Forever an Ugly Duckling

Standard

Seorang gadis berseragam SMU tampak berjalan keluar dengan gontai dari pagar sekolah.

Berpakaian seragam agak sedikit longgar. Rok dibawah lutut. Sepatu hitam dicurigai Nike palsu karena warnanya hitam semua. Ransel adidas abu-abu biru.
Rambutnya sebahu bob yang seringkali berantakan bentuknya karena nggak pernah di blow.
Gigi seri bawahnya tanggal karena kesalahan dokter gigi beberapa tahun silam, dan kini giginya dihiasi kawat gigi berwarna perak dalam rangka memperbaiki susunan giginya yang berantakan.

Beda sekali dengan teman-teman sekelasnya, si anak-anak gaul.
Semuanya mengenakan seragam pas badan, rok di atas lutut, kaos kaki panjang sampai di bawah lutut dan sepatu bersol tebal.
Mereka bahkan terlihat gaya dalam seragam sekolah mereka!

Tapi tidak, dia bukan anak gaul.
Kakaknya adalah lulusan SMA ini, karena itu dia sudah punya cita-cita masuk ke sekolah negeri unggulan ini, dari sejak dia masuk SMP. juga bercita-cita untuk mengikuti ekskul yang sama juga dengan sang kakak, KIR – Kelompok Ilmiah Remaja.
Yang kemudian dia sadari, adalah ekskul yang sangat TIDAK gaul.
Yang bahkan mampu membuat dia terdiam panik pada pertemuan pertama ekskul KIR yang dia hadiri. Merasa tidak dapat melebur. Very out of place.
Dan dia pun kabur, lalu bersumpah tidak akan datang ke pertemuan-pertemuan berikutnya.

Dia memang TIDAK gaul, tapi tidak se-TIDAK GAUL itu.
Tapi dia merasa KURANG gaul untuk ikut ekskul marching band, cheerleader atau dance.
Merasa KURANG macho untuk ikut ekskul pencinta alam.
Dia pun memutuskan untuk tidak bergabung dengan ekskul manapun.

She spent her highschool years trying to fit in.
Menghilangkan rasa minder, mencoba untuk lebih eksis.
Berusaha sebisanya memberikan sentuhan gaya dalam penampilan, meski pastinya tak akan bisa menyaingi mereka anggota geng gaul.

Tapi tidak.
Tiga tahun tidak juga berhasil.
Three years, and yet, she was still invisible.
And that is why she hates her high school years.
That girl ..


is ME.

Well yes. That was my high school years. Hehehe.
Semasa SMU dulu saya memang minder banget, karena merasa nggak eksis di pergaulan.
Rasanya semuanya salah. dari pakaian, tas, sampai gaya rambut.
Definitely out of place, di dunia yang memegang prinsip you are what you wear.
Dan saya nggak pernah bisa menyaingi mereka, the gaul-ers, yang malah kadang dilabrak kakak kelas saking gayanya. Hehehe.

Untungnya, semasa kuliah saya dapat kesempatan untuk mulai sedikit-sedikit membenahi diri sendiri, sampai saat ini.
Sehingga jadilah saya yang sekarang,
Yang thankfully, bisa lebih percaya diri dengan potensi diri sendiri, dan cenderung menolak untuk dipandang orang lain sebatas dari penampilan luar saja (meski tetep aja metamorfosa ini juga meliputi aspek fisik :))

Mungkin kepercayaan diri ini juga yang bisa membuat saya sedikit bisa lebih eksis di lingkungan pergaulan teman-teman saya sekarang. *grin*
Bukannya eksis itu penting.
Tapi setiap orang kan perlu sense of belonging to something, somewhere.
Dan itu tak saya dapatkan saat saya masih SMU.
And it felt horrible.

Kemudian saya berpikir, bahwa dengan saya yang sekarang, saya nggak akan minder lagi.
Ternyata nggak.
Tetap aja rasa minder itu ada!

Setiap kali ketemu teman-teman SMU yang dulu saya tahu gaul setengah mati, saya sebisa mungkin menghindar.
Apalagi ketemu cowok-cowok idola seangkatan semasa saya SMU dulu.
Waduh, sebisa mungkin saya tidak menegur.
Merasa mereka juga tak akan mengenali saya, karena penampilan saya saat ini beda banget sama saya yang dulu.
Lagipula dulu kan’ saya invisible.
Mana ada yang tahu saya semasa SMU?
Mungkin mereka juga tak menyadari keberadaan saya.

Mungkin sebenarnya ini bayangan saya saja.
Tapi memang nggak bisa disangkal, sekali minder, tetap minder.
Dan rasa minder itu menyebalkan!
Karena itu saya berusaha menghindari kondisi-kondisi dimana perasaan seperti itu bisa muncul, seperti resepsi pernikahan teman SMU atau reuni.
I don’t want to be reminded to all those dark ages.

Well, I always think
Once an ugly duckling, forever an ugly duckling.
The ugly duckling might have turned to be a beautiful swan, but it still has an Ugly Duckling’s heart.

Hati yang minder, tapi mungkin lebih manusiawi karena dia tahu bagaimana rasanya terpinggirkan dan tak dianggap.
Mungkin ..
Pasti balik ke orangnya masing-masing juga.

Tapi entah kenapa,
Akhir-akhir ini saya punya firasat,
Bahwa saya tidak sendirian.

That I might be falling into another soul of an ugly duckling.

– some random thoughts –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s