Lonelier than Eleanor Rigby

Standard


WARNING :

tulisan ini panjang, deretan opini pribadi dan sedikit berbagi pengetahuan mengenai sesuatu yang bisa disetujui bisa tidak. Topiknya (AGAIN) mengenai love and relationship – yang mungkin terasa basi bagi sebagian orang, so feel free to read OR not to read this.
read at your own risk. no personal offense intended.

Eleanor Rigby,
Picks up the rice in a church where a wedding has been
Lives in a dream, waits at the window,
Wearing the face that she keeps in a jar by the door
Who is it for

All the lonely people
Where do they all come from?
All the lonely people
Where do they all belong?

(The Beatles / David Cook – Eleanor Rigby)

Loneliness is the thing you feel,
when you have no one to share your daily NOTHINGS with

– taken from http://citra.multiply.com/journal/item/711

Okay.
Ini mungkin salah satu tema yang paling segan saya tulis.
Bukan apa-apa, seperti kebanyakan orang lainnya, I always want to look strong and tough on the outside, no matter how much empty and lonely I am inside.

So, yes, I barely admit that I am lonely sometimes.
Tapi biar bagaimanapun, minimnya pengakuan saya tak lantas membuat rasa itu hilang.
It’s still there, but now I know I can choose whether to cling to it and pity myself – or accepting it as any other emotions that may come occasionally, but it’ll go eventually.  

Being single for more than two years telah membuat saya cukup “pengalaman” dalam hal ini. Dalam waktu dua tahun itu, berkali-kali saya menghadapi suatu rasa menyebalkan yang namanya kesepian. I want to have someone to share my daily nothings with, but the person is just not there.
Dan berkali-kali pula saya memberikan reaksi berbeda.

Reaksi yang saya berikan bervariasi dari :

1.    Denial / Ignorance – dimana saya mencoba untuk mengacuhkannya, dengan menghindari situasi dimana saya sendirian.
Biasanya reaksi ini memicu excessive spending karena akhirnya saya jadi kebanyakan main dan jalan-jalan (hehehehehe) – while trying to convince myself that I have no reason to be lonely, since I have plenty of friends around me. I go out, have fun, dan pulang saat badan sudah lelah sehingga tinggal tidur.
Metode ini terbukti  seringkali gagal juga, karena MESKIPUN sudah lelah, dan tinggal tidur aja sebenernya, tetep gatel pengen nelepon seseorang buat ngobrolin hal nggak penting.
Terus nggak tahu mau nelepon siapa.
Berasa lagi deh kesepiannya.

2.    Pampering –
I am pampering the lonely me. Membeli DVD banyak-banyak dan berkontemplasi sesaat kalau ketemu dialog-dialog yang penuh makna (yang bikin galau juga, tapi karena nontonnya sendiri di kamar, mau bercucuran air mata pun sepertinya nggak masalah) atau membaca buku yang saya tahu hanya akan membuat saya merasa makin kesepian.
This method usually works, karena setelah beberapa jam biasanya mulai bosen nangis dan merasa mellow, dan mulai merasa bodoh sendiri. Setelah itu biasanya saya bangun dan mulai melakukan hal-hal lain yang lebih produktif daripada mengasihani diri sendiri.

3.    Looking for temporary fix

Nah! Metode ini yang paling manjur, namun paling berpotensi merusak diri sendiri. Mwhahahaha!
It’s like a nicotine patch (entah kenapa saya sedang senang sekali memetaforakan macam-macam dengan nicotine patch ini – see : http://en.wikipedia.org/wiki/Nicotine_patch) yang digunakan saat seseorang ingin berhenti merokok, dimana dia menempelkan nicotine patch ini di kulit untuk mengatasi ketergantungannya terhadap nikotin.
Lalu apa temporary fix untuk kesepian?
Ya apa lagi? Manusia lain lah! Biasanya lawan jenis, dan kadang-kadang suka ditemukan secara tak sengaja.
Another lonely soul.

