2

Standard

I guess when you’re young, you just believe there’ll be many people with whom you’ll connect with..
Later in life, you realize it only happens a few times.

 (Before Sunset – 2004)

Cerita mereka memang seperti kisah romantis di novel-novel maupun film drama yang berpotensi mengundang empati dan air mata.
Tema tipikal – kasih tak sampai, cinta yang (selalu) datang terlambat.
Lalu dibumbui tema perselingkuhan, dimana empati dan air mata itu kemudian berubah menjadi cibiran.

Bah.
Dia tak peduli seribu bibir mencibir ke arahnya karena mencintai Si dia.
Apa yang dia rasakan bukan urusan mereka!

Kisahnya memang berjalan lambat laksana drama sabun murahan. Lima tahun barulah mencapai akhir. Barulah ada ending.

Tapi benarkah kemarin itu adalah suatu akhir?
……..
…………..
…………………..
…………………………………………

Hentikan, Raya!
Berhentilah mencoba memulai kembali sesuatu yang telah diakhiri!

Entahlah.
Saying goodbye has never been easy for her.
Apalagi di saat dia harus mengucapkannya kepada Si dia.
Setelah tahun-tahun penuh penantian itu …

Raya telah menunggu satu tahun lebih sebelum akhirnya berhasil mengenal Si dia, lelaki yang dikaguminya diam-diam sejak pertama kali melihatnya.
 
Setahun lamanya dia merutuki dirinya yang tak punya kepercayaan diri yang cukup untuk meminta nomor ponsel lelaki itu, yang membuatnya kehilangan kesempatan untuk mengenalnya.

Setahun lamanya dia menyesali ketakutannya waktu itu, karena ternyata di era serba digital seperti sekarang ini, alamat email masih saja tak cukup. Dia tak berhasil melancarkan pesona memikat Si dia lewat email berbau pekerjaan yang dia kirimkan teriring doa. Komunikasi mereka mati setelah satu kali berbalas email, dan Raya terlalu gengsi untuk mengirimkan email lagi saat Si dia tak lagi membalas.

Well, what do you expect?

Perempuan macam Raya pastilah invinsible untuk seseorang yang hebat seperti Si dia. Obsesi dan kekagumannya pada Si dia laksana pungguk merindukan bulan, meski pastinya Raya masih lebih sedap dipandang daripada si pungguk …

Namun ternyata hidup memberinya kesempatan kedua. Dia bertemu lagi dengan Si dia, hampir satu tahun kemudian.

Dan Si dia masih ingat Raya.
Sementara Raya (berlagak) tak mengingatnya.
Ya, sekali lagi karena gengsi.

Tapi Raya masih sama pandainya dengan keledai, yang tak pernah jatuh ke lubang yang sama. Kesempatan kedua itu pun tak dia sia-siakan.
Malam itu mereka bertukar nomor ponsel, dan malam berikutnya mereka makan malam bersama di salah satu poolside resto di wilayah pusat kota.

Malam itu pun, Raya kembali terpesona.
He’s smart, charming and so friggin’ handsome … ah, sepertinya suster yang telah bersumpah hidup selibat pun akan mengakui hal itu, apalagi Raya!

Makan malam pertama dilanjutkan dengan makan malam kedua. Dilanjutkan dengan sesi berlatih golf bersama di driving range. Lalu mereka makan malam bersama lagi.

Ah. Semuanya terasa begitu menyenangkan!

Si dia yang dulu begitu tak terjangkau, sekarang hanya one phone call away. Dia bisa meneleponnya kapan saja, untuk membicarakan apa saja. Si dia tak akan berkeberatan.

Si dia yang dulu dianggapnya mustahil untuk diajak makan malam bersama, sekarang hanya one SMS away. Satu SMS ajakan dikirimkan, mereka akan malam bersama malam itu juga – atau malam lain di minggu yang sama bila kebetulan Si dia sedang berhalangan.

Hebat.  Si pungguk telah berhasil menguasai Sang Bulan!

Raya tersenyum puas.
Obsesinya mulai menjadi kenyataan,
tinggal sekarang dia memutuskan mau diapakan obsesinya itu.

Sampai satu hari.

Telepon diangkat pada deringan kelima.
“Halo?”
”Hey, where are you?”
“Hm, di Rumah Sakit.”
“Oh ya? Siapa yang sakit?”
“My first son has just been born this morning.”
Raya tertegun.

Diam.
Lama.

“Congratulations.”

***
 

see the 1
images taken from here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s