12. The Aftermath

Standard

Saya menatap layar ponsel.
Tatapan yang nanar.
Pandangan yang kosong.

Jemari menekan beberapa tombol,
membuka beberapa pesan dalam inbox.

Pesan-pesan lama,
yang dikirimkan nyaris empat bulan yang lalu ke ponsel ini.
Pesan-pesan yang hanya disimpan,
tanpa balasan.

“We need to talk. Free for lunch today?”
From: Si dia
10.15 AM

Pesan berikutnya.

“Where are you? Why don’t you reply my message?”
From: Si dia
21.23 PM

Pesan berikutnya.

“I keep my promise. Sekarang hanya ada kamu. Are you going to see me now?”
From: Si dia
21.14 PM

Pesan berikutnya.

“Three messages. Two missed calls. Still no reply. OK. I got the message.”
From: Si dia
19.45 PM

Nama dia masih tersimpan rapi di memori ponsel saya.
Masih dengan dering tertentu yang saya gunakan,
untuk membedakan dia dari penelepon lain.

Fitur ponsel itu memungkinkan saya mengetahui kehadiran Si dia,
meski si ponsel masih terbenam jauh di antara isi tas kerja,
dan caller-id di layar pun belum terbaca.

Dering yang mampu membuat hati berdegup kencang.
Senyum tersungging di bibir tanpa bisa saya cegah.
Menyadari Si dia ada di seberang sana,
menunggu saya menjawab panggilannya.

Tapi itu dulu.
Nama dia tak pernah lagi muncul di ponsel saya.
Dering khusus itu tak lagi terdengar sejak hari itu.

Tanpa kata, tanpa argumentasi.
Saya telah memilih pergi.
Saya pun tahu, harga diri Si dia pun tak kan mengizinkannya untuk mencari saya.
Apalagi mengejar.
Pergi – berarti – selesai.

Semuanya berakhir.

Barulah empat bulan kemudian, nama Si dia muncul kembali dalam hidup saya.
Lewat bibir sang bankir, yang kini telah leluasa memanggil saya, pacarnya.
Dua patah kata yang mampu membangunkan saya dari lamunan siang hari dengan pandangan kosong menatap layar ponsel.

“Tunggu. Tadi kamu bilang apa?”
“Yang mana?” sang bankir menatap saya bingung, “I was telling you about my project.” Bibir bawahnya mengerucut. Tidak suka, karena rupanya saya tak mendengarkan ocehannya sejak tadi.
Tapi saya tak peduli.

“Kamu menyebutkan nama seseorang tadi?”
“Ya.” Sang bankir menyebut nama Si dia sekali lagi, “Dia key person dalam proyek toll roads sedang saya tangani. Petinggi salah satu perusahaan yang akan bermitra dengan kami dalam proyek ini. Tapi justru karena dia, proyek ini jadi sedikit tertunda.”
“Kenapa?”
“Dia kecelakaan. Kabarnya sampai saat ini masih koma di salah satu Rumah Sakit di Singapura.”

Saya tertegun.
Sang bankir, tak menyadari reaksi saya, terus berceloteh.
“Proyek ini akhirnya diserah-terimakan ke petinggi perusahaan lainnya,
dan tentunya saya masih harus menunggu proses transisi …-”

Namun telinga saya tak lagi mampu mendengar.
Benak saya berkecamuk hebat.
Dia… koma?

Tiba-tiba saya merasa sesak.
Sialan.
Saya harus segera pergi dari sini!

Satu kilas pandang ke arah si bankir,
dan saya tahu persis saya tak dapat pergi begitu saja.
Dia akan meminta penjelasan,
atas reaksi saya yang berlebihan setelah mendengar nama Si dia tadi.
Meski mungkin dia tak akan dapat mengorelasikannya dengan sosok lelaki yang berulang kali dilihatnya samar di tengah keramaian empat bulan silam,
but there will be questions.

