Malam Itu

Standard


Malam itu berawal dari keluhan malam hari, yang terasa saat baru saja sampai di rumah, usai menyelesaikan kewajiban terakhir hari itu.

Kangen.
Kangen sama mantan pacar yang putus seminggu lalu.
Kangen dengan dia, yang on the positive side, termasuk orang yang sangat seru sehingga bisa diajak jalan kemana saja.
Lalu mulai merasa (sedikit) menyesal, karena kini tak ada lagi teman jalan macam dia.

Sedang bertukar pesan singkat dengan seorang sahabat, mengeluhkan rasa kangen yang menyebalkan, ketika tiba-tiba sebuah telepon masuk.

Dari dia, seseorang yang pertama kali muncul hidup saya dua tahun yang lalu, lewat jendela messenger yang terbuka di saat saya sedang menangis sendirian di starbucks, saat menyadari sang (mantan) pacar (waktu itu) tak akan datang hari itu.

Dari dia, seseorang yang pernah membiarkan telepon esianya nyala untuk saya saat dia menyanyikan lagu yang saya minta pada sebuah event yang sedang dikerjakannya, sehingga saya benar-benar terharu karena merasa dia bernyanyi untuk saya.

Dari dia, seseorang yang seringkali menemani saya menonton film ini itu, yang pernah menghilang selama hampir setahun lalu kembali lagi

Dari dia, yang sedang setengah stres akibat pekerjaan yang melimpah menghimpit dan butuh teman untuk diculik untuk sekedar ngopi atau kegiatan apapun.

Dan malam itu, dia ingin menculik saya.

Dia suruh saya mandi dulu, dan akan menelepon saya setelah itu, selagi menyakinkan diri apakah dia akan menjemput saya malam itu. Mandi selesai. Mood saya pun sudah mulai ke-set untuk segera tidur.
Tapi mendadak dia telepon lagi.
Dia sudah berjarak lima menit dari rumah saya.
Tak mungkin menyuruh dia putar balik dan mengarah pulang.

Jam mengarah ke angka sepuluh dan enam. Jam setengah sebelas.
Tempat mana yang buka jam segini?

Tujuan pertama :
KAFE

Kami berawal dengan supper di sebuah kafe di bilangan Cikini yang tutup jam 12. Menyaksikan kafe yang jadul itu berubah menjadi kafe remang-remang beriring lagu house music yang menghentak saat jam mengarah angka dua belas.

Kamu pun bergerak dari situ. Mata masih membelalak nyalang. Belum ada tanda-tanda ngantuk. Rasanya belum mau pulang.

Tujuan berikutnya :
BANDARA

Mobil bergerak menyusur jalan tol panjang berujung di Cengkarang. Bandara Soekarno-Hatta. Sengaja mengarah langsung ke Terminal 3 yang baru dibangun. Sengaja ke sini hanya untuk melihat bangunan baru yang konon sangat modern dan bergaya.

Melompat turun dari mobil, menjepret sana-sini sebagai bukti saya pernah ke sana. Dia tak mau difoto. Dia hanya berdiri di luar sambil menyalakan sebatang rokok, seraya menunggu saya selesai dengan kekaguman dan dokumentasi saya.

Bergerak ke Terminal 2.
Mulai berdebat mana terminal yang lebih keren. Tidak, Terminal 1 sama sekali tak masuk hitungan. Hanya ada pilihan antara Terminal 2 dan 3.
Dia suka Terminal 2 karena megah, sangat berkarakter Indonesia, dan bersahaja.
Saya suka Terminal 3 karena modern, modis dan bergaya.

Beranjak pergi dari bandara. Tak lupa memberi hormat kepada pasangan proklamator yang tegak berdiri di jalur hijau pemisah jalan.

Jam mengarah ke angka satu dan enam.
Mulai mengantuk, tapi rasa petualangan terlalu menguasai.
Tidak, kami belum mau pulang.

Tujuan ketiga :
PANTAI

Bergerak menuju Ancol, setelah berputar-putar dengan benak cemas karena jarum bensin yang memepet huruf nol. Menertawakan kebodohan saat menemukan banyak sekali pom bensin di sekitar pom bensin pertama yang kami temui, yang kami kira cukup terpencil.

Saya minta izin untuk tidur sebentar. Hanya 10 menit. Kemudian saya bangun, dan sudah siap bernyanyi bersama Michael Jackson yang non stop bergaung dari DVD player dalam mobil dia.

Tiba di Ancol. Berkeliling sejenak. Terheran-heran saat menemukan cukup banyak manusia di sini, baik yang benar-benar sedang mandi di laut ataupun sekedar kilatan kaki di kaca depan mobil. Mobil berhenti. Sempat ingin keluar, tapi malas karena nyamuk dan takut ditodong.

Mulai mengobrol sampai mata sangat mengantuk.
Jam mengarah ke angka tiga dan enam.

Sudah hampir pagi.
Waktunya pulang.

Pagi itu saya tiba di rumah jam empat pagi, dan langsung tertidur. Terbangun jam setengah tujuh pagi, lalu mulai bersiap untuk ke kantor jam delapan.

Semalam terasa seperti mimpi.

Namun saya tahu itu nyata. Ada rasa baru yang menyenangkan.
Ternyata bukan hanya sang mantan pacar yang bisa diajak jalan-jalan nggak jelas dan nggak penting seperti semalam.
Si dia bisa.
Dan saya yakin ada orang-orang lain yang bisa.

Dan semua ditutup oleh pernyataan sahabat saya :

“.. sure neng, there will be lots of guys who want to do it with you
if they think you’re special enough
they will accompany you anywhere
and being stupid
cos thats what love does
makes you stupid and naive and doing unimportant and hideous thing
karena esensinya bukan tempatnya
tapi partnernya,
which is you,”

Ah.
Saya terharu.

Akhirnya, semua ganjalan pun hilang.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s