The One(s) That Got Away?

Standard


WARNING :
tulisan ini panjang, deretan argumentasi mengenai sesuatu yang bisa disetujui bisa tidak.
read at your own risk. no personal offense intended.

Seorang teman baru saja cerita mengenai suatu acara cukup besar yang dia hadiri. Teman saya hadir di sana untuk memenuhi fungsi sebagai pendamping – mendampingi pacar tercintanya, yang juga mengajak kedua orang tuanya. The event is definitely something she won’t get to attend, kalau status dia bukanlah sang pacar. Maksud saya tentunya bukan pacar yang hura-hura saat ini saja, bukan, tentunya bukan pacar sembarang pacar.
Tapi dialah Sang Pacar – yaitu pacar yang akan diajak memasuki jenjang yang lebih serius, suatu hari di masa mendatang. Ya, teman saya dan pacarnya ini sepertinya memang menjalani hubungan mereka dengan serius.

Ah.
Saya masih ingat betul siapa pacarnya.
Lelaki yang sama sempat dengan sangat gigih mendekati saya, karena katanya, dia suka sama saya. He’s a really nice guy, dan dia seringkali membuat saya tertawa dengan obrolan dan candaannya yang menyenangkan. Dia pun pernah melakukan berbagai macam kebaikan demi saya.
Saya pun pernah berusaha membuka hati saya untuknya.
But unfortunately, I just can’t.
Saya harus mengecewakan dia saat akhirnya saya mengaku bahwa saya tak mampu mencintainya. Really, it’s not about he’s not good enough for me. I just can’t fall in love with him. Ditambah lagi dia memeluk agama yang berbeda, membuat saya semakin sulit untuk melakukannya.

I finally let him down.
And I felt really bad about it.

Ada masa dimana dia pun akhirnya lelah dan jenuh menghadapi saya, lalu mulai mencari kandidat yang lain. Dia pun bertemu seorang perempuan di suatu lingkungan pergaulan yang berbeda – yang ternyata salah satu teman saya, yang kemudian menjadi pacarnya.
Saat itu, dia berhenti menelepon maupun menegur saya di messenger, he instantly disappeared from my life.
Saya mencoba untuk tetap menjalin pertemanan dengan dia, namun beberapa percakapan yang sempat terjalin di masa itu selalu berujung di salah paham, sehingga akhirnya saya berhenti mencoba.
I also disappeared from his life.

Hanya sesekali saya dengar cerita mengenai dia dan pacarnya itu. They seemed to get along just fine. Lalu beberapa hari kemarin saya dengar cerita itu, dan saya berkesimpulan bahwa hubungan mereka memang serius.
They may get married someday later, entah kapan.
They may be settling down, together.

Get married. Settling down.
Well, meskipun saya bukanlah seorang romantis idealis, tetap saya ide untuk menikah dan settling down terasa begitu menggoda.

Siapa sih yang nggak mau?
The idea of finding your other half, get married with him and grow old together .. it’s just too irresistible.
Bahkan saya, yang sudah terekspos terhadap kenyataan dimana marriage seringkali corrupted dan banyak orang yang mengingkari janji setianya saat menikah, tetap saja tergoda dengan ide ini.
Mungkin terkesan terlalu idealis, terlalu bermimpi .. but if this is a dream, there are a lot of people who have had their dreams coming true. Terlepas apapun motivasi mereka saat menikah. They find each other, get married, and they grow old together.
Aral dan cobaan pasti menghadang, karena pastinya pernikahan bukanlah gelembung sabun yang melindungi individu di dalamnya dari lingkungan luar. Tapi cobaan apapun, (katanya) pasti bisa dihadapi bila keduanya menghadapi cobaan itu bersama-sama.
It’s like teaming up against life.
And teaming up sounds like fun! I mean, life’s too hard to be faced alone, it will be nice to have a team mate, to face it together.

Lalu saya pun terpikir sesuatu.

Kalau saja waktu itu saya dapat menerima cinta lelaki ini,
apakah sekarang saya yang ada di posisi teman saya?
apakah saya yang akan datang ke acara itu, mendampingi si lelaki bersama-sama dengan kedua orang tuanya?
apakah saya yang akan memiliki semua itu – hubungan pacaran yang serius, dengan kemungkinan adanya pernikahan dan kehidupan yang mapan?

