A Solution Called Marriage?

Standard


WARNING :
tulisan ini panjang, deretan argumentasi mengenai sesuatu yang bisa disetujui bisa tidak.
read at your own risk. no personal offense intended.

Jadi, kemarin akhirnya saya nonton film sensasional yang cukup menghebohkan dunia perfilman Indonesia tahun 2008.
Yes, I finally watched Ayat-Ayat Cinta.

No, I won’t talk about the religious aspect of this movie, ataupun memberikan penilaian terhadap film ini. However, there’s something in this movie that I can’t just let go.

Yaitu seberapa besar film ini menganggap bahwa pernikahan adalah solusi.
Solusi untuk berbagai macam masalah.

Solusi untuk Nurul yang “kehilangan cahaya hidupnya” saat Fahri menikah – dimana akhirnya kerabat Nurul meminta Fahri menikahi Nurul.
Solusi untuk Maria yang koma karena kecelakaan dan stress berat yang dia derita saat ditinggal Fahri menikah, sementara Fahri membutuhkan kesaksian Maria untuk membebaskannya dari segala macam tuduhan – sehingga Fahri menikahi Maria (yang masih dalam keadaan koma) dan (entah bagaimana) Maria pun bangun setelah dinikahi (dan dicium keningnya) lalu bisa memberikan kesaksian yang dibutuhkan Fahri.

Well, saya nggak akan mengkritik jalan cerita film ini, karena namanya juga cerita. Penulisnya bebas menentukan jalan hidup masing-masing karakter yang ada di sana, dan itu hak sang penulis sepenuhnya.

But I cannot agree with the assumption that marriage IS a solution.

For me, marriage is like an institution that entitles you to have a NEW set of life problems, yang nggak dimiliki oleh para lajang.

Yeah, a new set of problem.

Like ordinary life problems are not hard enough.

Call me apathist, but for the last few years, setelah saya memasuki dunia kerja dan usia boleh-nikah dimana sepertinya pernikahan telah menjadi sesuatu yang ‘wajar untuk dilakukan’ – I’ve seen a lot of problems caused by this so called happily ever after.

Who said that marriage is a happy ending?
Belum tentu.
Para putri di cerita dongeng selalu mengakhiri cerita dengan pernikahan bersama pangeran ganteng pujaannya, saying that they’ll live happily ever after.
Kata siapa?
Dongeng mana yang pernah memperlihatkan kehidupan sang putri setelah menikah?
Apakah pernah ada dongeng yang menggambarkan sang putri nelangsa karena suaminya tak pernah peduli pada keluarga sang putri yang terlilit hutang dan butuh bantuan?
Apakah pernah ada dongeng yang menceritakan sang putri yang kesepian karena suaminya sibuk berkeliling negeri memerintah kerajaan, sehingga tak sempat memberikan perhatian yang dibutuhkannya?

Jadi kata siapa kisah mereka berakhir dengan sebuah “live happily ever after”?
They MAY NOT live happily ever after, tapi sayangnya dongeng telah berhenti bercerita saat itu terjadi.

I have a good friend whose marriage is in trouble, lebih karena suaminya yang egois, tak mau berkompromi dan tak mau menjalin hubungan baik dengan keluarga teman saya. Belakangan diketahui bahwa si suami ada kemungkinan selingkuh.
Secara fisik teman saya ini memang tidak bisa dibilang cantik untuk ukuran kebanyakan, dia juga sedikit penakut dan kurang percaya diri. But she’s married with one very adorable daughter age of 3.
Jadi, dia jugalah yang pernah membuat saya percaya bahwa “there’s indeed someone for everyone.”
Tapi ternyata pernikahan dia juga yang selalu membebani dia. She’s not a tough kind of person – so she’s barely able to cope with her marriage problems. Dia juga termasuk tipe perempuan yang “apa-apa dimasukkin ke hati”. Jadi, setiap kali dia berantem sama suaminya, dia pasti jadi stress, lalu jadi sakit dan nggak bisa bekerja.

Kenapa masalah dalam pernikahan selalu terasa lebih berat dari masalah lainnya?
Maybe because marriage forces you to trust your happiness to other people.

Sebagai lajang, saya tahu persis hal ini selalu mengundang masalah. Kalo lagi deket sama seseorang dalam periode waktu yang cukup lama, pasti lama-lama si dia menjadi bagian / pengaruh besar dalam hidup saya.
Sebagian besar elemen kebahagiaan saya pun berasal dari dia – sehingga setiap kali saya ada masalah dengan dia, pasti saya jadi nggak bahagia.
Dan biasanya ini berentet kemana-mana.

