Investasi itu namanya Relationship.

Standard

Relationship is like an investment.

Besaran investasi yang diberikan, sebanding dengan target return yang ingin diperoleh.
Return tersebut memang bukan jaminan pasti, pasti bisa plus atau bahkan minus. Atau kadang bila ada kejutan, akhirnya tak ada return sama sekali.
Tapi setidaknya investasi yang dilakukan didasarkan terhadap return yang ingin dicapai.

Saat seseorang memutuskan untuk berinvestasi, sepanjang proses investasi evaluasi berkala tentunya akan terus dilakukan, untuk mengetahui apakah investasinya masih feasible atau tidak.

Dan biasanya setelah beberapa evaluasi menunjukkan hubungan tersebut ternyata TIDAK feasible (aka. bad investment) sebuah tindakan pun harus diambil.

Tipe A
Ada yang tetap menjalani investasi tersebut meskipun tiap bulan dia tak memperoleh return atau bahkan investasi tersebut mulai menggerogoti persediaan dananya yang lain.
Biasanya orang semacam ini kelewat optimis, delusional atau terlalu emosional, atau mungkin dia jatuh cinta aja sama sales person produk investasinya.
jadi dia berharap akan ada suntikan dana segar suatu hari nanti, sambil tetap bersikeras ingin mencapai return yang sudah dia tetapkan.

Tipe B
Ada yang menghentikan investasi dengan segera, untuk mencegah kerugian yang lebih besar lagi. Orang semacam ini lebih realistis. Mendingan rugi sekarang mumpung masih sedikit, daripada menumpuk kerugian sampai suatu titik di masa mendatang.

Tipe C
Ada yang menetapkan deadline, karena mungkin dia masih punya spare dana nganggur yang dibuang pun nggak masalah. Namun dia punya batas waktu tertentu. Lewat batas waktu tersebut, investasinya masih juga tidak membawa keuntungan – barulah dia menghentikan investasi tersebut.

Contoh :
bila seseorang pacaran dan memang berniat untuk membawa hubungan ini ke jenjang pernikahan, biasanya dia akan LEBIH BERUSAHA untuk mempertahankan hubungan tersebut. lebih berusaha untuk berkompromi, lebih berusaha untuk toleran, lebih berusaha untuk mengerti karakter dan kemauan pacarnya.
karena memang ada gol akhirnya : ingin menikah.

lalu hubungan pun mulai menghadapi kerikil-kerikil sandungan.
ah itu normal. usaha tambahan pun dikerahkan. try to work it out. berharap akan dapat mengatasi kerikil-kerikil tersebut.

tapi ternyata kerikil tersebut terus bermunculan.
akhirnya mulai dilakukan evaluasi mengenai feasibility-nya. apakah hubungan ini benar-benar potensial untuk dibawa ke jenjang pernikahan.
bisa ya, bisa tidak.

bila setelah dilakukan evaluasi yang benar-benar OBYEKTIF, dan jawabannya ‘ya’ – well, teruskan. investasikan rasa, harapan, waktu dan biaya yang diperlukan. diiring doa bahwa return yang diharapkan akan dapat tercapai suatu hari nanti.

namun seringkali jawabannya tidak, tapi berusaha untuk terus dianggap “ya”
kenapa?
sebabnya banyak.
bisa jadi karena takut sendirian. bisa jadi karena merasa terdesak umur, dan menganggap mengkompromikan kebahagiaan diri sendiri sepadan dengan approval masyarakat sekitar. atau bisa jadi dia terlalu cinta, sehingga tak membayangkan hidup tanpa sang kekasih.
yang pasti mereka biasanya menganggap lebih baik punya pasangan (meski tak bahagia) daripada sendirian.

dalam kondisi ini, bila diaplikasikan ke tipe-tipe di atas, ada tiga kemungkinan :

Tipe A
dia akan terus menerus mengerahkan segenap usaha untuk work things out.
tak peduli sebenarnya hatinya sudah keropos karena terus digerus kecewa, tak peduli sebenarnya dia sudah defisit kasih sayang.
mungkin dia delusional. atau terlalu emosional sehingga tak mampu berpikir dengan logika.
tapi kemungkinan besar dia tak akan bahagia.

Tipe B
putus.
tak ada gunanya meneruskan sesuatu yang tak feasible.
cut the losses, pulihkan cashflow untuk sementara, dan cari lahan investasi lain.

Tipe C
tentukan deadline. apabila kondisi masih begini juga sampai misalnya, akhir bulan ketiga, baru putus. selama tiga bulan itu, segala upaya maksimal untuk mempertahankan hubungan dilakukan sebisanya – so they can’t say that they don’t try – namun di akhir bulan ketiga harus kembali dilakukan evaluasi secara obyektif.
if it has potential – teruskan. kalau tidak – cut the losses.
putus.

jadi, dengan teori di atas,
apa yang akan terjadi, kalau seseorang memulai investasi yang kemungkinan diperoleh returnnya sangat kecil, jatuh cinta juga sama sales person produk investasinya, lalu harus menghadapi kerikil-kerikil yang cukup tajam di bulan-bulan pertama investasi, sedangkan modal investasi yang dimiliki sangat terbatas karena belum lama pulih dari kerugian investasi sebelumnya yang sempat membuatnya sampai gulung tikar?

A. tetap berusaha semampunya sampai titik batas terakhir
B. mundur
C. tentukan deadline, meskipun tetap saja kemungkinan return itu sangat kecil

think.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s