1

Standard

two-minute hailstorm then melts into rain
 sing me a rainbow it’s sunny again
swallows overhead while the traffic snarls below
could I keep dreaming for a little while longer
hope I’ll never wake
when I’m thinking about you ..

(The Sundays – When I am Thinking About You)

Ah.
Hujan turun lagi hari ini.

Raya berdiri diam, tercenung memandang keluar melalui ratusan titik cembung air yang membasahi kaca jendela apartemennya. Memandangi titik-titik kecil di bawah, yang seketika terburai menyebar lalu hilang di balik bayangan menara, saat hujan membasahi pelataran yang menghubungkan setiap menara yang ada di kompleks apartemen ini.

Hening.
Hanya ada suara titik hujan yang menghantam jendelanya sesekali.
Dia terduduk di lantai berkarpet, merapatkan kedua lutut ke dalam pelukan seraya menatap lekat memandang titik-titik hujan di luar jendelanya.
Membiarkan pikirannya kembali berkelana.

Kepada dia,
Dia yang ada namun tiada
Dia yang tak pernah dapat dijangkaunya.
Dia yang tak akan pernah dapat disentuhnya lagi.

Rasanya dia ingin menjerit kuat-kuat. Namun bibirnya terkatup rapat, membungkam dirinya dengan paksa tanpa dapat dia kalahkan.

Brengsek.
Bahkan bibirnya telah mengkhianatinya.

Bibir ini yang berkata bahwa dia akan baik-baik saja,
meskipun hatinya menjerit terluka karena rasa kehilangan.

Bibir ini juga yang berkata bahwa semuanya sudah berakhir,
meskipun kedua tangannya terkepal berusaha keras menahan hasrat memeluk tubuhnya dan tak membiarkannya pergi.

Bibir ini juga yang mengucap selamat tinggal,
meskipun seluruh jiwa dan raganya ingin memintanya tinggal dan tak akan pernah meninggalkannya.

Sebuah dunia yang sempurna mungkin akan membuatnya tetap tinggal bersamanya. Mengucap cinta. Memeluk dan tak pernah melangkah pergi.
Mungkin akan begitu selamanya, hingga kakek-nenek.

Mungkin.
Entahlah.
Raya tak pernah punya dunia yang sempurna.
Dia tak mengenal seperti apakah dunia yang sempurna sehingga sel-sel otaknya pun tak sanggup memberikan bayangan seperti apa dunia yang sempurna itu.

Tapi tidak, Raya tak perlu dunia yang sempurna.
Dunianya yang carut marut mungkin akan terasa sempurna bila ada Si dia di sisinya.
Seperti rasa lapar yang akan menyulap seluruh masakan menjadi nikmat,
kehadiran dia mungkin akan dapat menyulap dunianya menjadi gugusan pelangi yang begitu indah, dan memukau seperti mimpi.
Mungkin.
Entahlah.
Memiliki dia hanyalah suatu bayangan yang utopis.
Romantis, tapi tak nyata.
Jadi mana Raya tahu apakah dia akan dapat membawa gugusan pelangi itu ke dalam hidupnya?
Tidak, jelas dia tak tahu.

Dalam suatu percakapan penuh khayal, Si dia pernah bilang bahwa Raya tak akan bahagia bila menjadi isterinya.
Pekerjaannya saat ini menuntut pengorbanan besar darinya, maupun dari orang-orang yang berada di sekitarnya, membuatnya tak mungkin membahagiakan Raya.

Biarlah orang lain yang harus melakukan pengorbanan itu, jangan Raya.
Biarlah isterinya saat ini saja yang harus membayar semua itu, jangan Raya.

Biarlah dia tetap menjadi proyeksi romantis seorang Raya.
Itu saja.

***

images taken from here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s