Tapi kenyataannya, waktu itu saya tak bisa,
sehingga di sinilah saya,
still single and still far from serious relationship, let alone marriages.

So,
is he one of those,
the ones that got away?

Ya, saya bukannya baru sekali menghadapi situasi semacam ini.
Bila saya selalu mengaku bahwa saya mencari lelaki yang mapan supaya bisa nikah dan hidup mapan, sebenarnya baru beberapa bulan terakhir saya benar-benar menepati kata-kata saya. Dan sebelum itu, entah sudah beberapa “lelaki tipe jangka panjang” yang saya lewati.

Semua orang pasti tahu apa yang saya maksud dengan “lelaki tipe jangka panjang” – yaitu tipe lelaki yang biasa dipilih kalau memang pengen nikah dan hidup mapan. Lelaki tipe jangka panjang biasanya lajang (ini syarat nomor satu!), punya pekerjaan yang baik, menyenangkan dan perhatian, sayang keluarga dan nggak neko-neko.
Tipe yang biasanya tepat untuk diajak pacaran serius, untuk menikah suatu hari nanti.
Tipe-tipe yang dipilih perempuan kalau memang dia mendambakan pernikahan dan hidup mapan.

Tapi berbagai situasi dan kondisi saya sampai beberapa bulan yang lalu, membuat saya malah “mengusir” tipe-tipe lelaki jenis ini dari hidup saya.
Seringkali saya menjauh, karena berpikir bahwa mereka terlalu baik, pasti saya hanya akan menyakiti dia saja nanti. Saya merasa rikuh melihat pandangan mereka terhadap saya yang penuh dengan rasa sayang, sehingga saya pun melarikan diri.

Bodoh?
Ya, bisa jadi.
Sekarang setelah saya ‘sober’ barulah semua itu terasa bodoh.
Tapi dulu? Tidak.
It felt so natural, meskipun tentunya ada saat dimana saya menyesali keputusan saya. Tapi biasanya tak lama. Seperti pegas, saya balik lagi menjadi diri saya yang dulu, dan merasa bahwa saya telah mengambil keputusan yang tepat.

Dalam satu kunjungan liburan ke Bandung, saya pernah makan malam bareng seorang lelaki yang pernah mendekati saya. Waktu itu dia sudah bersama pacarnya yang sekarang, dan dari yang saya lihat, hubungan mereka cukup stabil.
Tidak, saya tak berbuat macam-macam malam itu. Kami hanya mengobrol seperti biasa, catching up, sebelum kemudian pacarnya menelepon karena kepanikannya dalam persiapan sidang skripsi (waktu itu pacarnya baru mau lulus kuliah) dan memonopoli lelaki itu selama sisa waktu makan malam.

Saya sempat sebal karena akhirnya tak bisa mengobrol, however I couldn’t help but noticing this one thing.
He looked happy. Dia menanggapi kepanikan pacarnya dengan sabar, berusaha menenangkan, berusaha ada untuk pacarnya meskipun hanya melalui telepon genggam.

Dan saya?
Saya waktu itu sedang menjalani sebuah hubungan yang awalnya terasa seperti mimpi menjadi nyata, tapi setelah beberapa bulan saya tak dapat menyangkal bahwa saya tak bahagia. Pacar saya waktu itu adalah lelaki egois yang juga baru memperoleh pekerjaan impiannya, sehingga hubungan kami terasa menjadi penghalang dia mencurahkan segenap perhatian kepada pekerjaan impiannya itu.
Pacar saya tak pernah sesabar lelaki yang sedang makan malam bersama saya malam itu.
Pacar saya bahkan tak pernah punya cukup waktu untuk meladeni saya seperti itu!

Diam-diam saya marah karena saya tak bisa memiliki hubungan penuh cinta seperti apa yang lelaki ini miliki. Lalu kembali muncul lah pemikiran klasik yang selalu muncul dalam situasi semacam ini.

Kalau waktu itu saya bisa menerima dia, apakah sekarang saya yang memiliki hubungan penuh cinta bersama dia?

