Simple, random kindness

Standard

masih ingat supir metromini saya yang ini?
well, saya ceritanya lupa wajah dia. tapi ternyata dia tak lupa wajah saya.
beberapa hari yang lalu, saya seperti biasa, menaiki metromini ini dari daerah Thamrin. Lalu duduk manis pas di belakang supir.

Saat berhenti di lampu merah pertama, dia celingukan nyari jam. Lalu menoleh ke saya.

Supir : “Jam berapa Mbak?”

Saya : “Wah nggak tahu bang,” (memperlihatkan tangan saya yang nggak pake jam, sebenarnya bisa aja sih liat hp, tapi males aja keluarin hp jam segitu di kendaraan umum), “Kayaknya jam 9 kurang deh. Tadi sih terakhir liat jam 9 kurang 20,”

Supir : “Oh iya.” (mengangguk)

Saya : “Bang, tar abis lampu merah belok kanan dulu kan?” (jadi, tempat turun saya itu terletak di belokan ke kanan setelah lampu merah kedua, dan sering metromini itu langsung memutar di lampu merah kedua itu sehingga saya terpaksa jalan kaki atau menyambung angkot)

Supir : “Iya.”

Saya : “Oke.”

Mobil jalan, melewati lampu merah pertama.

Supir : “Emang rumahnya dimana, Mbak?”

Saya : “Yaaaa .. deket-deket situ lah,”

Supir : “Masuk gang?”

Saya : “Hm .. nggak juga sih. Tapi deket-deket situ ..” (mule males, supir ini ngapain sih nanya-nanya rumah saya)

Mobil berhenti di lampu merah kedua.

Supir : “Bisa masuk mobil (metromini) nggak? Kalo bisa, dianterin nih sampe rumah ..” (nyengir)

Saya : “Halaah .. nggak lah, nggak muat Bang.” (masih nggak ngeh kalo dia adalah supir metromini yang itu)

Dia lalu berbicara dengan bahasa daerah dengan kondektur yang menghampiri bagian depan metromini.

Lampu merah berubah hijau.

Mendadak metromini ngambil ancang-ancang mau memutar.

Saya : (protes dengan nada agak manja) “Yaaaahhhh abaaaanggg .. katanya belok kanaaaannn ..”

Supir : (ketawa sambil buru-buru mengubah posisi setir sehingga tak jadi memutar dan mengarah ke belokan ke kanan) “Oh iya yaaa .. hahahahha .. lupa mbaaakkk .. padahal tadi baru diomongin yaaa .. Maaf ya mbak ..”

Saya : “Iya, nggak apa-apa ..” (mulai ambil ancang-ancang turun)

Supir : “Turun dimana, Mbak?”

Saya : “Di jembatan aja, sebelum mutar.”

Tiba di jembatan, metromini bersiap memutar.

Saya : “Di sini aja, Bang.”

Supir : “Siippp .. hati-hati ya Mbak! Jangan kemana-mana lagi! Langsung pulang yaaaa!!”
(tsaaahhh gayanya kayak pacar aja gituuu hahahah)

Saya : (nahan ketawa) “Iyeee .. makasih ya Bang,” (saya melompat turun)

Saya masih nggak bisa berhenti tersenyum pas saya jalan masuk ke kost-an saya.
Dan barulah saat saya cerita kejadian ini sama seseorang, saya baru ngeh bahwa supir barusan adalah supir yang dulu pernah ngomel-ngomel saat sahabat saya (yang saat itu dia kira pacar saya) cuma nganter sampai saya naik metromini, dan tidak mengantar sampai di rumah.

Semalam saya ketemu dia lagi.
Dia awalnya tak ngeh itu saya, tapi saat saya turun di lokasi yang sama, dia pun tak lupa memberikan wejangan yang sama :
“Hati-hati Mbak .. langsung pulang yaaaa .. ntar saya telepon!”
sebelum saya turun di jembatan.

Hahahahhaa.

