Princess for the Night

Standard

So there was a petite Ms. Big, who was being spoiled by Mr. Big

warning :
postingan ini panjang, sebuah celotehan nggak penting jam setengah dua pagi.
read at your own risk.
*wink*

sebuah ending yang tidak diduga untuk hari Rabu yang diwarnai oleh delayed presentation, meeting dadakan dengan salah satu customer premium di Jakarta dan benak yang secara konstan mendamba liburan panjang. dan jauh. dan gratis. yeah, right.
sebuah sms saya kirimkan kemarin siang dalam perjalanan ke Jakarta.
ke dia, sang Mr. Big.
bertanya apakah dia ada waktu nanti malam, karena saya ingin mengembalikan memory card dan buku yang dulu saya pinjam.
pertanyaan yang asal dilontarkan, yang kemudian dijawab ya, tanpa diikuti oleh pengaturan rencana lebih jauh.
yang penting kata YA sudah ada di tangan.

barulah sekitar jam 6 sore saya kirim sms, bertanya dimana harus menemui dia. dia menjawab dengan menyebutkan satu mal besar di pusat kota, sekalian dia ada liputan di sana. saya pun sampai di sana, dengan bantuan tukang ojek yang cukup percaya diri:

“Aduh neng, kesana macet banget. dua puluh ribu ya ..” dan saya pun sok jual mahal. Akhirnya dia settle dengan dua belas ribu.
Lalu “Tuh kan macet..” kata dia sambil menggerakkan motornya dengan lincah di sela-sela antrian mobil di jalan kecil tembusan dari Tanah Abang, sempat mengebut sana-sini dan saya hanya merespon, “Kalo masih ngebut gini sih nggak macet kali bang,” dan direspon dengan lempeng,
“Mungkin karena yang bawa motor pinter kali, Neng ..”
Halah.

setelah perjalanan dengan kaki yang panjang di dalam mall yang luar biasa besarnya itu, akhirnya saya bertemu dia.
masih dengan gaya berantakan, tipikal jurnalis yang sama. ransel besar berisi kamera dan printilan canggihnya. dompet kecil simpel (yang merupakan kemajuan, secara dulunya dia paling males pake dompet), dan kulit yang menghitam terpaan matahari.
bukan, dia memang bukan lelaki metropolis yang senang berkaca, bersolek dan bersalon.
dan saya pun tak pernah membayangkan dia menjadi lelaki seperti itu. jadi memang lumrah menemukan dia dalam kondisi seperti ini.

kami bertemu di toko buku, yang katanya versi terbaik yang ada di Indonesia. image baru, komplit dengan cafetaria di dalam toko. yang dapat memberikan diskon untuk buku impor dan lokal dengan menunjukan ID card dia, membuat kami sedikit tertarik berjalan-jalan di deretan rak buku-buku yang ada.
kami berhenti di section hobi yang sama. diving. yang berada tepat di seberang hobi dia, fotografi.
mulai berdiskusi, mulai mengobrol.
ringan, tanpa beban.
obrolan-obrolan bodoh diselingi tawa.

ah. sudah lebih dari beberapa bulan saya tidak melihatnya.
obrolan via telepon pun baru tersambung kembali beberapa hari yang lalu, setelah sebulan lewat saya mengendapkan amarah untuknya.
tapi seperti biasa,
dia tak pernah terasa asing.
dia selalu dia,
dengan senyum lebar yang hangat,
yang selalu ada untuk memanjakan saya.

kemarin pun begitu.
saya dimanja bak putri istimewa.
dia membawakan tas saya yang berat, yang saya geletakkan begitu saja di depan rak buku diving karena saya kelelahan, tanpa saya minta
dia membelikan (atau membayarkan dulu. hahahaha. tapi kayaknya dia nggak akan pernah minta diganti dalam bentuk yang sama. palingan saya hanya tinggal mentraktir dia makan atau apa) saya dua novel indonesia yang akhirnya saya beli karena diskon 20% yang diberikan oleh toko buku itu atas ID card dia,
dia menraktir saya yang kelaparan dengan makan malam yang menyenangkan,
dan saya pun tak perlu kuatir bagaimana cara pulang dari sana, dia akan mengantarkan saya pulang sampai di rumah.

dia dapat membaca pikiran saya saat saya terpesona melihat dummy makanan di konter food court setempat dan langsung menepiskan pikiran saya sebelum sempat diutarakan.
dia juga mau mengalah saat saya merebut tempat duduknya dengan alasan lighting dan setting-an yang bagus untuk difoto.

