Office Drama : The Candidate

Standard

nah!
ada cerita baru lagi dari kantor. sebenernya kejadiannya kemaren sih, tapi pantangan ah posting dua kali dalam sehari kalo ga perlu-perlu banget. hehehehe.

Today I am going to tell you about this another person.
The Legislative Candidate.
Yup. Ada caleg di kantor saya!

seperti caleg-caleg lainnya yang seringkali nggak ketahuan kualitasnya gimana, cuma bisa pasang muka dan berpose keren di poster kampanye (atau kemeja orang – seriusan, tempo hari saya ketemu seorang ibu-ibu naik motor dengan wajah seorang lelaki (caleg) terhampar di punggungnya! sampe nggak percaya gitu saya liatnya) – caleg di kantor saya ini pun tak sepenuhnya dianggap qualified oleh orang-orang sekantor.

Well kalau dianggap qualified, pastinya dia akan berhasil bikin kita percaya dan mau memilih dia atau partainya .. tapi ini nggak. Bisa jadi mereka menilai dari cara kerja si caleg ini di kantor. If she is not able to perform at the office, how can we be sure that she’s going to perform at the parliament? – mungkin begitu pemikiran orang kantor saya.

However, dia itu pantang menyerah berkampanye di kantor.

Dulu, saat saya masih di bulan pertama di kantor ini, dia pernah masuk ke ruangan saya (yang saya tempati bersama bos saya — dan dia kebetulan sering ngobrol sama bos saya) dan disitu saya baru tahu kalau dia caleg dari P** – salah satu partai yang juga baru muncul pada Pemilu 2009).
Kemudian dia nanya rumah saya masuk dapil mana. Saat dia tahu bahwa dapil saya Jakarta Timur (sedangkan dia calon Jakarta Pusat) dia langsung minta saya untuk membantu menyebarkan stiker, dan menghimbau orang-orang di sekitar untuk memilih caleg dari partainya. Oh well, it was months before the election, dan saya anak baru disitu .. jadi saya iya-iya aja (but I’ve never done any of those things she asked me, until this very second).

Kemudian .. selama beberapa bulan setelahnya, dia sering bolak-balik masuk ke ruangan saya untuk curhat sama bos saya. Seberapa dia baru menyadari bahwa biaya pribadi yang dikeluarkan untuk jadi caleg itu sangat tinggi (ya iyalah! helloooo?!). Sebelumnya dia sudah menempuh proses kaderisasi internal partai yang cukup lama, namun keterbatasan kapital membuat dia harus mengalah pada caleg-caleg yang punya dana lebih banyak. Selain itu dia pun harus ikut rapat partai sampai jam 2 pagi, sehingga dia pun mulai kelelahan saat bekerja di kantor pagi harinya.

Nah, sampai titik ini saya belum merasa terganggu, jadi saya santai-santai saja dengan dia menjadi caleg.
Tapi kemarin dia mencapai titik gangguan.

Setelah mendengar obrolan kurang asik di ruang makan (yup, sekarang kantor saya punya ruang makan yang mirip foodcourt bok. hahahaha) mendadak dia masuk ke ruangan saya. Kebetulan saya sendirian, karena bos saya meeting di luar kantor. Dan bisa ditebak, obrolannya nggak jauh-jauh dari soal pemilu.

have i mentioned that i hate office pep talk? yeah, i really do. saya bukan tipe karyawan yang seneng maen-maen ke ruangan orang buat ngajak ngobrol nggak penting. mendingan buzz saya aja di YM dan kita ngobrol via messenger, dengan begitu saya masih bisa nyambi mengerjakan pekerjaan saya yang lain (yaitu maen mp, maen geography challenge di fesbuk, dllst .. mwhahaha ngga beneran kerja jugaaa .. hihihi)
karena itu kemaren dia cukup mengganggu dengan pep-talk pemilu-nya.

“Ibu milih di daerah mana?”

(Hmmph. Saya tahu pasti dia mau suruh saya pilih partainya. I better lie.) “Belum tahu, bu. Mungkin di rumah sih, tapi belum tahu juga.”

“Lho, nama ibu belum masuk daftar pemilih?”

“Udah, di rumah, tapi nggak tahu, pengen milih di deket kost-an aja. Lagi diurus sih.” (I lied. Saya sudah masuk daftar pemilih di rumah saya, dan saya memang mau ikut pemilu di situ aja)

“Jadi Ibu udah masuk daftar pemilih daerah mana?”

“Jakarta Timur.”

“Berarti Ibu milih di situ .. Bu, tolong tuliskan buat saya, nomor hp bu ***** (bos saya) dan alamat rumah Ibu ya.”

(WHATTTT?! Ih. Saya mulai nggak suka nih) “Buat apa bu?”

“Biar nanti kawan-kawan dari partai daerah Jakarta Timur bisa bergerak biar dapet suara.”

(Mulai sebel, males jaga perasaan lagi) “Wah, nggak bisa gitu juga dong bu. Lagian kan sebenarnya himbauan disampaikan sih ga masalah, tapi pada akhirnya terserah kita dong bu, mau milih apa.”

“Memangnya Ibu sudah ada pilihan?”

Sudah.”

“Partai apa?”

“Ada lah bu, kan harusnya memang rahasia.”

(Dia mulai salah tingkah) “Ya .. nanti tolong disampaikan saja ya bu, supaya pilih ***. Bantu-bantu kita lah bu.”

“…. iya, iya,” (males-malesan)

Dia pun keluar dari ruangan saya.

Entah ya, menurut saya untuk masalah pemilu ini, masalah solider / setia kawan itu nggak berlaku lah. We might be friends, but if i think you (and your party) are not qualified enough to lead this country, I WON’T choose you.
Sebaliknya, kalau saya melihat caleg (dan partainya) qualified, tanpa harus diminta, tanpa harus diwanti-wanti pun saya akan memilih dia (atau partainya).

By using sampling principle, setiap caleg adalah perwakilan dari partainya. Semacam sampel, karena kita yang awam ini (setidaknya saya dan beberapa orang yang saya kenal), seringkali menilai kinerja sebuah partai dari kinerja caleg-calegnya

Mengenai si caleg kantor ini, mungkin kampanye dia akan lebih ‘bunyi’ kalau dia menunjukkan kinerja yang baik dan profesional di lingkungan kantor, menimbulkan respek dan kepercayaan teman-teman sekantor terhadap dia dan partai yang dia wakili sehingga kami semua tergerak memilih dia (dan partainya).

It’s all about performance.
It’s all about gaining people’s trust.
And begging around won’t do you any favor.

Speaking of which, semua bakal milih kan di Pemilu 9 April nanti?
FYI, kalau kita nggak tahu mau milih caleg yang mana, pilih partainya aja. It saves you from all the hassle. Tapi, kalau memang ada salah satu calon yang kita tahu persis bahwa dia capable, langsung pilih calon yang bersangkutan aja.

Yang pasti, JANGAN GOLPUT ya ..
karena suara-suara golput ini akan dianggap hilang, dan bisa jadi malah membuat partai / caleg yang nggak capable/trustworthy menang karena seluruh pendukungnya dengan setia menggunakan hak pilihnya dan memilih partai/caleg tersebut.
the least we can do is to prevent these kind of parties to win.

Selamat memilih!

*ditulis oleh seseorang yang pernah jadi sarjana ilmu politik, yang lagi sering-seringnya menyimak dialog politik di TV untuk beberapa partai yang kemungkinan besar akan dipilih tapi malah bolak-balik melihat wajah mantan dosen dan mantan senior kuliah jadi komentator*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s