Saying Goodbye has Never Been Easy

Standard

Dulu, sampai kira-kira tiga bulan yang lalu, coba tanya teman-teman saya.
Pasti pernah ingat saya bilang ke mereka kalau mereka lagi menjalani proses pendekatan sama lelaki manapun,
“Ya udahlaaah .. cobain aja (pacarin)! Toh kalau pendekatan, lo sama dia pasti juga sama-sama jaim. Nggak bakal saling kenal juga, mau pendekatan sampai kapanpun. Setidaknya kalau pacaran, lo bisa liat apakah kalian cocok apa nggak. Kalo nggak cocok, ya putus. Cari yang lain. Nggak buang-buang waktu kan?”

Yeah, that was the typical me.

Tapi saudara-saudara, saya katakan sekarang.
DON’T LISTEN TO WHAT I SAID ABOVE.
I repeat.
DON’T. LISTEN. TO. WHAT. I. SAID.

Seriously.

Karena ternyata statement itu saya buat saat saya tengah LUPA bagaimana menyebalkannya patah hati!
Bwhahahahahahah.

Yeah, nggak pernah bener-bener terikat dalam satu hubungan pacaran selama 2.5 tahun membuat saya pun lupa kalau putus itu selalu menyebalkan.

Ada bagusnya juga kemarin mendadak saya silap mata dan tahu-tahu pacaran.
Yeah, sesuai tipikal saya, proses dekatnya juga nggak lama, cuma sekitar sebulan. Kenalnya sih sudah tiga bulan sebelumnya. Berawal dari pembicaraan telepon tak sengaja saat saya sedang bosan terbaring sakit tipes, telepon yang lalu memanjang menjadi hampir semalaman, dan hal ini berulang terus selama sebulan.

Masa pacaran juga cuma sebentar, kira-kira satu bulan setengah.
Harusnya sih, saat putus juga nggak terlalu sedih ya, secara saya dan si mantan sama-sama setuju bahwa “we’re not that in love with each other.” dan keputusan kita pacaran lebih karena pertimbangan logis dimana saya dan dia sama-sama butuh ruang latihan untuk mengatasi ketakutan kita terhadap komitmen bernama pacaran.

Tapi ternyata sedih juga bok. Hahahaha. Ask my friends. They know how hard it was for me for the first one week. Nggak menolong juga fakta bahwa saya tahu persis bahwa keputusan ini tepat (ingat tulisan saya yang ini?) – this relationship is bound to end someday. Kami beda agama, and we don’t have each other in the picture of our married life. Dia membayangkan perempuan lain, dan saya membayangkan lelaki lain.

And this is totally a problem – karena pastinya kami pun nggak akan segitu kekeuh-nya mempertahankan hubungan, secara nggak ada tujuan akhirnya juga.
(yes, seorang sahabat yang sudah bersahabat dengan saya selama delapan tahun terakhir berulang-ulang mengatakan ini setiap kali saya curhat soal pacar saya)

So yes, we finally said goodbye.
And i tell you this, saying goodbye HAS NEVER been easy.

Selama periode tanpa pacaran itu, saya saja seringkali merasa berat (dan agak takut) saat memikirkan harus say goodbye sama seseorang yang bukan pacar, tapi cukup dekat. Saya lebih memilih untuk mencoba menahan diri untuk tak menghubungi dia, dan menghilang perlahan-lahan. Well, in my defense, dengan demikian saya kan’ masih bisa berdalih untuk nelepon dia, kalau mendadak saya kangen tanpa terkesan menjilat ludah sendiri.
Hahahaha.

Well, sama orang yang bukan pacar aja begitu.
Apalagi kalau sama pacar?!

Dari pengalaman saya, saya sekarang mengerti bahwa :
I CANNOT refuse to open up myself (and my heart) when I am in relationship.

I thought I can (dengan demikian kalau putus pun nggak akan sedih-sedih banget lah ya. since i am not that involved emotionally), but apparently I cannot.
Kenapa? Karena sang pacar bisa merasakan itu!
And this will frustrate him (like it frustrated mine), especially when he still really wants to make the relationship work.

And by opening up myself (and my heart), I have to let down my defenses and let myself be fragile (yeah, this is definitely one of my biggest issue. Haha)
Another best friend said,
“Love is giving someone the chance to hurt you and trusting them not to.”

