He’s Just Not That Into You

Standard


Rating:
Category: Movies
Genre: Romantic Comedy

Are you the exception…or the rule?

Setelah melihat dua (semi) review dari temen gue mengenai film ini, akhirnya semalam nemu DVDnya (gambar udah bagus, teks udah komplit) di toko DVD baru yang disatroni semalam.
memutuskan untuk menonton film ini di malam yang sama.

daaannn .. SAYA KECEWA!!!

seriusan deh. i thought this movie would be at least, quite interesting, mengingat dia menggunakan judul dan plot besar yang diambil dari buku self-help percintaan karya Greg Behrendt and Liz Tuccillo – dimana frase yang sama juga disebut-sebut oleh Miranda Hobbs-nya Sex and the City.

He’s just not that into you.
It’s supposed to be a wake-up call phrase, an eye opener – untuk kaum perempuan yang hidup dalam denial, yang selalu mencari pembelaan / pembenaran untuk setiap isyarat buruk yang diperoleh dari kaum lelaki yang sedang dekat dengannya.
Padahal intinya simpel : He’s just NOT that into you.
Men are more aware of what they’re doing (than we thought), so when they don’t call .. it’s simply because they don’t want to call.

Of course, there are EXCEPTIONS.
yang terjadi sesekali, dimana lelaki itu tak menelepon karena memang secarik kertas / kartu nama sang perempuan hilang, atau dia sedang opname setelah ditabrak taksi.
correct me if i am mistaken, tapi buku ini menegaskan bahwa women shouldn’t expect herself to be the EXCEPTION.
because most of the time, women are the RULE, that’s the truth.
so, stop being denial.

nah, being EXCEPTION/RULE ini juga disebut-sebut dalam film ini.
Film yang berdurasi 129 menit (2 jam lebih! too long for this kind of movie, please deh) berkisah mengenai beberapa perempuan di Baltimore, yang hidupnya terhubung berkat beberapa lelaki yang masuk ke dalam kehidupan mereka.

Sebut saja Jennifer Aniston sebagai Beth, yang sudah pacaran 7 tahun sama Neil (Ben Affleck) dan nggak juga menikah karena Neil termasuk salah satu lelaki yang tak percaya institusi bernama pernikahan.

Atau Janine (Jennifer Conelly), teman sekantor Beth, yang menikah dengan Ben (Bradly Cooper – ohmigod, dia seksi banget hahahaha) – sahabatnya Neil, dimana Ben kemudian tertarik sama Anna (Scarlett Johansson).

Anna sendiri seorang instruktur yoga / rising artist, yang jatuh cinta pada Ben namun pada saat yang sama tak kunjung mampu membalas cinta Conor Barry (Kevin Connolly) yang selalu menunggu dia selama bertahun-tahun.

Lalu ada juga Mary (Drew Barrymore), sahabatnya Anna yang punya sekian banyak sahabat gay namun nggak juga dapet pacar sampai akhirnya dia malah aktif di network website, macam MySpace atau Match.com

Dan sebenarnya dari sederet artis perempuan tenar yang bermain di film ini, peran paling utama justru diperankan Ginnifer Goodwin (Monalisa Smile, Walk the Line) – sebagai Gigi yang merupakan teman sekantor Janine dan Beth, dan pernah kencan sama Conor. Gigi adalah seorang perempuan yang tengah dalam pencarian cinta (pacar) namun senantiasa ketemu cowok bajingan, atau malah dia sendiri yang melakukan kesalahan-kesalahan yang bikin cowok ilfil – like, by being too needy on first date (serius deh, gue aja meringis setiap kali tokoh Gigi ini berkencan. not that i am an expert dater, but i can really see her humiliating herself in front of these not-so-worthy guys she dated)
Saking cluelessnya, dia merasa bersyukur saat ketemu sama Alex (Justin Long) yang kemudian mengajarkan dia ‘how to play the dating game’, atau ‘how to know that guys are not interested’.

Well, cerita berkembang sedemikian rupa (emotional buildingnya agak kacau. mungkin pengaruh multi-plot, yang pasti ada satu hal penting yang saya nggak mengerti runutan logisnya hingga bisa jadi seperti itu) dengan diwarnai oleh beberapa teori dari buku berjudul sama, seperti :
He’s not that into you,
.. if he doesn’t call.
.. if he doesn’t marry you.
.. if he’s sleeping with someone else.
etc etc

and it would feel much better, kalau film ini ber’nada’ sama dengan bukunya, yang menurut saya sangat realistis. tapi TIDAK.

while the book is emphasizing the readers NOT to expect too much to be the EXCEPTION, film ini justru menunjukkan yang sebaliknya.
Film ini terasa kurang realistis.
Tetap saja menjual mimpi dan optimisme, bahwa bisa saja kita menjadi exceptions, bukannya the rule. Buktinya, dari begitu banyak sub-plot yang ada film ini, justru sebagian menunjukkan bahwa tokoh perempuan disana adalah exceptions, bukannya the rule.
It’s basically negating the values of the book!
but like my friend said in his review : kalau nggak begini, mana laku filmnya?
(see : http://pryabiasa.multiply.com/journal/item/434)

Artis-artis perempuan keren di film ini bermain biasa aja, malah cenderung tak menonjol – it’s a waste of talent and money, i think. Cowok-cowoknya juga biasa aja, kecuali Ben yang menurut saya seksi banget .. (wait. have i said that earlier? hahahahahah!)

anyway, i was bored and nearly fell asleep watching this movie last night (bisa jadi karena pengaruh waktu nonton jam 23.30 sd 01.30) – and i personally think there are a LOT similar movies better than this one.

see other review :
http://indahsusanti.multiply.com/reviews/item/40/Hes_Just_NOT_that_into_you_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s