Irasional

Standard

ada beberapa hal irasional yang dilakukan orang-orang di sekitar saya akhir-akhir ini :

1. semalam saya naik omprengan cikarang – UKI yang selalu terasa seperti manuver eksploitasi mobil ELF dimana satu mobil bisa berisi lebih dari 20 orang yang membayar Rp. 5.500,- (atau Rp. 6,000,- kalo ber-AC) untuk space berukuran 3/4 pantat dan 3/4 panjang paha manusia normal. saya selalu turun di jatibening, dan kemarin pun begitu.
beberapa saat sebelum masuk di jalur khusus pemberhentian kendaraan umum di pintu tol Pondok Gede Timur, orang-orang udah ribut nanya-nanya ada yang turun apa nggak. saya diam saja, secara saya ingin turun di ujung jalur khusus itu, agar mempersingkat jarak jalan kaki saya.
saat sudah hampir tiba di ujung, saya baru buka suara, “Kiri kiri ya Pak ..”
terus mendadak saya diomelin seisi omprengan.
“Jawab kek dari tadi,”
“Ditanyain tadi diem aja.”
Lah. it’s not like i was asking them to turn around or to stop suddenly or anything kan?
masih bisa berhenti juga kok saat saya buka suara. secara logis, saya tidak merepotkan siapa-siapa kok.
tapi ada komentar irasional yang dilontarkan :
“Mentang-mentang cakep.”

terus apa hubungannya muka saya sama keterlambatan (menurut pendapat mereka) saya meminta omprengan berhenti?!

2. Ada jadwal wisuda awal November nanti. Saya diinformasikan untuk transfer pembayaran acara seremonial sehari yang menurut saya overrated itu, sebelum hari Kamis besok.
Entah ya, untuk saya saat ini, dengan situasi perekonomian lagi susah, rasanya nggak rasional aja mengeluarkan dana sebesar itu untuk acara yang nggak memberikan fungsi apa-apa selain fungsi seremonial semata.
Apalagi pembayaran dilakukan kepada pihak universitas swasta terborju se-Jakarta, yang saya yakin pendapatannya juga sudah banyak,  dan acara dilangsungkan di hall milik universitas, jadi sebenarnya dana sejumlah itu nggak masuk akal juga kalau dikeluarkan.
Jadi, saya sudah bilang sama keluarga saya, nggak akan ikut. Better use the money for something else. Tapi mendadak kemarin Ibu saya memberikan saya uang sejumlah tersebut. Untuk pembayaran wisuda katanya.
Oh well. I don’t want to sound judgmental towards my own mother, as I fully understand why she did that. Dia ingin menghadiri wisuda anaknya, yang kebetulan adalah anaknya satu-satunya yang lulus pascasarjana. For once in her life.

Jadi untuk satu ini, saya tahu tindakan ini irasional, tapi akan saya lakukan juga sepertinya. like i said earlier, this will only happen once in her lifetime.
and i love her too much to ruin that experience.

Jadi, itulah yang terjadi di sekitar saya akhir-akhir ini.
Dan sepertinya orang Indonesia memang masih seringkali bertindak irasional, ya. Contoh di atas tadi hanya contoh sederhana dengan skala irasionalitas yang kecil, tapi contoh lebih besarnya adalah seperti :

Orang Indonesia selalu berketetapan hati ingin pulang kampung bermacet-macet ria belasan jam dengan menghabiskan budget yang tidak sedikit untuk bahan bakar dan mengambil resiko keselamatan yang begitu besar, hanya agar dapat merayakan hari raya bersama keluarga di kampung.

Tetap rela mengantri (bahkan berebut) minyak tanah yang makin lama makin mahal padahal pemerintah sudah mengupayakan konversi ke bahan bakar gas yang lebih murah, tapi tetap saja nggak didengar karena orang Indonesia malas belajar teknologi baru – meskipun secara logika, teknologi baru itu lebih murah sehingga pastinya lebih cocok dengan kehidupan perekonomian yang makin sulit.

Sudah susah hidupnya, irasional pula.
Kalau nggak ada perubahan pola pikir yang lebih rasional, kapan ya majunya?

Hehehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s