Dan saya sedang tidak ingin menjawab apa pun saat ini.

“Dear, would you excuse me for a second? Saya harus ke toilet,”
saya tersenyum seraya bangkit berdiri,
membawa serta ponsel saya dengan satu gerakan halus saat saya mencondongkan badan mencium pipinya.
Dia tersenyum. Senang.
“Oke.”

Saya berjalan setengah tergesa menuju toilet,
dan menekan nomor ponsel Si dia sesampainya di dalam.
Saya tak tahu apa yang menanti saya di seberang sana,
tapi saya bertekad untuk mencoba.

“Halo?”
Terdengar suara perempuan.
Argh. This could be his wife.
Fuck!

Jenak berikutnya, saya sudah melangkah tergesa, menyusuri koridor Rumah Sakit, menuju kamar Si dia.

Yang menjawab telepon saya tadi ternyata sekretarisnya.
Katanya, Si dia sudah dua minggu ini terbaring koma.
Sebuah ledakan penghancuran bukit berbatu yang dilakukan di salah satu job site pembangunan jalan tol di salah satu daerah pedalaman Pulau Jawa menimbulkan akibat kerusakan yang cukup berat.
Longsor membuat beberapa bongkahan batu besar menimpa rombongan peninjau dari kantor pusat Jakarta.
Beberapa mobil hancur, tiga buruh meninggal, sedangkan dua wakil dari kantor pusat mengalami luka berat.
Si dia adalah salah satunya.

Sang sekretaris pun berusaha susah payah menjelaskan kondisi atasannya dengan berbagai istilah medis yang sulit dimengerti,
tapi saya kurang lebih dapat mengerti apa yang dia sampaikan.

Kecelakaan tersebut telah menyebabkan Si dia mengalami pendarahan internal di kepalanya, yang membuatnya harus menjalani operasi di Rumah Sakit ini.
Satu hari setelah operasi, kondisinya drop.
Sampai sekarang dia masih koma.

Pikiran saya seolah kosong.
Benak saya berkecamuk begitu hebat.
Saya tak mampu memikirkan apa-apa lagi.

Saya meninggalkan sang bankir di tempat itu,
tak peduli dia menanggapi kepergian saya dengan berang.
Memesan tiket ke Singapura dalam perjalanan kembali ke apartemen,
dan beberapa jam kemudian saya sudah dalam penerbangan ke Singapura.
Menuju tempat Si dia.

Hari sudah malam saat saya tiba di Rumah Sakit.
Jam besuk sudah lewat.
Namun dengan sedikit bualan dilontarkan kepada Suster Jaga,
ia mengizinkan saya masuk.

Suasana hening dalam kamar menyergap saat saya membuka pintu.

Dingin.

Sepi.

Hanya terdengar suara mesin monitor jantung yang berpacu lambat dan beritme teratur yang membelah kesunyian.

Saya melangkah mendekati ranjang,
menyibakkan tirai yang menutupinya.
Tertegun.

Sebuah sosok berbaring diam di sana, tak bergerak.
Berbagai selang tampak keluar dari berbagai sisi tubuh.
Perban menutupi sejumlah bagian tubuhnya,
termasuk kepala yang tampak botak setelah dicukur habis untuk operasi.

Bukan.
Ini bukan Si dia!

Si dia yang saya kenal akan selalu memukau saya dengan karismanya yang begitu menyilaukan dan memesona.

Si dia yang saya kenal akan selalu menyambut saya dengan senyum penuh dan mencium bibir saya dengan mesra.

Si dia yang saya kenal akan menggenggam tangan saya dengan lembut, holding me like he would never let me go.

Tidak .. Si dia BUKAN sosok yang kini terbaring diam di atas ranjang rumah sakit.
Tampak begitu rapuh dan dingin.

TIDAK! INI BUKAN DIA!


previous part :
11.3. The Other(s)
next part : 13. Not Lust, But Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s