Beberapa langkah kemudian, saya melewati warung pinggir jalan, punyanya bapak tua kurus berotot yang biasa saya panggil Babeh. Sampai beberapa minggu yang lalu, saya sering membawa pulang kotak makan siang punya tim di kantor yang tidak terpakai dan saya berikan ke dia, daripada mubazir (percayalah, karena ini juga saya tahu si Babeh itu alergi ikan sama telur. hahaha)
Sekarang kotak makan siang itu sudah tidak ada, tapi setiap kali saya lewat situ dia pasti menawarkan saya untuk beli minuman. Saya pernah beli aqua botol kecil disitu, dan dia tak mau dibayar.
Sampai semalam pun, saat saya lupa air di rumah habis sehingga tak ada pilihan lain selain membeli aqua botol di si Babeh, dan sampai semalam dia masih juga tak mau dibayar.
Menolak dengan gaya bapak tua yang cuek cuek nada omongan kayak orang marah-marah untuk menyuruh saya untuk ambil saja botol aquanya, dan dia tak mau menerima uang saya.

Beberapa langkah, ada lagi tetangga saya, si Engkoh pemilik toko kelontong yang dibangun di bagian depan rumahnya. Yang biasanya kalau malam nongkrong sama temen-temennya di seberang toko, dan suka bertukar senyum kalau saya baru pulang.
Kalau sore sekitar jam 6, dia membawa dua ekor anjingnya yang lucu-lucu, yang kadang saya ajak main.

Belum lagi Abang Bajaj yang suka ketemu pagi-pagi, atau sore saat saya pulang cepat dari kantor – yang bajaj-nya nggak pernah saya naiki, tapi setiap ketemu pasti saya bertukar sapa.

Ada lagi Pak Haji yang suka nonton TV di pos siskamling depan musholla (jadi di pertengahan jalan rumah saya ada TV yang dipasang di pinggir jalan, dan orang-orang menonton di kursi di seberang jalan) yang selalu bertukar angguk setiap kali saya pulang kantor di bawah jam 7. Dia juga pernah menegur saat kita ketemu di gang lain, “Eh, mainnya jauh amat Mbak?”

Ada lagi Abang Hansip jalan setempat, yang suka pasang muka judes dan jarang senyum tapi dia juga yang tahu (kadang membantu buka portal) kalau saya pulang malam.

Ada lagi Abang Tukang Sate yang berjualan di dekat toko si engkoh, kalau satenya belum habis setelah berjualan di Salon Cay Cay (yang dulu iklannya banyaaaakkk banget di RCTI. hahahah) sekitar situ. Satenya enak banget, by the way. Sama dia, saya bisa memesan ramuan sate yang saya suka (sate ayam tapi pake bumbu kecap, bukan kacang) dan kadang bisa diantar sampai kost kalau kebetulan dia sholat Maghrib.

Ada lagi Tukang Sayur yang suka ngetem di depan kost-an saya, dan menegur setiap kali saya berangkat kantor.
Atau Ibu Tukang Minuman yang mangkal di taman dekat rumah, tapi ternyata dia tetangga saya.
Atau Mas Tukang Gado-Gado dan ayahnya, yang sampai hafal dimana kost-an saya, karena setiap Sabtu siang pasti saya beli gado-gado disitu.

Well.
Setiap hari selalu ada random kindness yang saya rasakan di sekitar rumah saya. Nggak usah macam-macam, kadang hanya bertukar senyum atau anggukan, tapi saya tahu mereka pun hafal dan familiar sama saya.
It’s amazing how simple gestures can make you feel accepted and familiar in an environment.

Entahlah. Mungkin bagi mereka, saya adalah :
“Mbak-mbak yang kantornya di depan, yang suka pulang malem, yang dulu rambutnya keriting terus sekarang lurus.”
Mungkin.
Hahahaha.

p.s
sekedar update, investor kemarin akhirnya memilih jalan B.
she’s back to the market guys, dan sekarang sedang mencari lahan investasi baru ..
hahahahahaks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s