Tapi, sebagai lajang,
I have this privilege to pull myself back, to get myself together and move on.

Kalau memang dia seringnya bikin saya nggak bahagia, why should i spend another minute with him?  
Atau, kalau saya tak dapat meninggalkannya semudah itu, saya masih bisa beralih mencari “sumber kebahagiaan” lain untuk sementara, sehingga saya dapat kekuatan baru untuk menyelesaikan masalah saya dengan si dia.

And we don’t get that if we’re married.

We (obviously) can’t leave him/her.
We (obviously) can’t go look for some “temporary source of happiness” karena pasti hal ini menimbulkan terlalu banyak tuduhan dan tudingan yang harus dihadapi.

We. Have. To. Face. It.
Tidak bisa tidak.

Jadi, biar bagaimanapun, we have to cope with the problem.
Tak peduli bagaimana caranya.
Because obviously, leaving is (almost) NOT an option here, for the sake of something we called COMMITMENT.

And people do a lot of things in coping with their problems.
Seseorang pernah berkata bahwa suatu hari saat saya menikah nanti, saya tak akan se-idealis sekarang (dulu, saat saya masih idealis sama pernikahan), berpikir bahwa pasangan yang saya nikahi nanti, akan tetap menjadi satu-satunya orang yang dicintai.
Sometimes you have to do certain things to save your marriage.
To hold on your commitment.

Including seeing other people.
(I know you’re going to say “WHAT?!”. Percayalah, reaksi saya juga sama kok waktu itu)

Saya kenal lelaki yang memiliki banyak simpanan muda yang berganti-ganti, selama bertahun-tahun pernikahannya. Simpanan mudanya yang terakhir bahkan hanya beda tiga tahun dengan anak tertuanya.
Saya yakin istrinya tahu sepak terjang suaminya. But she decides to turn a blind eye, karena yang penting sang suami memenuhi kewajiban menafkahi keluarga dengan lebih dari cukup dan tidak merusak kehormatan keluarga, dengan tetap menjaga agar “permainannya” dilakukan di bawah radar, alias tidak terang-terangan.

Saya kenal lelaki yang memiliki istri kedua yang dinikahinya secara siri, sementara dia pun masih “dekat” dengan perempuan-perempuan lainnya. Dan dialah yang pernah membuat saya terharu berat saat mendengar kesungguhan dan ketulusannya saat berbicara tentang cinta dan komitmen, terhadap seseorang yang memang dia cintai (dan tidak, saya tak tahu perempuan yang mana yang dia maksud).

Saya tak tahu apakah kedua lelaki ini melakukannya demi menyelamatkan pernikahan mereka.
One thing for sure, they stay married to their (first) wives until this day.


It’s amazing how much we (will) have to hold on to a line we once said, maybe ages ago, for the rest of our life.
While people are constantly changing, with an unstoppable change.

Saya kenal lelaki yang mencintai seorang perempuan lain setelah belasan tahun menikah, dan tersiksa dalam rasa bersalah karena merasa mengkhianati istrinya, dan rasa sesal karena tak mampu memberikan apa-apa untuk si perempuan sehingga tak mampu berucap “I love you” terhadap si perempuan, no matter how much he’s dying to do so.
Dan saya tahu seberapa si perempuan pun merasa dirinya begitu tak berarti karena menganggap dia tak pernah dicintai oleh lelaki yang sangat ia cintai.
(dan dia pun baru tahu faktanya kira-kira setahun setelah mereka mulai menjauh, melalui seseorang asing yang “mampir” selama dua hari dalam hidupnya).

Saya yakin, hal seperti ini nggak cuma terjadi pada satu orang.
There are a lot of men and women who may experience the same thing, namun terpaksa mereka sembunyikan rapat-rapat demi menghindari tudingan manusia lain yang terasa lebih tajam dari belati.

Saya memang baru hidup di dunia ini selama 26 tahun, tapi saya telah menjadi saksi begitu banyak pernikahan yang tak lagi ideal.
Yang tak lagi memberikan bahagia.
Yang malah mungkin menjadi penghambat kebahagiaan orang-orang yang terlibat di dalamnya.


So who said marriage is a happy ending, a solution?

For me, it’s not.

images taken from here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s