Amen to that.
For me, that is sooooo true.🙂

Anyway, like it or not, some goodbyes are meant to be said.
Pasti akan ada saat dimana kata ini harus terucap, sebabnya bisa apa saja, and you have to brace yourself to bear the pain.
The disappointment.
The endless chain of self destructive what-ifs.
The feeling of self-inadequacy (is it me? memangnya saya salah apa? am i not good enough?)

I was there. I had all those feelings. Especially the last one.
Emang sih, jadiannya cuma sebulan setengah, tapi kata siapa durasi itu menentukan kadar ke-sakit-an yang dirasakan saat putus cinta?
*membela diri sendiri*
Hahahaha.

Well, luckily I have these things that really helped me to find my own closure. To stop licking my wounds, get up and brace a new day.
For me, these things really helped :

#1
MAKE SURE YOUR BESTFRIENDS ARE AROUND!

Pastikan nomor mereka yang ada di ponsel adalah nomor mereka yang paling aktif, kalau bisa pastikan juga mereka punya nomor ponsel yang sama operatornya.
Kenapa?
Karena nomor nomor ini akan sangat berguna di saat kamu sedang sendirian (seperti saat sedang sendirian duduk di atas bis) lalu mendadak ingat sama mantan pacar (karena lewat stasiun kereta, dan ingat kereta yang biasa membawa kamu ke kota dimana dia berada, dan di dompet kamu masih tersimpan satu tiket kereta hari itu yang tak jadi terpakai karena keburu putus malam sebelumnya), dan kamu mendadak nangis tak terkendali.
If your best friends are around, kamu bisa sms / telepon mereka di saat genting seperti ini.
Sometimes only text that four-letter-word : HELP.
Mereka tahu kamu baru putus, dan mereka pasti tahu apa arti sms permintaan tolong kamu. They will call / send you text message, dan mereka akan nemenin kamu nangis.
Trust me, it helped a lot to make you feel better. Setidaknya kamu ingat bahwa kamu nggak sendirian. That this is just a phase that is going to pass. Hahaha.


Dan sahabat juga sangat membantu di saat kamu mendadak nge-gap sang pacar sama perempuan lain (jadi lebih berani, karena merasa ada yang bakal bantuin mukulin sang pacar dan perempuan itu, when things get really ugly),
juga di saat kamu butuh masukan mendingan putus/nggak (makin yakin saat ada orang lain yang berpendapat sama seperti pendapat kamu),
juga di saat kamu butuh sesi tawa tanpa henti yang memacu hormon bahagia ke seluruh tubuhmu, that can make you feel much better.


For me, my bestfriends are my treasure. They were really there for me, mereka nggak bosan saat saya curhat ini itu pasca putus, dan mereka juga yang akhirnya tertawa lepas bersama saya di saat saya sudah bisa bercanda mengenai hubungan saya yang kandas.
Pokoknya saya sayang banget sama mereka deh!
*ciumin satu satu*

#2
FIND YOUR OWN CLOSURE(S)

Saat putus, pasti ada pertanyaan-pertanyaan dalam benak yang masih mengganjal. Yang menghalangi untuk move on. Yang harus diselesaikan, karena kalau tidak kita nggak akan bisa benar-benar melupakan sang mantan.

You gotta find your own closure. Answers to your lingering questions.
Mungkin kamu bakal nangis terguguk-guguk saat jawaban itu datang dalam bentuk yang pahit seperti tamparan di pipi (tsaahhh kayak Betharia Sonata bok), but at least you get your answer and you can stop wondering.

Kemarin saya punya beberapa hal yang masih mengganjal. Salah satunya adalah keinginan saya untuk tetap mengobrol sama sang mantan – to share my daily nothings – karena memang dialah orang terakhir yang dekat dengan saya.
Hal ini juga yang membuat saya tetap YMan sama dia di awal-awal saya putus, ceritanya ngomongin kerjaan – but that might be just an excuse to keep talking to him.
Lalu, jawaban datang di hari keempat.
Saya menelepon dia sore-sore (i was off balance and i need someone to talk to) dan kita mengobrol dengan baik, sampai di satu titik dimana dia bilang bahwa dia akan menjemput seorang perempuan (yang dia kangenin terus saat pacaran sama saya) untuk bertemu mantan gebetannya yang lain.
Wow. That was like a slap on my face.
Hahahaha.
Saya pun menangis terguguk-guguk, ditemani sahabat saya via telepon (see, I’ve told you, you need your best friends around in times like this! Hehe).

