Knowing

Standard


Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Mystery & Suspense

WARNING :
review ini kemungkinan mengandung sedikit spoiler.
entahlah, i tried not to give any spoiler (because i hate people who does it) tapi kok susah ya bikin review tanpa memaparkan fakta satu itu.
terribly sorry!

Saya menonton film ini tepat di malam sebelum Good Friday, setelah seharian kebosanan di rumah usai mencontreng sebuah partai yang berdasarkan perhitungan quick count di semua stasiun televisi, (ternyata) cukup unggul (hehehe)
And I didn’t really realize what the movie is all about, until I watched it myself.

Film ini berawal dari kisah sebuah sekolah dasar tahun 1959 yang sedang merancangkan acara peresmian sekolah, yang kemudian memutuskan bahwa mereka akan menanam sebuah kapsul waktu yang akan dibuka 50 tahun kemudian. Siswa di sebuah kelas diminta untuk menggambar bagaimana perkiraan mereka tentang masa depan, untuk disimpan di kapsul waktu itu. Adalah seorang gadis kecil bernama Lucinda Embry, yang alih-alih menggambar, malah menulis sederet angka acak satu halaman penuh yang tak dapat dimengerti artinya. Gurunya, Ms. Taylor mengambil kertas tersebut sebelum dia selesai menulis, dan langsung menyimpannya di dalam kapsul waktu, yang kemudian dikubur di halaman depan sekolah.

Lima puluh tahun kemudian, kapsul tersebut dibuka – dan tulisan penuh angka itu sampai ke tangan Caleb, anak dari John Koestler (Nicholas Cage), seorang dosen astrofisika di Massachussets Institute of Technology (MIT – one of the best institute in USA). Koestler adalah seorang anak pendeta yang karena depresi ditinggal istrinya yang tewas, yang membuat dia menyangkal bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ada alasannya (there’s no such thing as coincidence – sesuai paham determinisme).

Koestler inilah yang kemudian secara tak sengaja menyadari apa arti angka-angka tersebut dan bagaimana cara membacanya.
Yup, deretan angka-angka tersebut ternyata menyatakan tanggal terjadinya bencana di seluruh penjuru dunia, dan jumlah korbannya. Termasuk di dalamnya bencana Badai Katrina dan bencana 9/11. Semua bencana terjadi di tanggal yang tepat seperti angka yang tertulis di kertas itu, dengan jumlah korban yang angkanya sama persis dengan dua/tiga digit angka yang mengikutinya.

And all of that was written 50 years ago, by an elementary student called Lucinda Embry.

Realizing that these numbers may have very important message for the sake of human being, Koestler melakukan beragam investigasi yang kemudian mempertemukan dia dengan Diana, anak Lucinda Embry. Pada akhirnya investigasi inipun membawa dia masuk ke dalam petualangan penuh ketegangan yang lalu memporak porandakan prinsip maupun kepercayaan dia terhadap Tuhan – karena kemudian dia berhasil menemukan arti deretan angka terakhir dalam kertas itu.

Film ini sukses membuat saya sulit bernafas dengan ketegangan ceritanya (yang di beberapa titik benar-benar terasa seperti film horor) dan perjalanan investigasi Koestler diwarnai oleh penggambaran adegan yang sangat berani, khususnya dalam menggambarkan bencana-bencana yang sudah diramalkan oleh deretan angka tersebut – they’re totally mind-blowing scenes! Well, setidaknya untuk saya hehehe.

Tapi entahlah, sepertinya film ini bisa dibilang drama suspense yang bernafaskan religi semacam End of Days (Arnold Swachzenegger) atau Bless the Child (Kim Basinger), jenis film yang rasanya lebih menakutkan daripada film horor biasa, karena terasa begitu dekat, begitu mengingatkan kita terhadap keberadaan Tuhan dan hari kiamat.
Namun sebenarnya nuansa religi ini tidak begitu kental juga di film Knowing, meskipun ada beberapa ayat Alkitab yang dikutip di film ini, tapi justru semua kejadian itu dilihat dari sudut pandang yang sangat manusiawi – yang mengutamakan kemampuan berpikir secara logis dan ilmiah manusia, yang meskipun sepandai Koester namun tetap saja pikiran manusia tak akan mampu untuk meng-accommodate pengetahuan akan rencana besar Sang Penciptanya.

Sampai 15 menit menjelang akhir film, saya masih belum dapat menebak bagaimana film ini akan berakhir. And I have to say, mengakhiri film seperti ini memang tak mudah. It’s hard to grasp the concept of doomsday without pulling it back to the concept of God – which we might have read from the Bible, atau mungkin dari kitab suci lain agama lain (entahlah, saya belum pernah membaca kitab suci agama lain).

Meskipun secara garis besar ide ending film ini bisa dikatakan oke, namun ternyata eksekusinya tidak se-oke itu. Teman nonton saya kemarin terus protes mengenai keanehan adegan-adegan menjelang akhir (yang menurut dia terasa aneh, karena menurutnya tak sesuai dengan konsep kiamat yang digambarkan dalam Alkitab). It kinda feels like the movie is trying to get back to the Bible for the ending, but it failed in excecution.

Hasilnya?
Penggambaran endingnya jadi terasa aneh dan absurd.
This makes us have to see deeper in order to grasp the beautiful concept of the ending.

Overall, menurut saya film ini oke, worth to watch.
Special effectnya asik, permainan aktornya oke, dan ceritanya pun cukup ciamik.
But like I said earlier, SEE DEEPER. Jangan hanya lihat apa yang ada di permukaan, karena sesungguhnya keindahannya ada di konsep yang ada di baliknya.

So, are you ready to face the doomsday?
*wink*

– i personally give it 3.5 stars, tapi karena nggak ada, dibulatkan ke bawah aja deh hehehehehe –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s