Si Pandai

Standard

Ibu saya pintar sekali memasak.
karena beliau juga, lidah saya jadi agak belagu. suka sensitif kalau makan makanan yang nggak enak atau hambar. suka ngerasa juga kurang bumbu apa.
belagu memang, mengingat saya nggak bisa masak.
hehehehe.

anyway, hobi dan kelebihan Ibu saya itu akhir-akhir ini mulai dimanfaatkan untuk bisnis katering kecil-kecilan. awalnya cuma buat lingkungan gereja saya aja, tapi lama-lama mulai merambah ke lingkungan gereja lain, dan ke kegiatan-kegiatan training / seminar gereja yang diselenggarakan sama training centre kekristenan.

nah, bisnis katering ini ada macem-macem modelnya, dari segi penyajian. ada yang prasmanan (paling nggak repot, secara cuma tinggal bawa pinggan-pinggan berkompor itu dan masakan bisa langsung ditaruh di atasnya) tapi sering juga yang kotakan.

menyiapkan makanan kotak agak repot, beberapa hari sebelum hari H pasti Ibu saya sudah membajak anak-anaknya yang nggak bisa masak ini untuk membantu menstapler kardus-kardus itu ataupun untuk memasukkan kerupuk ke dalam plastik dan disegel pake lilin.
agak ngerepotin memang, apalagi kalo pesenannya sekitar 200-300 kotak – halah, bisa beberapa hari ngelembur pulang kantor baru selesai.

belum lagi ada hari-hari dimana kita harus bangun subuh untuk masuk-masukin makanan ke dalam kotak yang akan dikirim pagi itu juga. kalo ini khusus weekend, sih, karena biasanya orderan Ibu saya juga untuk acara yang diselenggarakan pas weekend.

tapi yaaa .. namanya juga Ibu sendiri.
jadi kita sebagai anak-anaknya juga nggak boleh mengeluh ya bokk ..

nah gotong royong ini juga berlaku kalau Ibu saya lagi masak. kita sebagai anak-anaknya membantu melakukan hal-hal yang NGGAK berkaitan dengan racik meracik, seperti mengupas telur rebus, dan hal-hal semacam itulah.

anyway,
dari tiga anaknya Ibu saya (termasuk saya), saya itu termasuk anak yang namanya paling jarang diteriakin minta tolong sama Ibu saya.

contohnya kemarin, saat kedua kakak saya udah dikerahkan untuk membantu mengupas telur, saya malah online di kamar tanpa tahu bahwa mereka sedang bekerja bersama-sama di lantai bawah. pas saya tahu, dan saya ikutan turun ke lantai bawah, pekerjaan sudah nyaris selesai.

katanya ya, ini karena faktor (konon) saya adalah anak yang paling pinter di keluarga.

teori ini didukung oleh fakta bahwa ada relasi Ibu saya yang Ibunya juga pengusaha katering, tapi dia jarang bantuin karena dibandingkan anak-anak lainnya, dia termasuk yang paling pinter sekolah / kerjanya.

begitulah.
sepertinya pengecualian ini memang salah satu priviledge yang diberikan orang tua kepada anak mereka yang dianggap paling pinter itu ya.

kalau saya dibilang paling pinter sekolah / kerjanya, ya nggak jugalah. itu kan relatif.
tapi menurut saya, itu nggak bisa jadi alasan juga lah. anak ya anak. harus bantuin orang tua juga, terlepas dia pinter apa nggak. jadi kalau memang saya lagi bisa (dan lagi pengen) bantu, pasti saya ikutan mengerahkan tenaga.

tapi memang sih, kadang saya abuse juga priviledge itu.
kalo lagi capek atau lagi males, saya suka diem-diem aja selama nama saya belum dipanggil secara langsung sama Ibu saya. agak berlagak nggak tahu dikit lah biar nggak disuruh bantuin dulu untuk sementara.
hehehehe. saya bandel ya ..🙂

anyway, kalau di keluarga kamu gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s