Life Benchmark

Standard

kemarin saya menemukan artikel menarik di blognya Icha Rahmanti, penulis Cintapuccino dan Beauty Case (i like this one better than the first book), mengenai nama-nama “tidak biasa” yang dia pernah temui seumur hidup.

ada satu nama yang mengundang saya berkomentar dan akhirnya terpikir menulis ini.
seorang perempuan bernama Primadona Kampus.

entah wajah dan penampilannya seperti apa, saya tidak kenal orangnya, tapi saya bisa membayangkan seumur hidup dia akan menghadapi pertanyaan dan tuntutan yang disebabkan oleh nama pemberian orang tuanya itu.
yang tentunya dijadikan patokan orang untuk melakukan perbandingan dengan realitas yang ada. yang mungkin dijadikan candaan bila gap yang ada terlalu ekstrim.
and she, undoubtedly, conscious or unconsciously, will spend the rest of her life trying to live up to her name.

tapi ternyata bukan dia saja yang begitu.
semalam dari messenger yang terhubung dengan blackberry dia, seorang teman bercerita tentang siapa keluarganya.

FYI, teman saya ini memang agak beda dunianya sama saya.
saya kenal dia di sebuah liga pergaulan yang juga tidak biasa – let’s call it The League of Extraordinary Gentlemen – secara semua orang yang ada di sana pasti memiliki kekuasaan dan kekayaan yang extraordinary, karena yang ordinary tentu saja tidak bisa bergaul di sana.

Namun sesama member yang extraordinary masih ada pembedaan treatment yang jelas antara yang extremely extraordinary (yang menempati tingkat teratas), kind of extraordinary, standard extraordinary, dan sebagainya.

It sounds bitter, tapi memang kenyataannya begitu.
meskipun mungkin seorang member yang hanya standard extraordinary lebih memilih mati daripada dia mengakui pada khalayak bahwa dia hanya tergolong standard extraordinary di liga pergaulan itu, bukannya masuk golongan extremely extraordinary.

terlepas teman saya masuk ke golongan yang mana, but i really cannot imagine being him, being one of the members, trying constantly to fit in.
mungkin kalau saya jadi dia, saya akan selamanya merasa menjadi ugly duckling, karena pergaulan ini memang sangat demanding.
di sana norma yang berlaku adalah you are what you have, you are what you can afford.
dan di sana selalu ada mereka-mereka, para dewa, kalangan extremely extra ordinary, yang merajai arena pergaulan. they have become benchmarks for the other members, menjadi patokan anggota pergaulan yang lainnya untuk standar keberhasilan yang diakui oleh semua anggota pergaulan itu.
and i can tell you, that is not really easy to live up to their standards.

lalu dia pun bercerita mengenai siapa keluarganya.
wow. semuanya adalah pejabat-pejabat tinggi pada jamannya di berbagai institusi, nama terkenal di bidangnya, dan beberapa malah menjadi bagian penting dari sejarah karena posisi mereka semasa perang kemerdekaan.

dan dia kemudian bilang, “Karena itu stress juga kalau cuma jadi average people.”

damn.
it must be really hard being him (kemarin pun saya bilang begitu ke dia).
dia memiliki lingkungan pergaulan yang demanding, sementara lingkungan keluarganya pun tak kalah demanding.
keluarga yang harusnya menjadi lingkungan yang menerima kita dengan segala kelemahan dan kekurangan kita, mungkin sudah berubah menjadi lingkungan yang menuntut prestasi, pencapaian dan keberhasilan kita – supaya kita bisa diakui hebat, seperti anggota keluarga lainnya.

saya pun melihat keluarga saya. teman-teman saya.
keluarga saya tergolong keluarga biasa-biasa saja. we’re one of those average families. teman-teman saya memang ada yang hebatnya luar biasa, namun mereka tetap asik, sehingga bukannya bikin minder, malah memberikan inspirasi.

tapi justru ke-average-an keluarga dan teman-teman sayalah yang membuat saya merasa bisa menjadi diri saya apa adanya di depan mereka – yang kadang ngeselin, kadang norak, kadang bodoh – karena saya yakin mereka bisa menerima kekurangan, keterbatasan dan kegagalan saya.

mungkin punya life benchmark yang tinggi bisa bikin seseorang termotivasi,
tapi sepertinya kalau ketinggian pun, sepertinya nggak sehat juga untuk kejiwaan ya.

katanya dalam hidup kita harus bisa menetapkan target yang achievable, yang standar achievable itu pasti beda-beda untuk setiap orang.
kalau nggak achievable, akhirnya target itu cuma jadi target. yang terlalu tinggi untuk digapai, jadi kita cenderung untuk menerima saja bahwa target itu memang mustahil untuk dicapai. dan cenderung untuk begini-begini saja.

tapi, kalau kita menentukan standar yang TERLALU achievable juga nggak sehat. kita jadi nggak berkembang. nggak memaksa kemampuan kita untuk dapat melewati batasan yang selama ini berlaku. akhirnya nggak pinter-pinter.

hehehehe. harus cari titik tengah kali ya.
tapi kalau boleh memilih,
daripada memilih life benchmark yang dikondisikan, dipaksakan terhadap saya,
saya lebih ingin memegang kendali atas apa yang menjadi life benchmark / target saya.
saya yang memilih, saya yang menentukan berdasarkan keinginan saya berkembang ke arah mana – berdasarkan keyakinan apa yang bisa saya capai dengan terus pushing the limits.

karena memang,
if you don’t have faith in yourself,
then who will?


note :
postingan ini hanya sekedar pemikiran dan ide-ide acak, tidak bermaksud untuk menyinggung hati maupun perasaan siapapun.

images taken from gettyimages, by Kazuhiro Tanda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s