Nyonya Perca

Standard


Rating: ★★★★
Category: Books
Genre: Literature & Fiction
Author: Jia Effendie

V A R I E T Y.
that’s definitely the benefit i got by reading this book🙂

berisi delapan belas cerpen dengan ambience yang berbeda-beda, dari chicklit ala remaja yang begitu ringan, cerita cinta surealis sampai ke drama pesakitan dengan twist yang begitu berani di akhirnya.
sepertinya agak sulit membayangkan bahwa semua cerita ini ditulis oleh satu orang, lebih karena perbedaan ambience yang cukup ekstrim dari beberapa cerpen yang ada di dalamnya.

Perkara Mengirim Senja – saya langsung bisa mengerti arti cerpen satu ini, sebelum membaca cerpen berikutnya yang merupakan gambaran nyata metafora yang tergambar pada cerpen Perkara Mengirim Senja ini. a bit abstract, but in the same way, quite subtle.

Kupu-Kupu – saya sukses berkelana ke alam surealis dalam perjalanan saya di atas bis kota menuju kantor, ada sesuatu yang menyihir saya di dalam cerpen ini. meski cerpen ini tidak memiliki aliran alur cerita yang wajar, tapi saya menikmati kesempatan yang diberikan untuk imajinasi berkelana liar kesana- kemari

Dapur Waktu dan Menikah – Jia bermain-main dengan alur yang maju-mundur, serta adegan-adegan yang melompat-lompat, memberikan tantangan tambahan bagi pembacanya untuk lebih menyimak untuk dapat mengerti keindahan ceritanya. But I really love reading Menikah🙂

Souvenir, Bulan Madu, Nyonya Perca, Rumah – Jia bermain-main dengan keliaran manusia yang diam-diam akan selalu tertarik dengan drama pesakitan – yang diwarnai naluri terjahat manusia dan hal mistis dan tak dapat dijelaskan oleh rasio.
Bisa jadi saya diam-diam termasuk pesakitan, secara saya (diam-diam) menikmati sekali membaca cerpen-cerpen yang termasuk kategori ini .. hehehehe.

Dongeng Petani dan Bidadari – fairy tale, with a twist. menjual mimpi seperti dongeng pada umumnya, namun juga sekaligus menghantamkan benak kepada realita.

Kalau ada yang kurang dari buku kumpulan cerpen ini, adalah penggunaan beberapa istilah yang terasa begitu modern, atau mungkin terlalu teknis, sehingga terasa kurang menyatu dengan ambience yang sedang dibina.

Selain itu penggunaan variasi dalam font penulisan yang terlalu seragam juga sedikit mengurangi aksen setiap cerpen, yang bisa jadi akan terasa lebih dramatis dengan permainan jenis huruf.

Feeling like giving a treat for your minds?
Then you should read Nyonya Perca. Hehehehehhee.
ditunggu second edition dengan layout dan tampilan huruf yang lebih keren ya, Jia,😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s