The Barriers

Standard


hari ini liat status seorang sahabat di facebook :

Trinzi Mulamawitri :
my task is not to seek for love, but merely to seek and find all the barriers within myself that I have built against it

hm. ini benar-benar topik saya minggu ini.
because guess what?
I HAVE PLENTY!
dan saya aja nggak sadar, sebelum tahu-tahu ada seseorang yang tampak sangat berniat untuk melewati semua barrier itu.
(iyaaa .. saya akhirnya punya pacar. ternyata ada seseorang yang nggak jiper dengan segala kerumitan, kadang-dramatisasi dan eksentrisitas (wow. is this a word? hahaha) terpendam saya. hahahaha. doain dia tabah yaaaa .. hihihi .. :P)

anyway,
dulu saat saya jerit-jerit, “Aduuuuhhh .. pengen punya pacar deh..” atau “I miss being in a relationship.” – apparently I didn’t fully realize what it (the relationship) may cost me.

ok, for short – ternyata saya sudah lupa bagaimana caranya pacaran yang benar.
to answer the question that popped into your head when you read the sentence : saya putus dari hubungan terakhir bulan Januari 2007.
so, it’s been a while. two and a half years.
dan nggak bisa dibilang sistem pacaran saya sebelum-sebelumnya udah bener juga.

so yeah, i guess my image of a relationship is pretty inaccurate (while my image of a marriage WAS pretty corrupted, until few weeks ago. hehehe)

minggu pertama, saya santai-santai saja. the decision to jump into the relationship was more a logical decision (for both of us) jadi saya merasa aman saat semuanya masih berada di dalam koridor logika.
everything’s controlled. everything’s predictable.
so, it wasn’t that frightening after all.

but then, things take another turn – mendadak mulai belok ke koridor emosional-logika.
bagi saya, meskipun tetap ada kandungan logikanya, tapi koridor ini agak menyeramkan.

ah, emosi memang kuat. dia mampu mendominasi logika kalau mau.
yang pasti, kandungan emosional telah berhasil menyulap koridor ini menjadi koridor yang tak menyenangkan (buat saya).
koridor ini penuh dengan unpredictability. dengan kekacauan yang bisa menyergap kapan saja. dengan dindingnya yang tajam dan bisa menggores bila tak berjalan dengan hati-hati. dengan lantainya yang bisa mendadak berlubang, sehingga saya bisa jatuh bila saya melangkah dengan sembrono.

ah, saya kenal sekali koridor ini.
i’ve walked through this corridor repeatedly during my previous relationships.
i was repeatedly scratched, bruised, hurt and even knocked out because of all the pain – and no one’s around to help me get back on my feet.

jadi ya, reaksi alami saya saat semua mulai berbelok ke koridor itu adalah : RESISTENSI.

i refused to walk through that corridor.
i held back.
i resisted.

dan teman seperjalanan saya menyadarinya.

well, awalnya sih dia masih sabar.
tangannya masih terulur untuk saya di pangkal koridor emosional-logika itu – seraya mengamati saya yang masih enggan meninggalkan koridor logika.
yup, saya masih enggan, tak peduli koridor emosional-logika itu adalah satu-satunya jalan yang harus saya tempuh, if i want to move forward with this relationship.

tapi kemudian tangan itu mulai lelah, dan dia mulai sebal karena keengganan saya membuat kita berjalan di tempat dan nggak bisa kemana-mana.

“There’s no point of walking together, if you don’t want to move forward.”

then, i realized something.
jadi kata siapa pacaran yang bener itu gampang?
it takes A LOT of courage!
well, definitely even more than i thought. hehehe.

courage to move face the unpredictability.
courage to open yourself up by breaking down all the barriers, let yourself be VULNERABLE (this is definitely the HARDEST and the FREAKIEST part! hahahaha), to let something called LOVE in.

sebagai comment atas status fesbuk Trinzi di atas, i have never known these barriers existed, until there is someone who realized that he couldn’t get through, and seemed very determined to break all the barriers,

because he cares enough NOT to let me alone in my own fortress, surrounded by those barriers.

okay. this is just the second week.
mungkin saya aja yang lagi euphoria punya pacar, sehingga berlebihan menggambarkan semua ini hahahahaha.
well, memang nggak tertutup kemungkinan itu sih.
however, selama dua minggu ini saya belajar sesuatu (yang diamini oleh salah satu sahabat saya yang lain, seorang pelaku cinta yang idealis hehehe) :

you cannot have a good relationship if you refuse to open up.
being vulnerable, is part of the deal – when you decide to start a relationship.

kenapa?
karena saat kita berani menunjukkan kelemahan kita itulah, kita memberikan kesempatan dia (sang pacar) untuk mengenal kita dengan lebih baik.
kelemahan menunjukkan sisi manusiawi kita, yang bisa jadi malah bikin dia ketawa (“Ya ampun, ternyata kamu bisa juga ya begini.”) – but it gives him the privilege to be one step closer to us.

relationship is all about getting to know and understand each other,
therefore you should not refuse to open up, if you want to have a good one.
(terdengar seperti teori yang klise dan standar, but believe me, saat ini rasanya saya baru belajar lagi semua ini. apparently it’s much harder to open up after you’ve been “badly bruised and abused” hahahahaha)

saya belum tahu sih, koridor ini emosional-logika ini sebenarnya sepanjang apa.
dan akan sampai sejauh mana saya menyusurinya.
oh well, kalo pake metafora yang disepakati bersama, it feels like getting on a ship – that is going somewhere – and none of us can simply just jump off the ship in the middle of the journey when the storm comes.

yang pasti sejauh ini, everything feels quite different.
good different, i think.
well, it’s not like i have high expectations hehehe.

lousy past-relationship memories have left me with low expectations.
bahkan membuat standar sendiri yang kemudian didefinisikan sebagai THE RULES (dalam konteks rule/exception theory by He’s Just Not That Into You – Greg Behrendt and Liz Tuccillo)
no, i won’t share you what my personal RULES are, hehehehe, tapi kalau sebelumnya saya merasa bahwa “I am the Rules” – sekarang saya merasa bahwa “I am the Exceptions.”
and man, that feels good!
hahahaha ..

well, gotta hop back the ship now.
wish us have a great journey, i’ll send you postcards!
*dadah dadah*

😉


images taken from here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s