Okay, I want to elaborate more about the last method.

I’ve met few lonely souls throughout the last two years.
Entah ya, sepertinya lonely souls itu punya ‘bahasa’ sendiri yang cuma bisa dimengerti sesamanya. It feels like those souls are calling each other every time two lonely people meet, yang menyebabkan interaksi di antara dua manusia yang terlibat jadi terasa berbeda.

Those lonely souls I met – punya konteks dan dunia yang berbeda-beda (I am going to use the word He, because obviously my lonely soul is strictly talking ONLY to male lonely soul hahahah!).

He can be one successful businessman, a company doctor – yang kerjanya rapat sama orang-orang penting, dan membenahi sebuah perusahaan yang nyaris bangkrut hingga sehat kembali, dimana semua orang hanya meluangkan waktu berbicara dengannya bila ada maunya.

He can be one mere employee, who’s living far away from home – dimana dia nggak betah dengan tempat kerja barunya yang memaksanya untuk bekerja ekstra keras di jam-jam yang tak seperti jam kerja pada umumnya sedangkan dia tak boleh mengeluh karena dia membawa serta keluarganya ke tempat itu. The family’s moving there because of him, so OF COURSE he cannot complain, although he sometimes just feels like doing so.

Or he can be just one ordinary guy, trying to find his way in this life to become something he can be proud of – while most people around him just don’t believe that he can be someone he really wants to be.

Konteks, dunia dan karakter masing-masing lonely souls ini boleh saja sangat berbeda – but there’s something they have in common.

Hampir semuanya TIDAK mencari sesuatu LEBIH dari sekedar percakapan kasual – yang biasanya dilakukan pagi hari sebelum hari dimulai, atau larut malam saat hari sudah berakhir.
Talking about nothing and everything all at once.
Ngomel-ngomel mengenai ini itu.
Berbagi cerita mengenai pertemuan masing-masing dengan berbagai manusia hari itu, dari yang aneh sampai yang menggelikan.

Basically, just sharing some daily nothings.

Kadang percakapan kasual ini diselingi dengan makan / ngopi bersama, to basically do the exact same thing with the phone conversations – meski pertemuan langsung macam ini tak menjadi prioritas, karena memang sebagian orang merasa lebih mudah berbicara dan mengutarakan isi kepala dan hati saat berbicara via telepon.

Lonely souls can recognize each other.
Lonely souls speak to each other below the lines that are spoken.
Lonely souls usually have the same understanding, same fears and maybe the same temptations.

And most importantly, lonely souls DON’T recognize status of the persons involved.
They don’t care if you’re married or not, they don’t care if your ages are 25 years apart, they don’t care if you have different religion.
They just can see the loneliness inside, whoever you are.

Karena itu juga, sering sekali terjadi kekacauan yang tak seharusnya.
Because most of the time, lonely souls that meet, are the ones who are NOT supposed to be together.
Sebabnya macam-macam. Bisa jadi karena marital status yang berbeda, bisa jadi karena beda agama, bisa jadi karena berbeda lokasi yang terlalu jauh, atau beribu sebab lainnya.
Apapun sebabnya, they still can’t be together – no matter how much their inner lonely soul has communicated with each other, and understood each other.

I’ve met plenty of lonely souls that are NOT supposed to be with me – yang akhirnya membuat saya harus menerima kenyataan bahwa I have to take it as it is.

No matter how much I have fallen for him.
And no matter how much he has fallen for me.

There shouldn’t be any further expectations –
because there’s no such thing as future.

This has made me wonder :
If we’re not supposed to be together, lalu kenapa saya harus ketemu sama dia?

And last night I have finally found the answers.

