Sweet Things

Standard

Semalam saya bertemu dengan tiga sahabat di salah satu sushi joint di daerah Thamrin – ceritanya ada yang baru jadian (jie jieee) .. jadi semalam salah satu agenda acara sesi petuah dan nasihat dari sesepuh, yang selama ini (ternyata) terpendam karena ketiga perempuan yang ada di sekitarnya ini udah lama nggak pacaran. mwhahahah!
it was really fun! udah lama nggak ngumpul-ngumpul buat bener-bener ngobrol dan tukeran cerita hahahahahah ..

anyway, pulang dari sana, salah satu sahabat lelaki mengantar saya sampai halte di jalan Thamrin, supaya saya bisa naik metromini jurusan Tanah Abang.
It was already 9.30 PM.

Bis tampak akan segera tiba, saya dan sahabat lelaki saya itu cipika cipiki lalu saya pun naik ke dalam bis dan duduk di seberang supir. Di tengah jalan saya membuka percakapan dengan menanyakan sesuatu ke supir mengenai titik turun saya.
Beberapa menit kemudian :

Supir : “Mbak, __________________________________nya?”

Saya : (nggak terlalu denger, kaget dia nanya sesuatu) “Apa?”

Supir :
“Iya, tadi kok nggak dianterin sih sama ______ nya?”
(i didn’t catch that particular word)

Saya :
(mulai mengerti dia sedang membicarakan sahabat lelaki saya itu) “Oh nggak. Habis arah pulangnya beda.”

Supir :
“Mestinya anterin dulu dong sampai di rumah, baru pulang ke rumahnya. Gimana sih, pacarnya malah suruh pulang sendiri ..”

Saya :
(PACAR? Oh. Dia menganggap sahabat saya itu pacar, karena melihat kami cipika cipiki tadi! Hm. Saya paling males mengklarifikasi status kalau ditebak orang asing di tengah jalan begini) “Ya nggak apa-apa lah, kan deket ini ..”

Supir : “Kalau saya sih mbak, biasanya saya jemput pas pulang kerja. Saya anter sampe rumah. Baru pulang. Jemputnya pake mobil ini juga,” (menepuk kemudi, mengisyaratkan bahwa dia menggunakan metromini yang dibawanya untuk menjemput pacarnya)

Saya : “Oh ya? Memang rumahnya dimana, Bang?”

Supir : “Depok.”

Saya : “Jauh juga ya.” (mengingat metromini itu jurusan Ps. Minggu – Tanah Abang)

Supir : “Kan sekalian jemput langganan. Rumahnya di Depok juga.”

Saya : “Oh gitu ..”

Supir : “Wah, mobil ini udah banyak kenangannya deh, Mbak.”

Saya : “Oh ya? Dipake buat pacaran ya?” (menahan senyum)

Supir : “Iya ..”

Habis itu pembicaraan kami terputus karena dia disuruh timer trayek tersebut untuk memutar di lampu merah sehingga saya terpaksa turun dan menyambung dengan kendaraan umum lain. Dia tak lupa meminta maaf sama saya (karena tadinya dia sudah janji untuk memutar di jembatan dekat rumah saya) dan bilang bahwa dia tak bisa melawan perintah sang timer.

Oh well. Saya pun turun dan mulai mengambil mikrolet dari perempatan terdekat.
Tapi sepanjang jalan pulang saya tak habisnya tersenyum membayangkan kisah percintaan Sang Supir tadi.

Membayangkan menjemput pacarnya di kantor (dengan metromini yang berukuran sebesar itu) lalu mengantarkannya sampai ke suatu perumahan di Depok (masih dengan metromini yang sama).

Bisa diduga pacarnya pasti duduk di kursi paling depan, seberang supir dan sepanjang jalan mereka mengobrol layaknya sepasang kekasih. Sayangnya tak mungkin berpelukan sepanjang jalan, karena mesin metromini yang berada di tengah-tengah mereka (*grin*)

Oh well.
Even supir metromini pun tahu bagaimana caranya memperlakukan pacarnya dengan baik, melalui satu gesture yang sangat manis menurut saya, tak peduli keterbatasan apapun yang dia miliki.

Sweet things are indeed for everyone!🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s