And there were three of them.

Standard

Jakarta, lima belas tahun yang lalu

Tiga anak perempuan usia SMP berjalan sambil tertawa-tawa menyusuri koridor Gramedia Matraman. Sesekali mereka menghentikan langkah, tangan menjamah aksesoris alat tulis lucu-lucu impor Korea, lalu naik ke atas untuk melihat-lihat komik Jepang terjemahan seharga tiga ribuan.

Risti, berambut panjang, bertubuh kurus. Anak ketiga dari tiga bersaudara. Sekolah di SMP Negeri dekat rumah, kerap kali menggunakan seragam lungsuran kakaknya yang berbeda usia 4 tahun dengannya.

Daya, berambut sama panjang, tubuh sedikit lebih gemuk dari Risti dan setahun lebih tua. Anak pertama dari dua bersaudara. Lebih banyak tinggal di rumah Oma daripada bersama orang tuanya, dengan alasan lebih dekat ke sekolahnya, yang merupakan SMP swasta.

Cici, berambut pendek, agak gemuk, seumuran dengan Risti. Anak ketiga dari tiga bersaudara. Sekolah di SMP swasta.

Ketiganya mengenal satu sama lain sejak kecil.
Mereka hampir bisa dikatakan bertumbuh besar bersama-sama, keluarga mereka pun saling mengenal, tak jarang mengadakan acara bersama. Orangtua Risti sudah seperti orang tua Cici dan Daya, begitu juga dengan orang tua Daya dan Cici.
Hari libur sering dihabiskan dengan main bertiga di salah satu rumah, mengobrolkan para cowok di sekolah, atau jalan-jalan ke pusat perbelanjaan terdekat.
Tak ada hal dalam hidup yang satu, yang tak diketahui yang lain.
Sedekat itulah mereka.

Jakarta, lima tahun yang lalu

Empat tahun berlalu sejak pertama kali Cici pindah keluar kota karena kuliah, sebelum kembali lagi, sementara Risti dan Daya tetap meneruskan kuliah di Jakarta.
Jarak dan waktu telah melonggarkan persahabatan mereka, sehingga saat Cici kembali empat tahun berikutnya – persahabatan itu telah tiada.

Mereka bertiga menjadi tiga orang asing yang masih saling menyapa saat bertemu, namun tak sedekat itu untuk bercerita secara jujur satu sama lain.
Masing-masing memiliki sahabat yang baru, dan begitulah hidup mereka saat itu.

Risti sempat menempuh kuliah di universitas negeri, namun putus di tengah jalan sebelum kemudian pindah ke universitas swasta setempat.

Daya menempuh kuliah di universitas swasta ternama, namun tak juga lulus karena terhambat ujian salah satu mata kuliah.

Cici lulus kuliah dengan nilai baik, lalu pindah kembali ke Jakarta. Tak lama kemudian dia memperoleh pekerjaan sebagai asisten pribadi seorang pengusaha di Jakarta yang membuatnya sibuk dengan pekerjaan sehingga tak bisa membangun jembatan untuk menjangkau kembali dua sahabatnya yang telah drifted apart.

Jakarta, kini

Risti melangsungkan pernikahan dengan seorang lelaki yang Cici ketahui pernah dekat, namun tak menyadari bahwa mereka sampai berpacaran.
Risti tengah mengandung janin yang berusia enam bulan saat mengucap janji. Dia menikah dengan persiapan yang sangat singkat, dan menghadapi hostility dari lelaki yang dia nikahi dan keluarganya, campuran dari rasa sakit hati, tersinggung dan tuduhan bahwa Risti menjebak mereka.
Kuliahnya juga tak selesai, dan saat ini pekerjaan dia sebagai SPG pun ditinggalkannya.

Daya tak hadir pada pernikahan Risti. Beberapa bulan sebelumnya dia dikabarkan kabur dari rumah entah kemana, dengan membawa semua surat berharga dan ijazah sarjana S1 yang dimilikinya.
Beberapa minggu terakhir sebelum pernikahan dia dikabarkan telah pulang ke rumah setiap akhir minggu, memegang buku nikah dengan seorang lelaki yang tak pernah dilihat Cici, namun dikabarkan bekerja sebagai supir di sebuah perusahaan retail besar, setelah berpindah agama.
Dia mengandung janin yang usianya kurang lebih sama dengan kehamilan Risti.

Cici?
Cici masih lajang, dengan pekerjaan yang lumayan di sebuah perusahaan lokal. Dia menamatkan studi pascasarjana setahun yang lalu, dan saat ini menjalani kehidupan seperti pekerja Jakarta pada umumnya.


they grew up together,
they were raised in similar environment.

however, now their life couldn’t be any more different.

Namun tak dapat tidak,
Cici mulai berpikir apakah suatu hari dia juga akan berakhir seperti kedua sahabat masa kecilnya.
Atau apakah hidup kedua sahabat masa kecilnya saat ini, adalah dampak dari hancurnya persahabatan mereka sembilan tahun yang lalu.

*sebuah cerita hasil akhir minggu kemarin*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s