entahlah.
yang jelas saya jadi terbawa manja juga saat bersama dia.
meskipun sejak kita kembali mengobrol beberapa hari yang lalu, saya bersumpah tidak akan melakukannya.

kami mengobrol. kesana. kemari.
lalu dia bilang bahwa dia sedang ingin menikah.

bukan, ini bukan part dimana saya kecewa karena kemudian dia berkata bahwa dia akan menikahi gadis yang tengah dipacarinya, seperti yang biasa ada di dalam novel-novel percintaan.
saya tahu persis, dia belum punya pacar lagi, sejak putus dengan saya.
karena itu obsesi ini tidak membuat saya was-was takut kecewa.

simply said, dia sedang terkena sindrom late 20s, dimana sebagian besar teman-teman sepermainan sudah menikah / punya anak, dan secara otomatis bergabung dalam Klub Ayah / Suami Baru, meninggalkan dia, si lajang, di luar lingkaran anggota klub.

tapi kemudian dia pun mengutarakan kekhawatiran-kekhawatiran dia.
bahwa nanti dia akan kehilangan idealisme dan totalitas bekerjanya saat menikah.
bahwa sangat sedikit sekali perempuan yang dapat mengerti profesi yang dia tekuni.
bahwa mayoritas tokoh sukses di profesinya adalah lelaki-lelaki tanpa hubungan marital yang langgeng.

bahwa nanti pernikahan mungkin akan mengganggu performancenya dalam bekerja,
dan sebaliknya, bahwa nanti pekerjaannya akan mengganggu kelanggengan pernikahannya.

saya pun ragu untuk berkomentar.
entahlah. padahal biasanya saya itu banci komentar, banci menganalisa, laksana psikiater yang sedang menghadapi pasien di kursi terapi.
saya takut saya tidak bisa obyektif.
biar bagaimanapun itu dia.
seseorang yang pernah menjadi bagian penting selama beberapa tahun dalam hidup saya,
bukan orang lain.

but then again, saya tahu dia cerita karena ingin tahu apa pendapat saya.

saya pun mulai berceloteh.
mengenai dia yang saya tahu persis, seringkali memiliki keinginan namun lalu memiliki second thought yang sama seringnya
mengenai perbedaan signifikan antara tidak bisa dan tidak mau.
mengenai tingkat ekspektasi seorang perempuan dari pasangannya.
mengenai niat – apapun bisa bila diniatin.
dengan berhati-hati untuk tidak menggunakan kata saya dan dia, saat memberikan contoh.

entahlah.
dengan orang lain kata saya dan dia dalam contoh bisa tetap, dan akan selamanya, menjadi contoh semata
dengan dia?
bisa jadi bisa, bisa jadi tidak.
dan saya tidak mau mengambil resiko itu.

meski ya,
sebagian besar komentar yang saya lontarkan adalah pendapat pribadi saya,
pola pikir saya bila saya benar-benar berasa di posisi itu.
saran saya pun terasa terlalu personal,
hell yes, mungkin karena saya pun pernah berada di posisi itu – meski tidak sama persis.

saya pernah menjadi perempuan yang kalah dari pekerjaan dia.
saya pernah menjadi perempuan yang memiliki ekspektasi terhadap dia,
dan terpaksa menerima dengan getir saat ekspektasi itu tidak terpenuhi karena tidak adanya niat dari dia.
saya pernah bersama memulai sesuatu yang pada awalnya dia inginkan,
namun dia pun berbalik memunggungi saya, karena rupanya keinginan dia yang dulu telah berganti dengan keinginan yang baru, dimana saya tak lagi menjadi bagian di dalamnya.

namun malam itu berlalu sukses tanpa adanya pembicaraan-pembicaraan penting,
the ones that usually appear and then force us to make up our mind about us,
meski seringkali belum saatnya.

mungkin memang begini baiknya.
karena memang, saya bukan lagi saya yang dulu,
saya yang sekarang sudah terlalu jenuh dengan drama,
yang dulu sering saya mainkan dengan dia sebagai sutradaranya,
dia yang menyuruh saya tertawa,
dia juga yang menyuruh saya menangis.

tapi bisa jadi mungkin seharusnya memang bukan begini jadinya.

entahlah, saya belum tahu.

tapi yang saya tahu,
i had fun last night.
not crazy-exciting-kind-of-fun, but more into pleasant kind of fun.

ah sial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s