13. Not Lust, but Love

Standard

Menyesap espresso dari cup karton..
tatapan kosong ke lantai koridor di depan saya.
Mata terasa perih.
Mungkin karena kantuk.
Atau air mata yang tak kunjung mengering semalaman.
Saya tak mampu meninggalkan tempat ini tadi malam.
I just can’t.

Semalaman saya habiskan berada di sisi ranjang Si dia.
Dalam kesunyian dan kedinginan itu.
Berharap semu bahwa Si dia akan membuka matanya,
lalu tersenyum melihat saya.

Harapan yang tentu saja mustahil.
Dia masih saja terbaring diam sepanjang malam.
Sama diamnya seperti saat pertama kali saya melihatnya.

Saya tahu, ketiadaan keluarga yang menjaganya membuat Si dia jadi milik saya semalaman. Tapi kini sudah pagi. Matahari telah bersinar di luar sana.
Cinderella telah kembali menjadi Upik Abu.
Upik Abu yang harus kembali ke belakang layar. Menyatu dengan sisa dunia yang tak tampak bagi para pemeran utama di panggung.

Karena memang, Upik Abu bukan siapa-siapa.

Langkah kaki terdengar dari ujung koridor.
Saya menoleh dan melihat seorang lelaki berjalan mendekat.
Di sebelahnya, seorang perempuan bergegas menyusul dengan langkah yang lebar.
Seketika itu juga saya dapat mengenali wajah sang perempuan.
 
Dialah perempuan yang berhasil membuat saya cemburu malam itu.
Membuat saya merasa begitu kalah dan tak berharga. 
Sang Istri.

Refleks saya memalingkan wajah, menutupinya dengan gelas karton di tangan saya.
Saya tak ingin ada seorang pun mengenali saya.
Upik Abu tak seharusnya masuk ke panggung utama!

Namun lelaki dan perempuan itu pun terlalu sibuk untuk menyadari kehadiran saya.
Mereka berjalan melewati saya tanpa menoleh sedikit pun, menghentikan langkah di depan kamar Si dia.

“Thanks for dropping me by, dear,” terdengar suara sang perempuan.
“No, it’s okay. Apakah kamu akan di sini seharian?”
“Hm, sepertinya. Ibu mertua akan datang hari ini, jadi sebaiknya saya menunggu dia di sini,” perempuan itu tertawa kecil, “Gaya menantu teladan, huh?”
Lelaki itu tertawa.
“Call me if you’re free, dear,”
“I will.”
Lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke arah sang perempuan, mencium bibirnya. Singkat, namun ada kemesraan tak terbantahkan di sana.

Saya terpaku diam.

Lelaki itu membalikkan badan, berjalan pergi.
Sementara sang perempuan masuk ke dalam kamar.
Baru saja langkah si lelaki menghilang di balik koridor,
pintu kamar sudah kembali terbuka.
Sang perempuan menghampiri meja Suster Jaga.
Menanyakan kondisi suaminya semalam.
”He’s stable all night. Coba saja tanya relasi Ibu yang menjaga di sini semalam,”
Sang perempuan mengerutkan kening.
”Relasi saya? Siapa?”
”Entahlah. Dia bilang baru tiba dari Jakarta semalam.
Sepertinya orangnya masih ada di kursi sana..”
Suster mencondongkan tubuhnya melewati konter,
melongok melihat kursi tunggu di di koridor.

Kosong.

Hanya ada pintu di ujung koridor yang bergerak menutup.

Saya mengepalkan kedua tangan saya dengan geram.

TIDAK.
Saya tak berhak marah.
Saya tak berhak merasa diperlakukan tidak adil.
Semua ini adalah keputusan saya pada awalnya, tanpa paksaan dari siapapun.

Menjadi Yang Kedua.
Yang keberadaannya tak pernah diakui.
Yang eksistensinya tak pernah dilihat oleh siapapun, kecuali Si dia.

Seconds want to be the Firsts, 
That is just pathetic.
Seperti pungguk bodoh yang terus mendamba sang bulan.
Dan saya terlalu bagus untuk itu!

Tidak, saya tak akan marah kepada sang perempuan yang nyata-nyata berselingkuh dengan lelaki lain di hadapan saya.

Tidak.
Apa yang dia lakukan sama saja seperti apa yang saya lakukan dengan Si dia.
Entah apa motivasinya, I don’t give a shit.

Tapi itu berarti dia telah menjadi sama dengan saya. Dengan Si Dia.
Dia bukan lagi korban, tapi pelaku.

Dan pelaku perselingkuhan harusnya dihajar.
Dengan ketidak-adilan.
Dengan ketidak-adanya pengakuan.

Tapi kenapa perempuan itu malah memperoleh SEMUA yang tak bisa saya dapatkan?!

Dia memperoleh pengakuan.
Dia memperoleh hak atas Si dia.
Dia memperoleh seluruh privilege itu,
seperti door prize yang dilimpahkan saat dia membubuhkan tanda tangannya pada Buku Nikah dan bersumpah akan hidup bersama setia selamanya.

Dia tak lagi setia.
Si dia pun tak lagi setia.
Kenapa Buku Nikah itu tidak dirobek saja, agar hancur menjadi serpihan kertas tak berharga,
agar sama seperti sumpah mereka yang tak lagi mengandung arti?

Sebentuk kitab kecil bernama Buku Nikah,
dan cincin kawin yang kini telah tersimpan di saku, saat masing-masing mencium selingkuhan mereka dengan mesra …

Kenapa kedua hal itu harus membuat saya menjadi yang terbuang?!

Kenapa kedua hal itu harus membuat saya dianggap penjahat yang tak dianggap,
padahal bukan saya yang bersumpah,
bukan saya yang menanda-tangani Buku Nikah itu?!

Kenapa kedua hal itu harus membuat saya menjadi begitu hina,
padahal saya lebih mencintai Si dia..
daripada sang perempuan yang menyandang status istrinya itu?!

FUCK!

Ya, saya marah.
Saya marah karena saya tak lagi bisa tak peduli.

Saya terlalu mencintainya.
 

previous part : 12. The Aftermath
next part : 14. End is the Beginning is the End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s