Sebuah percakapan panjang dari Bandung ke Jakarta malam itu, menjawab pertanyaan saya.

TIDAK.
Belum tentu! Bila saya yang bersama lelaki itu sekarang, belum tentu saya akan memiliki hubungan penuh cinta yang sama.

Kenapa?
Karena hubungan melibatkan dua individu dengan karakter yang berbeda, yang menentukan interaksi seperti apa yang terbentuk.

Jadi, begini rumusnya :
A + B = hubungan penuh cinta
A + C = BELUM TENTU hubungan penuh cinta juga

Jadi, rumus ini mematahkan teori kesirikan manusia-manusia lajang macam saya, terhadap hubungan penuh cinta yang saat ini dimiliki oleh mantan penggemar (bah. bahasa apa ini? abis bingung nyebutnya hehehehe) dengan kekasih mereka masing-masing.

Belum tentu kalau SAYA yang berada bersama lelaki itu, yang saat itu menghabiskan waktu 30 menit selama makan malam dengan saya untuk teteleponan sama pacarnya, akan sama bahagianya, dibandingkan dia dan pacarnya!

Bisa jadi malah sama buruknya dengan hubungan saya waktu itu, atau malah lebih buruk karena saya selalu tidak puas dengan karakter dia yang low-achiever (yup, ini salah satu alasan kenapa saya sulit sekali jatuh cinta padanya waktu itu).

Begitu juga lelaki yang kini menjadi pacar teman saya itu.
Belum tentu juga saya dan dia akan sama bahagianya, seperti dia dan teman saya saat ini.

Menurut saya,
saat ketemu jodoh adalah :
saat dimana kita ketemu orang yang tepat, di saat yang tepat.


Bisa jadi,
Kita udah kenalan sama jodoh kita sejak SMA, namun baru terasa bahwa “dialah jodohnya” saat akhirnya bertemu lagi dan menghabiskan waktu bersama-sama, beberapa tahun setelah lulus kuliah.
Kalau seperti ini kasusnya, pertemuan semasa SMA disebut bertemu orang yang tepat di saat yang salah. Dipaksakan pun percuma karena pasti gagal juga – karena itu saat itu pun jalannya masih tertutup, karena memang belum saatnya.

Atau bisa juga,
Kita dekat dengan lelaki tipe jangka panjang (seperti contoh-contoh saya di atas) namun semuanya tak juga berjalan dengan lancar. Entah kita-nya yang masih takut berkomitmen, sementara dia-nya sudah sibuk mesen gedung, memilih desain undangan yang mau dipakai, dan nyobain kue pengantin – saking siapnya menikah.
Kalau ini kasusnya, bisa jadi :
a.    kita ketemu orang yang tepat, namun di saat yang salah (karena saat ketemu dia, kita masih takut berkomitmen)
b.    kita ketemu orang yang salah (karena dia tak memiliki aspirasi yang cocok dengan kita)

Kesimpulannya,
if it’s too hard – bisa jadi memang bukan dia orangnya, ATAU  memang belum saatnya.
Jadi tak ada gunanya juga memaksa.

Seorang sahabat (perempuan) lain bertemu lelaki ini, for several times in her life. Berkali-kali mereka pacaran, lalu putus lagi – selalu seperti itu, sementara waktu terus berjalan.
It felt like she has met the right person, but ALWAYS at the wrong time.

Dan beberapa saat yang lalu dia akhirnya bertemu untuk kesekian kalinya dengan lelaki ini, dan sepertinya saat itu Tuhan sudah menentukan bahwa inilah memang waktu yang tepat – karena akhirnya mereka pacaran, dan akan menikah tahun ini.

Semua sahabat-sahabat saya yang menikah selalu bilang satu hal :
“Kalau memang udah ketemu orangnya, kerasanya beda kok, Cit.”

Saya tak tahu bagaimana rasanya, dan mereka juga kalau ditanya tak pernah bisa menggambarkan seperti apa rasanya.

But perhaps they’re talking about something that just tells you that he/she is the one.
Kalau itu terjadi, selamat.

You’ve found the right person,
at the right time.

images taken from here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s