1. To make each other realize that they’re NOT the only lonely person in the world.
Every lonely person is together with other lonely persons in the world. Menyadari kenyataan ini bisa membuat kita menjadi lebih tidak kesepian, karena faktanya adalah : ada jiwa-jiwa di luar sana yang sangat mengerti apa yang kita rasakan. We’re all together in our loneliness.
So I guess no, we’re not that lonely🙂

2. To give support and sense of belonging to each other – although temporarily, only for some particular moment of our lives
Salah satu saat dimana kita merasa PALING kesepian adalah di saat kita sedang butuh support atau sense of belonging to something/someone – tapi kita nggak tahu harus kemana.
It’s a miserable feeling, and God knows it.
So He sent you another lonely soul, to give you support and sense of belongings, to get through your hard times. Untuk ngasih lihat kita bahwa ada seseorang di luar sana yang peduli dan mengerti. That you’re not alone, and the world is not that bad after all.
Tapi memang, akan ada saatnya dimana kita harus merelakan seseorang itu pergi, because that person is not meant to stay forever in our lives.
Dan biasanya, di saat dia pergi, kita sudah melewati saat-saat terberat itu – we’ve become stronger and better persons, dan kita sudah bisa menjalani hidup sendirian lagi.
Trouble comes only when we REFUSE to let them go.
When we refuse to let them go, kita akan merasa depresi, merasa semakin kesepian karena merasa ditinggal – tanpa menyadari bahwa memang mereka tak ditakdirkan untuk tinggal selamanya di hidup kita. They just do their job by dropping by, giving us what we need (support / sense of belongings) and then leave.
And we SHOULD let them go.

Satu lonely soul datang untuk menarik saya keluar dari “the darkest period of my life”. Dialah sosok seseorang yang tak pernah bisa saya abaikan, dan saya selalu menurut sama dia. Karena itu juga saya mau keluar dari periode itu, dan itulah titik awal dari suatu proses yang panjang yang sedang saya jalani untuk menjadi seseorang yang lebih baik.

Lonely soul yang lain datang di saat yang lain, meluangkan waktu untuk saya meskipun dia sudah sangat sibuk sekali, untuk menunjukkan bahwa saya memiliki arti bagi orang lain. Dia menjadi sumber semangat saya untuk bangun pagi dan menjalani hari dengan senyum – di saat saya sedang benci-bencinya dengan pekerjaan saya.

They were there, and they did their job greatly.

Bisa jadi kehadiran saya buat mereka pun berarti sesuatu buat mereka saat itu, (saya yakin kita berdua sama-sama punya “tugas” masing-masing yang harus dilakukan saat kita bertemu) tapi saya tak akan pernah tahu – hanya mereka yang tahu.

So, where are they now?
Saya masih berhubungan sama mereka sesekali – mengobrol dan saling mengupdate kabar masing-masing, tapi kami tak pernah sedekat dulu lagi.
The moment is over, and they have to move on.
I have to move on.

Satu lonely soul pernah punya percakapan ini dengan saya, kira-kira setahun setelah kedekatan kami berakhir.

Saya : (sambil ketawa) “Can you believe that ada satu periode dalam hidup saya, dimana saya benar-benar punya rasa sama kamu?”

Dia : (senyum) “Percaya. Saya juga.”

Saya : (bengong) “Waduh. Of all the answers, jawaban itu yang paling tak saya duga.”

Dia : (ketawa) “Iya, sebenarnya mungkin sampai sekarang pun, (hubungan) kita masih bisa kalau dilanjutkan. But I don’t want to do that. Dari sisi saya, saya masih banyak sekali yang harus dikerjakan dan saya belum bisa untuk meluangkan waktu untuk kamu. Kalaupun dilanjutkan, pasti nanti akhirnya jadi bete-betean, and we’ll end up losing all the good things we already have. And I don’t want that to happen.”

And I couldn’t agree more.

We were born alone, and we’ll die alone.
but along the road, there are people who cross our paths
they may stay for a season,
they may stay for a reason,
they may stay for a lifetime.

but definitely NOT EVERYONE is going to stay for a lifetime,
so you have to let them go, eventually.
🙂

pictures taken from here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s