I Want to Get Married!

Standard


WARNING :
tulisan ini panjang, deretan opini pribadi dan sedikit berbagi pengetahuan mengenai sesuatu yang bisa disetujui bisa tidak. Topiknya mengenai love and relationship – yang mungkin terasa basi bagi sebagian orang, so feel free to read OR not to read this.
read at your own risk. no personal offense intended.

I WANT TO GET MARRIED!

well of course, not now.
someday.

Setelah sekian lama memiliki pandangan yang cukup pesimis mengenai institusi bernama pernikahan (lihat di A Solution Called Marriage?) akhirnya optimisme saya kembali.
Bagaimana bisa?


Reason #1

karena saya mengenal lelaki satu ini sejak bulan Februari kemarin.
Namanya Steve Lunn. He’s my pastor at church, married with a woman named Kim, and has two kids.
Dia adalah tipe pastor yang kalau dilihat teman-teman saya (yang tidak berasal dari komunitas yang sama) pasti berkomentar, “Serius lo, itu Pastor?” – lebih karena dia masih muda, umurnya awal 30an, penampilan fisiknya tinggi besar dengan badan berotot six packs.
Sekilas ia pun bisa disamakan penampilannya dengan para finalis L-Men, dan dia benar-benar tak terlihat seperti Pastor (setidaknya kalau dilihat dengan standar yang berlaku umum).
Beberapa minggu belakangan, komunitas Bible Study saya membahas mengenai Men, Women and Singles. Topik yang memaksa kami untuk berdiskusi lebih banyak mengenai relationships and marriages – topik yang cukup seru, mengingat kami semua SINGLE.
Topik ini juga memaksa Pastor Steve untuk sedikit share mengenai pernikahan dia dan istrinya. Setelah beberapa sesi, saya dapat menyimpulkan dengan yakin bahwa HE’S VERY HAPPILY MARRIED. Dia menikah di usia yang cukup muda (saya agak lupa, but i think he got married when he was around 18-21 years old) dengan pacar pertamanya. According to him, it was one of the rightest decision he’s ever made.
He’s happy being married, and he loves his wife very much.
And he shows it – whenever he can.

Saya pernah terkagum-kagum melihat tulisan di kaca belakang mobilnya, “I AM IN LOVE WITH KIM.” – it was very unusual and unexpected, but at the same time, really sweet.

Lalu kemarin saya melihat foto ini di facebooknya :

 

Beberapa minggu yang lalu, gereja saya membahas tentang WOMEN. Hari itu, semua perempuan (all ages) yang datang memperoleh 1 buah cupcake yang disediakan gereja, namun dibagi-bagikan oleh para lelaki yang hadir, lalu anak-anak melakukan pementasan nyanyian di panggung untuk kaum Ibu dan Nenek (they sang a modified cover version of Jason Mraz – I’m Yours, for their Moms. It was just super cool!)
Di hari yang sama, Pastor Steve’s wife was holding this huge bucket of flowers – pemberian dari suaminya, Pastor Steve himself.  

Oh my God.
They are just really sweet!

I must be heartless to remain unmoved after seeing all these sweet love gestures.

Melihat mereka, saya menjadi benar-benar yakin bahwa pernikahan bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Memang sih, nggak bisa otomatis menyenangkan juga. You have to work on it.
Like Pastor Dave (another pastor at the church) said, “GOOD marriages DON’T just happen – but BAD marriages just happen.”

But at least, there’s hope!
I really don’t mind doing a lot of work for the marriage, especially if occasionally I may get this huge bucket of flowers, or an ‘I love you’ written on stonepathways.
I am sure (and all the girls says AMEN to this), every work will seem to worth it after getting all these love gestures😀

Because really, aren’t we, women, just need to know that we’re loved?


Reason #2

Okay, alasan nomor dua adalah banyaknya dan besarnya intensitas sesi edukasi mengenai love and relationships that I had for the past few weeks.

Entahlah, saya tak pernah senang membaca buku self-help books, khususnya soal percintaan, atau mengikuti sesi-sesi seminar pendek dengan judul seperti “Finding Love of Your Life” – I just can’t stand the feeling of being THAT cheesy and pathetic. Hahahaha.
 
But then, I found myself came across this very interesting book (For Women Only by Shaunti Feldhahn) and this short seminar called “Finding Love of Your Life” (yes, the exact same title. Hahaha!).
Kenapa saya sebut “came across”?
Karena saya tak mencari-cari semua itu. Buku For Women Only saya temukan di mobil teman saya, dalam perjalanan dari Kuningan ke Plaza Semanggi dan dalam waktu singkat itu saya sempat speed-reading sedikit.
Isi bukunya tak lain dan tak bukan adalah, what women need to know about inner lives of men.
Bukan, saya tidak membaca buku itu karena saya desperate cari pacar, tapi lebih karena saya penasaran sudut pandang lelaki seperti apa yang dipaparkan oleh buku itu.
Teman saya pun akhirnya meminjamkan buku itu, and I started to read it.
Lalu makin antusias saat saya mengkonfirmasi beberapa teori di buku ke sahabat-sahabat lelaki saya, dan mereka mengamini semuanya.
Hm. Sepertinya buku ini cukup “bunyi” nih.

Anyway, ada banyak revelation yang saya peroleh dari buku ini.

Salah satu yang terpenting adalah :
Women need LOVE, while men need RESPECT.
Mayoritas lelaki memilih untuk tidak dicintai daripada tidak dihormati.

Dan kondisinya adalah :
women are naturally able to show love, but usually don’t know how to show respect.
and on the other hand,
men naturally know how to show respect, but usually don’t know how to show love.

