11.3. The Other(s)

Standard

“Jadi siapa dia?”
“No one you need to know.”
“Bukannya saya berhak mengetahui saingan saya?”
“Dia bukan saingan kamu.”
“Jadi dia siapa?”
Saya menghela nafas panjang seraya meraih gelas sparkling water di atas meja. Lalu meneguk isinya.
“Apakah kamu akan bersikap seperti ini sepanjang makan siang? Kalau ya, I am leaving now. Saya ada janji dengan salon langganan saya..” Saya menatapnya.

Si dia merengut. Kesal.
Sibuk dengan pergumulan pikirannya sendiri.

Saya tahu, Si dia sedang berusaha keras menutupi rasa cemburu.
Salah satu akibat dari drama yang saya ciptakan saat menjadi pemeran utama karbitan semalam.
Cemburu bukan karena rasa posesif yang berlebihan, saya tahu itu.
Tapi lebih karena faktor keberadaan lelaki lain, selain Si dia dalam hidup saya.
Ego-nya tak dapat menerima itu.

“Dia seperti anak bau kencur.”
“Like I said, dia bukan saingan kamu.”

Si dia menatap saya. Menghela nafas, agak keras.
Ah, akhirnya. Si dia menyerah.

“Kamu akan datang nanti malam?”
“Ke pesta pernikahan yang konon adalah pesta terbesar abad ini? Pastinya,”
“It’s overrated. Biasa saja kok. Media saja yang melebih-lebihkan.”
“And you’re saying this because the bride is your so-called-bestfriend?”
“She is not my best friend.”
“Ah. Right. Former fuck buddy,” kata saya, “Wow. You never know. Ternyata sebutan mantan pun bisa diberlakukan terhadap teman tidur.”
“Ya, bisa saja. After you stop fucking her.” Si dia menukas, mulai jenuh dengan komentar-komentar tajam saya.
Saya tertawa.

Malam yang sama.
Di Pesta Pernikahan Terbesar Abad Ini.

Adalah karena sang bankir teman kencan saya semalam, saya memutuskan untuk datang ke pesta ini. Sang bankir bersedia menemani saya. Karena kebetulan juga mempelai perempuan adalah teman kuliahnya di Amerika.
Well, sulit dipercaya dua lelaki dalam hidup saya pernah berurusan dengan sang mempelai perempuan, yang wajahnya saja belum pernah saya lihat.
Tapi sepertinya dia gaul sekali.
Haha.
Yeah. Right.
Tapi saya tahu, mempelai pria pun tidak kalah mentereng. Dia merupakan salah satu klien saya, yang saya dapatkan setelah satu sesi makan malam ditemani dua botol red wine.
Sebuah syarat yang dia ajukan sebelum menandatangani perjanjian kerjasama dengan perusahaan yang saya wakili.
Dan saya tahu persis siapa dia.
Anak tunggal seorang taipan besar, sehingga dapat dipastikan tampuk kekuasaan akan jatuh ke pangkuannya. Dia menjadi kaya dan berkuasa, tanpa harus melakukan usaha apapun untuk mendapatkannya.
Hm.
Some bastards are just too lucky.

Saya membiarkan sang bankir menggenggam tangan saya saat memasuki ruang resepsi. Air mukanya bersinar bangga.
Mungkin karena menyadari lirikan iri yang dilemparkan beberapa lelaki di dekat pintu.
Hanya lirikan, tak lebih.
Mereka terlalu takut tertangkap basah oleh perempuan-perempuan yang menggamit erat lengan mereka.

Saya memandang ke sekeliling ruangan hasil sentuhan tangan mewah dekorator kenamaan Amerika. Mencari sosok Si dia.
Si dia akan datang juga malam ini.
Meski itu tak berarti kami dapat bersama-sama datang ke pesta ini.
Bukan, bukan karena Si dia yang tak mau.
Saya tahu, Si dia sering membawa pacar-pacarnya ke acara-acara seperti ini. Dan saya yakin, hal itu tak menjadi persoalan besar untuknya.

Tapi hal ini merupakan persoalan besar bagi saya.
Sekali saya melakukannya, selamanya saya hanya akan dicap sebagai SALAH SATU dari pacar-pacarnya. Just one of the girls.
And I am too damn special to be just one of the girls!

Nah itu Si dia!
Melangkah masuk ke dalam ruangan. Bersama seorang perempuan.
Si Pacar Lain Nomor Tiga?
Tapi perempuan itu tak seksi. Tak cantik.
Tak seperti dua perempuan sebelumnya.

Bukan, dia bukan perempuan yang sejenis dengan perempuan-perempuan yang saya temui kemarin.
Entah apa yang terpancar dari dirinya, tapi perempuan itu terlihat begitu anggun dan menarik. Tangannya menggamit lengan Si dia dengan longgar, namun cukup untuk memberikan statement bahwa dialah pendamping lelaki yang tengah berada di sampingnya.

Si dia pun menaruh tangannya di atas tangan perempuan itu agar tidak terlepas dari lengannya. Langkah mereka sesekali terhenti untuk menyapa sesama tamu yang hadir. Dan setiap kali, Si dia memperkenalkan perempuan itu kepada lawan bicara mereka.
Setiap. Kali.
Mereka tertawa bersama, kadang saling bertukar pandang sesaat di tengah percakapan.
Benar-benar serasi.