Dan malam itu pun saya memperoleh revelation dari Yang Di Atas dalam bentuk notification di facebook, yang membuat saya membuka profil kakak sepupu saya lalu menemukan ayat Alkitab yang seolah “bicara” langsung ke hati.
Saya jadi menelepon sang sepupu, yang ternyata sedang berada di Jogja bersama seorang pendoa yang dulu pernah mendoakan saya saat saya sedang stres karena konfrontasi yang timbul akibat resign dari kantor lama. Sang pendoa itu pun mendoakan saya sekali lagi (via telepon), dan menyampaikan pesan bahwa Tuhan ingin saya membaca dua bagian Alkitab : Jeremiah 29:11 :

11 For I know the plans I have for you,” declares the LORD, “plans to prosper you and not to harm you, plans to give you hope and a future.”

dan Isaiah 40
Comfort for God’s People
 (see here).

I read those, and I wept (again).

And there, I found my first closure.

Well, untuk sebagian orang closure ini mungkin tampak berlebihan untuk putus cinta yang cuma sebulan setengah ya, tapi kemarin sepertinya esensi bukan di putusnya, tapi lebih ke semua prasaan negatif yang saya rasakan (sedih, kecewa, sakit hati, dllst) karena saya ditinggal seseorang yang begitu dekat dengan saya.

And for me, those Bible verse really answers.
Saya nggak sendirian.
God knows every tear that falls, and God, the Almighty and loving God, is there, listening to my cry.
Dan Dia pun yakinkan saya lagi, meskipun Dia tahu sekarang terasa sakit, tapi Dia punya rencana yang begitu baik untuk saya di masa depan,
all I have to do is be patient.
And I will.

Some might say religion is genious in times of consolation.
Well, terserah orang mau bilang apa, but I still choose to hang on to this faith.🙂

And then I came across this quote :

God doesn’t give you the people you want, He gives you the people you
NEED. To help you, to hurt you, to leave you, to love you and to make you into the person you were meant to be.
(Anonymous)

How’s that for a closure? Hahahaha. 
(setelah closure ini saya memutuskan untuk menghapus facebook dan yahoo id dia dari contact list. temporarily, i hope. saya yakin suatu hari nanti kami akan bisa berteman lagi, di saat saya sudah benar-benar netral)

Second closure saya peroleh setelah jalan-jalan nggak penting semalaman sampai jam 4 pagi di hari Kamis, tepat seminggu setelah saya putus.
You can see the story here.

#3
DO THINGS YOU LIKE (with your best friends of course!)
saya memilih :
PERGI KE KRAKATAU
hahahaha.


trip semi-backpacking yang benar-benar penuh tawa dari awal sampai akhir, bahkan sampai berhari-hari setelahnya dimana facebook penuh dengan foto upload-an dari kamera masing-masing yang dikomentari semua orang.


sebagian besar sahabat sahabat yang berangkat trip kenal dengan mantan pacar (he went on our previous trip) dan mereka tahu apa yang terjadi (setidaknya secara garis besarnya) tapi ini malah membuat saya lebih bisa untuk tetap tertawa bersama-sama, termasuk menertawakan hubungan saya yang kandas yang akhirnya jadi candaan umum.
The trip is totally refreshing, bahkan mampu membuat saya tetap tertawa-tawa di saat mereka dengan penuh dedikasi mempersembahkan satu sesi karaoke untuk saya dan kisah cinta saya, dan setiap kali ada lagu sedih yang mengalun semuanya sibuk melirik saya, takut saya mendadak nangis.
Hahahaha.
I am okay guys, really. You’re the ones who made me okay, so don’t worry about me anymore. Well, even when i break down someday, I know you are all going to be there🙂
*hugs* 

Anyway, tonight will be two weeks after the break up, and I am doing fine.
Yes, as today, his name is still non existent in my facebook friends or in my yahoo buddies – but hey, give me a break, one step at a time, okay?
🙂

– and apparently i am this freakish blogger who even writes about anything, including her recent breakup bwhahahaa –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s