Office Drama : The Drama Queen

Standard

jadi, ternyata kantor saya punya Ratu Drama-nya sendiri.
bukaaannnn .. orangnya bukan sayaaa .. i might be a drama queen in ordinary life, but never in the workplace😀

anyway, ratu drama kantor saya ini adalah seorang perempuan beranak satu, umur di atas tiga puluh (kira-kira dia 4-5 tahun lebih tua dari saya lah). dia sudah bekerja di kantor ini sejak lama, karena itu saya menganggap dia sebagai salah satu senior, meski mungkin secara struktur dia berada di bawah saya.

the thing is, she can’t handle work pressure.
what kind of pressure?
EVERYTHING!

entahlah, dia dramatis sekali.
setiap kali ada konflik sama staf dari divisi lain, dia selalu menghadapinya dengan emosional. dia mengambil hati semua ucapan yang keluar dari staf tersebut, dan kemudian menangis.
lalu, kalau sudah menangis, kerja pun jadi nggak konsen.
lalu minta izin pulang cepat.
dan besoknya kadang nggak masuk kerja.

dan ini sering lho, kejadiannya.

kenapa saya menulis soal ini?
karena sedikit banyak saya sudah merasa terganggu dengan kebiasaan dia itu.
divisi saya cuma berisi 6 orang, otomatis kalau salah satu anggotanya bermasalah, sedikit banyak akan mempengaruhi anggota yang lain.

jadi, setiap kali dia melakukan kebiasaannya, PASTI produktivitasnya berkurang. kerja nggak konsen dan jadi lambat. dan dengan dia pulang cepat / nggak masuk, otomatis pekerjaan tertunda. atau akhirnya dilimpahkan ke partnernya (yang untungnya bukan saya).
atau sering juga, pekerjaan yang berkonflik itu akhirnya dilimpahkan juga ke partnernya – karena dia tak bisa mengurusnya lagi.

dan mungkin karena menyadari kelemahan dia, ada beberapa pekerjaan dia yang mulai direalokasi (oleh para bos) ke partnernya, atau ke saya.
dengan demikian seharusnya pekerjaan dia sudah lebih sedikit sekarang dong ya. lalu apakah dia jadi bekerja lebih cepat?
nggak juga!
entah dia sibuk mengerjakan apa ..

sejak dua minggu lalu (sampai sekarang) kebetulan ada satu pekerjaan dimana pekerjaan itu terbagi atas dua proses. saya mengerjakan proses pertama, dan dia lah yang bertanggung jawab atas penyelesaian proses kedua.
dan akhirnya bisa ditebak. saat ini file-file yang harusnya dia proses (karena sudah selesai saya kerjakan) menumpuk di meja saya, karena dia butuh waktu lama sekali untuk mengerjakan pekerjaannya itu.
i know her part of the process is a lot of work, and kinda boring (percayalah, saya aja malas mengerjakan bagian saya. tapi kalau nggak dikerjakan kapan selesainya) tapi tetap saja harus dikerjakan. tapi tempo hari malah dengan cengar-cengir dia bilang supaya proses bagian itu tidak usah dikerjakan saja sekalian ..

kemarin ada konflik antara dia dan bagian keuangan di pabrik yang letaknya di timur Jakarta. dia menelepon orang tersebut di meja saya, dengan emosional. I could hear her voice quivering, she was nearly broke into tears.
dan bener aja, saat dia kembali ke mejanya, dia menangis.
lalu dia pulang cepat kemarin. dan hari ini nggak masuk.
(yup, runutannya biasanya begini – meskipun bagian pulang cepat dan nggak masuknya tentative, tapi biasanya kalau dia ada di kantor pun pasti kerjanya melambat karena dia nggak konsen dan jadi mellow nggak jelas gitu)

dan kebayang dong, kondisi dia waktu dia sedang ada masalah keluarga ..
hmmmph.

entah ya. i am not exactly a bitch at work – saya bukan tipe yang ambisius, keras dan judes kalau bekerja. saya termasuk santai dan nggak kaku-kaku banget, yang penting kerjaan selesai lah.
saya juga mengerti bahwa setiap orang punya kelemahan masing-masing, dan sebagai tim semua harus bisa menyeimbangkan semua itu sehingga performance tim tidak terpengaruh.

however, itu nggak berarti bisa terus-terusan memanjakan kelemahan yang ada kan?
dia sadar dia penakut, dia sadar kalau dia terlalu memasukkan apa-apa ke hati. saya dan partnernya juga sering menyarankan supaya dia berani, supaya nggak take everything personally. bahkan bos-bos pun ikut menyarankan hal yang sama.
tapi tetap aja dia begitu ..

saya percaya bahwa seseorang itu bisa berubah kalau memang ada keinginan dari dalam diri sendiri.
untuk dia, sepertinya dia masih ingin menjadi orang yang penakut begitu.
dia masih mau mengizinkan orang-orang mengintimidasi dia dan merasa menang – tak peduli bahwa dia sebenarnya berada di pihak yang benar.

she has a really good heart, i can tell, and i don’t want to hate her.
but i just don’t know what else that I should say to her, to put some sense into her head, sehingga dia bisa bangkit dari semua itu.
cuma dia yang bisa mengubah dirinya sendiri.

dan sebelum itu terjadi, sepertinya berkas-berkas pekerjaan ini akan tetap menumpuk di meja saya sampai dia dapat mengerjakannya ..
*menghela nafas*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s