Saya memandang gaun Cavalli yang saya kenakan. Saya tahu, gaun ini begitu istimewa. Begitu mahal. Dan jatuhnya pun begitu sempurna di tubuh saya.
Tapi saya merasa begitu jelek.
Buruk rupa.
Murahan.
Sungguh berbeda dengan perempuan – siapapun itu – yang sedang berjalan bersanding serasi di sisi Si dia.
Sialan!

Saya benar-benar harus pergi dari sini.
Saya kalah telak.
Keberadaan perempuan itu begitu menguasai seluruh ruang yang ada antara saya dan Si dia.
Membakar saya dengan kemarahan atas kehadirannya yang begitu dominan.
Dan atas Si dia yang begitu takluk kepadanya.
Saya harus pergi!

Tepat saat itu, Si dia melihat saya.
Menghujam diri yang gelisah dengan tatapan tajamnya.

Shit.
Rasanya begitu se sak ..

Saya berbalik, melangkah pergi.
Melewati kerumunan orang dengan sedikit kasar.
Tak peduli umpatan para tamu yang sebal karena terbentur gerakan saya.
Tak peduli sang bankir memanggil nama saya dengan kebingungan.
I have to go somewhere.
Anywhere, but here!

Di sana. Di sana ada balkon. Ada udara segar.
Saya membuka pintu balkon dan melewatinya. Merasakan udara dingin mengusap kulit dan paru-paru.
Saya menghela nafas panjang, berusaha menenangkan diri.

“Are you okay?”
Fuck.
Saya kenal suara itu ..

Saya membalikkan badan perlahan dan menyaksikan mimpi buruk saya jadi kenyataan.
Si dia melangkah ke balkon, dan menutup pintu balkon di belakangnya. Menatap saya dengan seksama.
“Kamu terlihat pucat.”
“What are you doing here?”
“I just want to check if you’re okay. Kamu mendadak berbalik panik saat saya melihat kamu, and I was just worried.” Si dia menyahut.
Terdengar guratan kekhawatiran dan kebingungan dalam suaranya.
“I am OK. Now leave me alone.” Saya membalikkan badan, memunggungi Si dia.
Saya tak dapat menghadapinya sekarang.
Tidak .. tidak sekarang.

“Hey,” Si dia melangkah mendekati saya, menyentuh bahu saya.
“I said, leave me alone!” tukas saya marah.
Ya Tuhan. Saya terdengar lebih marah dari yang saya rasakan.
Saya bertindak lebih kasar dari yang saya inginkan ..

Dia mengerutkan kening. “Kamu kenapa sih?”
Saya menatapnya.
“OKAY! FINE! Saya akui, saya cemburu. Saya cemburu melihatmu dan perempuan itu. There. I admit it. Kamu puas sekarang?!”

Dia terdiam. Setengah terperangah.
Seolah terkejut dengan respon saya barusan.

“Siapa dia?! Pacar kamu yang nomor tiga?”
Dia menatap saya. Menggeleng pelan.
Saya tertegun.

“Goodness. I’ve been trying to make you jealous all week. Dan sekarang di saat saya sedang tidak berusaha membuat kamu cemburu, kamu malah cemburu?!”

Saya menatapnya. Diam.

“There have never been a third girlfriend.” Dia menggelengkan kepala, “She’s my wife.”

Saya tertegun. Lagi.
Perempuan itu istrinya?
Shit. She should have guessed it.

“Kamu cemburu padanya?” Dia memperhatikan saya.

Saya tidak menjawab.
Saya cemburu. Pada istrinya.
Tidak, saya tidak mau mengucapkan kata-kata itu.
Mengucapkannya sama saja membenarkan apa yang saya rasakan.
Memperkuat validitas atas sesuatu yang begitu absurd.

Cemburu pada istrinya hanya berarti satu hal.
Saya ingin diakui.
Saya ingin keberadaan saya dilegitimasi oleh Si dia di depan semua orang.

Gila! Semua ini tak masuk akal.

Saya tahu saya harus mundur.
Saya harus melangkah pergi sekarang, sebelum saya menyerah kalah.
Sebelum saya menjelma menjadi perempuan biasa yang membutuhkan pengakuan sebagai pendamping lelaki yang dicintainya.

“I should go.” Saya menggeleng, sengaja menghindari tatapannya.
Saya beranjak melewati Si dia, hampir tiba di pintu ketika tiba-tiba Si dia mencekal pergelangan tangan saya.
“Tinggalkan mereka.”
“Apa?” saya menatapnya, kaget.
“Tinggalkan semua lelaki yang bersamamu sekarang. Saya pun akan meninggalkan perempuan-perempuan itu. Jadi hanya akan ada saya, dan kamu.” ujarnya lugas.

Saya terdiam.
Shocked.

“You’ll be my only one, and I’ll your only one. How does it sound?”

Saya mengangkat kepala.
Memandang Si dia.
“It sounds great. But I will never be your only one. Kamu tahu itu kan?”

Giliran Si dia yang terdiam.

“Please don’t ask me to do something that you cannot do.”

Saya membalikkan badan.
Melangkah pergi.

[end of part 11]

previous part : 11.2 The Other(s)
next part : 12. The Aftermath

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s