14. End is the Beginning is the End

Standard

Informasi di koran pagi ini tak lagi mengejutkan saya.
Tak juga sang bankir yang menelepon karena membaca berita yang sama.
Informasi dalam kotak dengan ukuran berbeda-beda, yang isinya diulang beberapa kali di harian yang sama.

Ucapan turut berduka cita, diucapkan oleh berbagai relasi, dari beragam korporat.
Iklan yang entah apakah besaran ukuran berbanding lurus dengan duka yang dirasakan dengan kepergian Si dia.

Saya tahu ini akan terjadi.
Saya ada di sana saat Si dia pergi.

Saya masih ingat dokter dan suster yang tergesa menerobos masuk saat alat monitor jantung itu berdengung tak terputus,
memaksa beberapa keluarga menepi dari sisi tempat tidur, untuk melakukan upaya penyelamatan terakhir
yang sia-sia,
karena monitor jantung itu terus menampilkan garis datar..

Saya masih ingat perempuan berumur yang menangis di sudut ruangan, menatap lekat ke arah tempat tidur,
Saya masih ingat sang perempuan memeluk mertuanya itu, juga dengan tangis,
Saya masih ingat suster yang mendorong saya untuk tetap berada di luar,

”Sorry. Family only.”

Ya, saya bukan keluarga.
Saya bukan siapa-siapa.

Saya tak berhak berada di sisinya,
Saya tak berhak melihatnya untuk terakhir kali,
Sebelum mereka membacakan waktu kematiannya lalu menutupi seluruh tubuhnya hingga ujung kepala

Tidak,
saya bukan siapa-siapa.
Karena itu saya pun tak boleh terlihat menangis di situ,
tak peduli seluruh kenangan tentang dia berkilas cepat di mata saya,
membuat saya hancur karena perih yang menyiksa
dan rasa kehilangan yang menelan seluruh keberadaan saya.

Saya memaksa kaki saya untuk melangkah limbung menjauh,
pergi dari semua keramaian menyakitkan itu,
menyendiri di sebuah kubikel toilet yang sepi
dan tak seorang pun dapat menyaksikan saya

Di sana barulah saya menangis.
Untuk Si dia,
Yang tak pernah tahu bahwa saya pernah mencintainya,
terlepas apa pun keberadaan dia.

Karena memang,
tak perlu sederet sumpah,
sepasang cincin kawin,
dan sepasang buku nikah
untuk mencintai seseorang.

I love him, not because I have to,
but just because I want to.

Jenazah Si dia disemayamkan di rumahnya selama sehari penuh setelah dikirim pulang dari Singapura, memberi kesempatan bagi keluarga maupun kolega untuk memberikan ucapan belasungkawa.

Di sana jugalah saya melihat Si dia untuk pertama kali sejak kepergiannya.

Si dia masih tampak sama seperti terakhir kali saya melihatnya di resepsi pernikahan waktu itu,
namun entah kenapa terasa sedikit lebih hangat dibandingkan saat dia terbaring diam di rumah sakit dengan selang dan perban menutupi tubuhnya.
Mata itu masih sama terpejam,
namun sudut bibirnya sedikit tertarik – menciptakan ilusi senyum separuh penuh permainan yang saya suka,
yang selalu mampu menimbulkan percikan kehangatan dalam diri saya.

Well, bisa jadi itu hanya ada dalam bayangan saya saja.
Entahlah, rasanya begitu absurd.
Berada di sini, melihat dia yang terbujur kaku di sana
Tanpa seorang pun menyadari bahwa siapa saya.

Sayalah perempuan yang ditemuinya berkedok alasan harus menghadiri rapat penting di sana-sini,
sayalah perempuan yang berada bersamanya saat telepon ke ponselnya tidak kunjung diangkat,
sayalah perempuan yang selalu dihujaninya dengan hadiah-hadiah mahal,
sayalah perempuan yang pernah melihatnya telanjang tanpa sehelai benang pun saat kami bercinta.

Ya, sayalah Perempuan Kedua-nya.

Tapi tidak, tak seorang pun yang tahu itu.
Tidak juga bankir yang datang bersama saya ke tempat ini.
Tidak juga sang perempuan yang bersalaman dengan saya saat saya menyusuri antrian yang mengular menuju deretan anggota keluarga di sekitar jenazah.

Saya tahu, dia masih bersama lelaki muda simpanannya.
Saya melihat lelaki itu berada di luar rumah, ikut sibuk mengurus ini-itu.
Entah siapa dia bagi keluarga ini.
Bisa jadi kerelaannya membantu didorong oleh kemungkinan terjadinya happy ending yang tampak di depan matanya.

Well, semoga begitu.
Hopefully there’s someone here who is finally getting a happy ending.

Karena nasib tak pernah memihak seorang selingkuhan.
Trust me. I know what I am talking about.

Saya menatap wajah Si dia untuk terakhir kalinya.
I wish I can kiss him goodbye.
Saya tersenyum pahit, menyadari saya tak mungkin melakukannya.

Secercah sesal terlintas dalam benak.
Dammit. I couldn’t even remember our last kiss.

Saya menghela nafas berat.
Sang bankir, menoleh menatap heran.
”Are you okay?”

”I am fine. Let’s go.”
Saya pun membalikkan badan, dan beranjak pergi.
Tak sekali pun menoleh ke belakang.

EPILOG

Saya menatap amplop tersegel di tangan saya dengan ragu.

Sudah sebulan berlalu sejak kepergian Si dia.
Tapi entah kenapa jejak keberadaannya tak juga luruh.
Amplop yang tiba di meja saya pagi ini seolah menegaskan hal itu.

Sebuah telepon masuk ke ponsel saya dua hari yang lalu, dari sebuah nomor yang tidak saya kenal.
Sekretaris Si dia,
yang memperoleh nomor saya dari ponsel Si dia yang diserahkan oleh pihak keluarga kepadanya, untuk menyelesaikan hal-hal yang mungkin belum selesai antara Si dia dengan orang-orang yang namanya tersimpan dalam buku telepon ponsel itu.

Dan saya adalah salah satunya.

Si sekretaris menanyakan alamat surat menyurat saya, untuk mengirimkan sesuatu dengan nama saya di atasnya, yang ditemukannya saat membereskan meja kerja Si dia.

Dan sesuatu itu tiba hari ini, dalam bentuk amplop emboss berinisial eksklusif yang sama yang pernah saya terima beberapa saat yang lalu.
Nama lengkap saya tertulis jelas di atasnya.

Sialan.
Saya bahkan tak menyadari bahwa dia tahu nama lengkap saya.

Saya membuka amplop itu, dan tertegun saat mengeluarkan sebuah cek dari dalamnya.
Nyaris tak bisa bernafas, saat melihat jumlah yang tertera di sana.

Apa ini?!

Sebuah kartu terjatuh ke pangkuan.
Saya mengambil kartu itu dan membaca isinya.

Here’s to make up all the wasted time,
all the broken promises,
all the love I would never be able to express.

Really wish I have met you sooner,
I love you.

Saya terpaku diam.

Tak mampu bergerak.
Tak mampu berpikir.
Tak mampu merasa.

Hanya air mata yang mengalir pelan membasahi pipi, tanpa saya sadari …

[end]

previous part : 13. Not Lust, But Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s