keluarga baik-baik juga. God falls in love with him.”

Saya langsung merinding. “So, God approves this guy?”
“Ya.”

Oh my God.
W.O.W.

Setelah itu kami bertiga berdoa bersama, dan usai berdoa, pendoa itu bilang bahwa God has put a little love inside his heart for me. He’s been thinking of me, dari pedalaman Kalimantan tempat dia berada saat itu.
That was one really magical evening!
Seriusan, saya baru sekali ini mengalami hal semacam ini. To have God intefering with my love life. For once, I fall into someone whom God approves!

However, being a long time skeptic dan pernah beberapa kali mengalami gejala delusional di bidang percintaan, membuat saya tetap saja tak bisa mengimani hasil doa itu dengan sepenuh hati. Apalagi sahabat-sahabat saya juga sama skeptisnya. Mungkin nggak skeptis sih, tapi realistis.
They just don’t want me to get hurt again by letting my hope floats too high.
So I kept trying to find proofs, yang dapat membuktikan bahwa dia sebenarnya tidak sekeren itu. Tidak sebaik itu. Tidak sesempurna itu buat saya.

Tapi bukannya menemukan bukti yang saya cari, I find MORE persons who vouched for him. Who also says that he’s a really good guy.

Dari seorang teman India saya, yang saya kenal dari facebook tahun lalu dan mendadak jadi cerewet sama kehidupan percintaan saya akhir-akhir ini, yang entah bagaimana bisa kenal sama lelaki ini dan bilang juga bahwa dia lelaki baik-baik dari keluarga baik-baik (the same exact words!) – that I am in good hands – padahal menit sebelumnya dia sibuk memborbardir saya dengan ketidakpercayaan dia terhadap lelaki bule di Jakarta.

Dari teman sekampus yang menjadi sahabat saya, yang juga sempat dekat dan jatuh hati sama lelaki ini, yang kemudian merelakan saya untuk dekat dengannya dan berkata bahwa dia lelaki yang sangat baik. And I am lucky to be with him.

Sampai ke sebagian sahabat-sahabat saya (yang selalu ada buat saya saat saya patah hati bulan lalu), yang sempat bertemu dia hari Senin kemarin. Saya meminta mereka untuk melakukan screening (saya sudah berjanji sama diri saya sendiri untuk tak jadian sama lelaki manapun sebelum melalui proses screening mereka! Hahahaha) dan semuanya memberikan konfirmasi positif saat besoknya saya tanya komentar mereka. They all say that he seems like a good, quiet, slightly nerdy guy, bahkan salah satu yang paling kritis (dan bawel hahaha) bilang dia terlihat sayang sama saya.

Selain itu, for the mere few weeks we’re dating, I’ve found myself able to picture my future with him in it. Sesuatu yang biasanya tak begitu mudah saya lakukan (biasanya tergantung lelakinya sih hehehe), tapi kalau sama dia, semua bayangan masa depan itu muncul begitu saja di otak saya.
Bayangan ini sampai ke level yang cukup absurd, dimana saat saya mendengar cerita dia mengenai suatu perubahan besar (dan cukup menakutkan untuk sebagian orang) yang mungkin akan terjadi dalam hidup dia tahun depan, bukannya bikin saya jiper dan nggak yakin tapi saya malah punya beberapa bayangan baru yang sesuai dengan itu. Yang membuat saya yakin bahwa perubahan itu benar-benar akan terjadi, meskipun kata dia semuanya masih diproses dan dipertimbangkan.

Bayangan-bayangan macam apa sih? Hahahaha. I don’t think I am going to share them here. Saya pun masih takut bahwa saya sedang delusional.
It’s really hard to keep believing, to have faith in God’s approval – saat saya belum memperoleh fakta yang cukup dari hidup saya untuk benar-benar yakin bahwa semuanya akan terjadi.

However, kata-kata sang pendoa masih terngiang di telinga saya :
“… jangan batasi Tuhan dengan pikiran kamu yang terbatas. God can do ANYTHING. Bahkan hal-hal yang menurut kamu nggak mungkin.”

There’s NOTHING that is too good to be true for God.
Saat saya berkata itu, itu sama saja berkata bahwa mustahil Tuhan bisa memberikan sesuatu yang begitu baik untuk saya.
Sama saja saya meragukan kekuatan DIA yang luar biasa, dan mampu melakukan segala sesuatu untuk kebaikan manusia yang mengasihi DIA.

And I don’t want to be that kind of person.

So yes, right now I am trying hard to keep believing.
To have FAITH.
Even when I am at the risk of sounding delusional.

Besides,
what’s impossible, if I have a really great GOD by my side?
*wink*

For I know the plans I have for you,” declares the LORD, “plans to prosper you and not to harm you, plans to give you hope and a future.” (Jeremiah 29:11 – New International Version)


Therefore I tell you, whatever you ask for in prayer, believe that you have received it, and it will be yours. (Mark 11:24 – New International Version)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s