Well, itu cuma salah satunya. There are plenty of other good stuff, but I guess you have to read it by yourself.🙂

Ada rasa bersalah saat saya tahu persis pernah melakukan hal-hal yang “highly violating / abusing things that are important for men”, to few men in my life.
Not just past time boyfriends, but also to my father. Buku ini membuat saya pun lebih mengerti posisi ayah saya, even finally accepting his mistakes and flaws by understanding the motives behind them.

However, I know I came across this book for a reason.
Setidaknya sekarang saya tahu dimana kesalahan saya, dimana saya harus memperbaiki perilaku saya, sehingga saya bisa menjadi seseorang yang lebih baik😀

Oh ya, saya belum cerita mengenai seminar saya.
Seminar ini juga saya datangi tanpa banyak bersusah payah. I just simply do what I usually do on Sunday, dan seminar itu ada di tempat yang memang saya datangi setiap Minggu. No hassle, no registration required.

This short seminar basically tells you what to do and what not to do, in searching the “love of your life” (beuh. Serius deh, terms ini terdengar TERLALU romantis buat saya. Hahaha!)

Ada beberapa poin penting yang saya peroleh dari seminar tersebut :

1. Calon soulmate setiap orang itu TIDAK HANYA SATU.
Shocking? Yes, I was shocked at first. Tapi saat di seminar yang sama, saya diminta membuat list kriteria berisi 5 poin di bawah kategori “MUST HAVES” dan “CAN’T STAND” (yang ceritanya akan dijadikan standar screening saat melakukan pencarian soulmate) – and then I realized, there could be over 5,000 people that fit into my criterias.
There is no certain name in the criterias I enlisted, so it could be ANYONE.
Jadi kata siapa kandidat soulmate kita cuma satu?
God even gives each of us SEVERAL CANDIDATES that we can choose from. Searching for soulmate tidak terdengar terlalu menyulitkan lagi.
Menyenangkan, bukan?

2. 85% problems that happens on each marriage, have existed ever since the dating period
Don’t expect anyone to change. Setelah umur 25 tahun, otak sudah berhenti bertumbuh sehingga kepribadian, karakter dan sifat tiap orang pun sudah fiks. Itulah kepribadian / karakter / sifat yang akan kita peroleh untuk 10, 15 bahkan 50 tahun mendatang.
Trying to change personality is like changing the course of a flowing river. Almost impossible.
Setelah umur 25 tahun, bisa sih ada perubahan kepribadian – tapi biasanya membutuhkan pengalaman traumatis yang cukup mendalam untuk mendorong perubahan tersebut.
Yaaahh .. basically, setelah umur 25 tahun – WYSIWYG lah, What You See Is What You Get.
Hahahaha ..
*jadi inget program komputer jaman lotus dan wordstar*

3. Look for someone similar with you
Yes, opposites attract, but every difference is a potential problem in relationship / marriages. More similar, the better.

4. Make yourself worthy of being a decent husband / wife, before demanding one
Kita nggak bisa cuma mau mencari orang-orang yang memenuhi kriteria kita aja, tapi kita harus mau berusaha menjadi pasangan yang LAYAK bagi orang lain.
Self assessment. Introspeksi. Seek help to heal your own wounds / traumas.
Don’t expect your (future) soulmate to fix you.

5. Get as much support as possible
Support dari orang tua, saudara, sahabat maupun pastor di gereja (atau petinggi agama di agama masing-masing)
Kenapa?
Because when the going gets tough, and you start to lose confidence in your relationship – it’s really empowering to have people around you who STILL have faith in your relationship.
Setidaknya kita bisa yakin bahwa mereka bakal kasih support yang diperlukan supaya semuanya bisa beres kembali.

6. Don’t Settle. Seriously. Being single is better than having a miserable marriage.
It may took us several months, or years, for us to find someone who fits into our criterias. However, if you settle, you’re bound to be disappointed.
Make a list :
1.    MUST HAVES – kriteria yang kita inginkan ada di pasangan kita
2.    CAN’T STANDS – kritera yang SAMA SEKALI TIDAK BOLEH ada di pasangan kita. List “CAN’T STAND” ini bisa dibilang “the deal-breaker”. Ada satu kriteria dalam list ini yang dilanggar, mendingan nggak usah.

Katanya, dalam memperlakukan list kriteria “MUST HAVES” and “CAN’T STANDS” – at least, orang tersebut haruslah memenuhi 80% dari “Must Haves” and NONE of the “Can’t Stands”

Yesterday I made my own list. Temporary list sih, karena tentunya membuat satu list yang beneran perlu pemikiran yang lebih panjang dan mendalam.
But at least I’ve started making the list.

List saya baru berisi masing-masing 5 kriteria di Must Have dan Can’t Stand – tapi baru segitu saja mendadak beragam nama lelaki yang ada di pikiran (baik dari masa lalu maupun masa kini) mulai satu per satu bisa dicoret.
The ones that I thought probably eligible has become the ineligibles.
Hahaha. Rasanya seperti sedang melakukan Disk Cleanup! I can now put the ineligible guys away, and free up some brain space for (potential) new guys.

So yes, I want to get married.
Because I still believe that I can be happy if I meet the right one.

Jadi yang penting sekarang adalah, melakukan screening yang efektif – since effective screening will save me from 20, or even 50 years of miserable life of marriage. Hahaha.

Happy screening!😉

picture courtesy of Steve Lunn
ideas are compiled from For Women Only (Shaunti Feldhahn), Short Seminar by Lew and Monica Belcourt and personal opinion

Got further questions about dating / marriage / romance / relationships?
Just contact Pt. Steve Lunn at Facebook
user ID : Steve Lunn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s