Excess Baggage

Standard


WARNING :
tulisan ini panjang, deretan argumentasi mengenai sesuatu yang bisa disetujui bisa tidak.
read at your own risk. no personal offense intended.

Jadi, minggu lalu saya lagi setengah anti-sosial.
Kalau nggak percaya, tanya saja sahabat-sahabat saya – setidaknya dua di antaranya sudah mengiyakan saat saya menanyakan hal ini saat akhirnya saya muncul ke “permukaan” dalam rangka les bahasa Italia kemarin, hehehe.
Sepanjang minggu saya jarang muncul di YM, saya juga nggak muncul di beberapa acara ngumpul sepanjang minggu kemarin, dan saya pun tidak terlalu beredar di multiply maupun fesbuk.

Entahlah, sebenarnya sebabnya sih simpel.
Inet di kantor lagi kacrut ditambah badan lagi nggak enak (saya terkena flu / diare yang tak juga benar-benar sembuh sejak minggu kemarin! Udah gitu nggak nambah kurus juga .. bah!) sehingga rasanya lagi agak males bersosialisasi juga.

Hasilnya?
Saya jadi banci TV. Mendomestikkan diri dengan siaran-siaran TV lokal yang (masih saja) menjual mimpi, meskipun saya harus mengakui bahwa sudah ada beberapa acara televisi lokal yang cukup menarik ditonton karena lumayan berkualitas (meski yaaaa .. kebiasaan deh, host acara televisi Indonesia kenapa sih harus teriak-teriak terus? Memang kalau nggak teriak, nggak bisa jadi host yang asik, gitu? Sampe kadang-kadang pusing dengerinnya, apalagi kalau hostnya lebih dari dua. Berisik bener dah. Argh!)

Nah, jadwal salah satu stasiun TV lokal yang sedang menayangkan film-film Indonesia setiap jam 6 sore sepanjang minggu pun tak luput dari perhatian saya.
Jadilah saya, menghabiskan Jumat sore menonton Ada Kamu, Aku Ada (Bunga Citra Lestari dan Andhika Pratama), lalu Sabtu sore menonton Oh Baby (Cinta Laura dan Rendy Pangalila).

Kesimpulannya?
Yah, jangan tanya kualitas film-filmnya deh .. standar. Males juga ngasih review-nya.
Tapi ada sesuatu yang saya nikmati dari kedua film itu.

Kesederhanaan cinta!

Halah. Bahasa yang saya gunakan barusan aja udah sempet bikin saya males. Mwhahahhaa. Kesederhanaan macam apa?
Yaaa .. kayak yang bisa dilihat pada dua film drama romantis di atas lah. Dua orang saling suka, yang kemudian menikmati kedekatan / kebersamaan. Lalu muncul satu konflik yang biasanya terlahir dari kesalahpahaman. Tapi akhirnya keduanya kembali bertemu dan saat itu semua konflik sudah berakhir dan mereka pun akhirnya memutuskan untuk bersama.

Simpel kan?
Nggak ada tuh yang namanya drama-drama berlebihan yang biasanya dipicu oleh baggage (masa lalu) masing-masing. Seperti apa?
Well, seperti lelaki yang menikmati kedekatan fisik tapi giliran ditanya status langsung menghilang,
atau perempuan yang takut pacaran karena pernah disakiti sedemikian rupa,
atau perempuan yang mau jadi selingkuhan lelaki yang sudah menikah – simply because she feels like no one understands her like the way he does,
atau lelaki yang memutuskan hubungan dengan pacarnya karena dia memilih mengejar pekerjaan impiannya.

Apakah postingan ini curhat colongan? Bisa jadi. Tapi bukannya inti blog seseorang itu memang curhatan si empunya? Hehehe.

Anyway, I am now 26 – dan saya yakin sekali ada masa dalam hidup saya dimana suatu hubungan memang berlangsung sesederhana itu.
Sesederhana kisah Baby yang jatuh cinta sama Benny, anak kepsek yang jadi tutornya saat dia ketinggalan pelajaran.
Sesederhana kisah Stella yang diam-diam jatuh cinta sama Elang, yang mencintai dia apa adanya tak seperti pacarnya yang tak pernah menghargai apa pendapatnya (well, cerita yang ini memang agak rumit sedikit, tapi kalau konflik pacarnya Stella dipisahkan dari kisah Stella-Elang, sebenarnya kisah mereka cukup sederhana)

Lalu sekarang semua itu kemana ya?
Kenapa sekarang terasa begitu rumit?!

Saya yakin, bukan saya saja yang merasakan hal seperti ini. Teman-teman seumuran saya, dan biasanya mereka yang umurnya lebih tua dari saya, pasti merasakan hal yang sama.

As we get older, we have more baggage.

Apa itu baggage?
Masa lalu kita, yang masih tersimpan – baik secara sadar atau tidak sadar – dan kita seret-seret kemanapun kita pergi saat kita melangkah menuju masa depan.
Baggage inilah yang kemudian menentukan cara kita berpikir, cara kita melihat sesuatu, cara kita bereaksi terhadap sesuatu.

Menurut saya, baggage ini beda sama referensi yang kita peroleh saat belajar dari pengalaman.
Secara otomatis, saat seseorang makin dewasa, pengalaman pun makin banyak. We experience a lot of things, and we’re forced to learn something from it. Pembelajaran ini diharapkan bisa membuat kita semakin pandai, dewasa, dan bijaksana. Dan tentunya, menghindari dari kemungkinan terjatuh ke lubang masalah yang sama.

