The Late 17

Standard


… tapi nggak ada kata terlambat untuk keriaan semacam ini!!!

bwhahahahahaha.
setelah menjadi warga negara yang kurang baik pada hari H – dimana saya bangun siang, telp-telpan sama mami sambil nonton Private Practice dan baru inget hari itu adalah hari kemerdekaan.
Beda banget sama taun-taun sebelumnya, dimana saya selalu sudah meluncur ke Subang pagi-pagi buta buat upacara kantor di sana, yang biasa dilanjutkan dengan makan siang bersama dan lomba-lomba antar sub unit usaha internal kantor.
Tapi tahun ini tidak ada upacara.
Sesuatu yang disambut dengan gegap gempita awalnya (horeeeeee akhirnya beneran bisa libur!) tapi ternyata kerasa ada yang hilang juga dengan ketiadaan upacara ini.

Setidaknya dengan mengikuti upacara setiap tanggal 17 Agustus, saya sudah merasa sedikit menjadi warga negara yang baik dengan memberi hormat pada bendera yang berkibar sambil mendengarkan paduan suara warga sekitar menyanyikan Indonesia Raya dengan agak off-key, mendengarkan pembukaan UUD 1945, dan mengucapkan bersama Pancasila.


Suasana 17an pun terasa dalam perjalanan pergi / pulang ke Subang, dimana warga sekitar merayakan hari kemerdekaan bangsa ini dengan meriah – mulai dari karnaval pelajar sampai ke pawai kendaraan berhias yang ampun-ampunan niatnya. seriously, saya pernah terjebak macet di jalan pulang dari Subang karena ketemu pawai kendaraan ini, yang masing-masing kendaraan mengusung tema berbeda. ada yang tema olahraga, tema alam liar .. macem-macem banget!


Tapi kemarin tidak ada.

Akhirnya saya menjelma menjadi warga Indonesia perkotaan kebanyakan, yang menganggap hari itu sama saja seperti hari-hari libur yang lain.

Tapi hari Minggu kemarin, di luar sangkaan ternyata gereja saya mengadakan perlombaan 17 Agustusannya sendiri. berbagai perlombaan antar wilayah anggota gereja diselenggarakan, dari cerdas cermat Alkitab (yang biasanya diikuti oleh anak sekolah minggu, tapi kemaren yang ikut malah bapak-bapak, ibu-ibu dan opa/oma), tarik tambang, lomba dandan dengan mata ketutup, roda gila, pisang buta, sampai ke perang bendera –

Tadinya saya cukup menjadi penonton yang kurang supportive (wilayah saya berlomba, saya malah asik-asik bertukar curhat sama temen-temen di gereja yang udah lama nggak saya temui) tapi kemudian curhatan abis, dan saya mulai mati gaya.

Lalu saya mulai diajak main Roda Gila. Sebuah terpal disambung ujungnya sehingga membentuk lingkaran, dan enam orang harus berjalan di dalamnya bolak-balik di track yang sudah ditentukan. prinsipnya kayak roda traktor lah.
and guess what?
we won!

bwhahaahhaa. mulai deh, spirit perlombaan merasuki saya.
saya mulai jadi banci lomba.

ikut lagi perlombaan Pisang Buta, dimana ada tiga orang yang ikut.
satu berfungsi sebagai pemegang pisang bermata tertutup yang akan menyeberangi track menuju teman saya satu lagi yang bertugas memakan pisang itu. saya bertugas sebagai pemandu dan pengomando.
easy task, secara pemegang pisang itu sukses jalan lurus tanpa mencong sana-sini, sehingga bisa sampai ke lokasi pemakan pisang dengan mudah.
yang susah ternyata menghabiskan pisangnya, karena pemakan pisang kami sibuk cekikikan akhirnya jadi susah tertelan.
tapi lumayan, kita juara dua.

dan spirit banci lomba saya tidak berhenti sampai disitu.
saya ikut Perang Bendera, bersama empat orang remaja lainnya – yang semuanya masih SD / SMP / SMA / kuliah sehingga saya jadi paling tua sendiri.
tapi sumpah, saya seneng banget main ini!
basically, dua regu yang bertanding harus main perang-perangan dengan pistol air sambil berlindung di balik beberapa benda sambil berebut lima bendera yang tersebar di medan peperangan.
jadi intinya cuma kejar-kejaran sambil main air.
bwhahahahahaha.
i had soooo much fun playing this!

kita menang babak penyisihan, tapi sayangnya saat penyisihan kedua hujan turun sehingga tak mungkin diteruskan. akhirnya permainan ini dibatalkan.

tapi spirit main-main pistol air nggak berhenti. ada bapak-bapak / ibu-ibu yang malah asik perang pistol air sambil ketawa-ketiwi.
hahahaha. sprinkler gun really brings out the kid in each soul, huh?

sesi terakhir adalah pemberian medali.
saya dapat medali emas (untuk Roda Gila) dan medali perak (untuk Pisang Buta), sementara bapak saya dapat medali perunggu (untuk Cerdas Cermat Alkitab) – yang semuanya saya sandang dengan bangga.

ya iyalah – secara gengsi medalinya cuma laku disitu aja .. bhwhahahhaaha.

anyway, it was unexpectedly fun Sunday.
mungkin rasanya seru karena rasanya hari itu bisa brenti jaim, berlagak dewasa, dan ikut lari-larian sambil cekikikan kayak anak kecil lagi🙂

hahahaha.
they say, boys will always be boys.
girls will always be girls as well, i guess🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s