Dalam situasi belajar dari pengalaman, saat kita dihadapkan pada kondisi yang serupa dengan sesuatu yang pernah kita alami di masa lalu, kita bukannya menghindar. Tapi kita akan berani menghadapi, dengan referensi ilmu yang sudah lebih sempurna, sehingga kali ini kita tak akan gagal.
We brace ourselves, to start over the same experience, hopefully to have a better result.
We start over, from ZERO.
Giving the new experience a FULL chance to succeed.

Tapi, bila pengalaman kegagalan di masa lalu itu menyisakan rasa takut, rasa amarah yang terpendam, rasa kecewa yang belum dapat dilupakan – inilah yang jadi baggage.

Ingat kan dimana posisi angka minus?

  – (minus / negatif)                                        + (plus / positif)
__________________________0 ____________________________________

Seseorang dengan baggage, biasanya tidak mulai dari nol lagi saat memulai sesuatu yang baru, tapi bisa jadi dia malah mulai di angka minus (negatif).
Dan semakin besar baggage-nya, semakin besar angka minusnya.
Dan semakin sulitlah dia bahagia, karena bahagia berada di region angka positif, BUKAN negatif.

As long as we’re in relationship, we’ll keep moving back and forth along the positive/negative line.

Setiap konflik yang terjadi dalam hubungan tersebut pasti memberikan poin minus, sedangkan suatu hubungan PASTI tak akan lepas dari konflik – sehingga hal ini tak dapat dihindari.
Moment berbaikan dapat memberikan poin plus. Bisa jadi poin plus yang didapat menutupi poin minus yang terjadi karena konflik, tapi bisa jadi tidak.

Bila kita memulai hubungan itu dari angka minus, bakal tambah banyak aja PR kita kan?

Dan bayangkan kalau kita ketemu orang, yang JUGA mulai dari angka minus!
Happiness is surely still a loooooooong way to go … Hahahaha!

I admit, I have my own baggage.
And I know exactly, other people has his/her own baggage.

Entahlah bagi orang lain, tapi untuk saya, bisa jadi baggage ini yang membuat saya sulit memiliki sebuah kisah (cinta) yang sederhana macam Baby atau Stella.
Karena saya tak akan memulai sesuatu dari nol lagi.
I didn’t give the new relationship a full chance.
Saya memulainya dari angka minus, sehingga proses menuju bahagia di region angka positif tentunya masih jauh sekali.

Mungkin seperti saat Meredith Grey dari serial Grey’s Anatomy mengakui bahwa “She’s scared and damaged.” – saya pun punya baggage saya sendiri yang membuat saya terlihat seperti barang “rusak” yang harus diperbaiki dulu agar dapat memberikan fungsi yang seharusnya.

Lalu siapa yang harus memperbaiki itu?
Bukan, bukan pangeran charming yang menanti di pengkolan dengan baju zirah dan kuda putih.
Bukan, bukan juga lelaki yang menyanyikan lagu “Fix You”nya Coldplay di bawah balkon.
Bukan, bukan manusia lain.
Manusia manapun tak bertanggung jawab atas “perbaikan” manusia lain, termasuk saya.

SAYA lah yang harus mau memperbaiki diri saya sendiri.

Mulai darimana?
One thing for sure, I HAVE LET GO THE BAGGAGE.
Setidaknya dengan begini, saya bisa memulai sesuatu dari NOL, bukan dari angka minus.

Dengan demikian, saat saya bertemu mereka yang punya baggage (sehingga mereka masih berada di angka minus), setidaknya saya punya kesempatan bahagia yang LEBIH besar daripada bila saya mulai dari angka minus juga.

Well, letting go our own baggage surely IS NOT an easy thing to do. Kalau gampang, semudah minta Doraemon menghapus kenangan nggak asik dari otak, mungkin nggak akan ada orang yang masih punya baggage saat ini.

But well, here’s the good thing.
We’re not alone!

The best way to fix something to hand it back to the creator. Dia yang buat, sehingga dia juga yang tahu bagaimana setiap spare-part harusnya berfungsi, dan dia juga yang paling tahu bagaimana cara memperbaikinya.

So, hand yourself back to the Creator.
Ask Him to fix you.
Why?

Because a creation will NEVER be able to FIX him/herself.
And creations will also NEVER be able to FIX each other.

Only one way to do.
Give it back to the Creator.

Minggu lalu saya malah baru dapat info baru soal The Creator.

He knows EXACTLY that we’re going to be where we are right now.
He knows EXACTLY that we’re going to be hurt by some people.
He knows EXACTLY that we’re going to be scared, and damaged.

And He ALREADY has the cure for that – obatnya udah ada di tangan!!!😀

Saat ini, sejujurnya, I am being repaired. Hehehe.
Seperti mobil yang saat sedang diperbaiki harus didiamkan dulu di bengkel, BUKANNYA dipakai / dibawa jalan-jalan terus, sepertinya sekarang pun saya memang harus diam dulu.
Take a break, dari hal-hal yang rawan bisa bikin saya “rusak” lagi.
Begitu terus, sampai proses perbaikan itu selesai sempurna.

The process isn’t so bad, honestly, a lot of good things happened along the way.
My problems are resolved, one by one.

Tapi memang harus sabar.
Karena waktu kita bukan waktunya Dia.
Rencana kita juga bukan rencana Dia.

Nanti sih, kalau proses perbaikannya sudah selesai, mudah-mudahan sih seluruh BAGGAGE saya sudah hilang – sehingga saya bisa memulai sesuatu kembali dari NOL.

Nanti, kalau sudah bisa lagi untuk memulai sesuatu dari NOL, siapa tahu bisa punya kisah cinta sederhana macam Baby atau Stella juga … ya nggak?
*tetep ngarep*

Hahahahah!



image taken from
here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s